
Cukup lama Alisya memeluk tubuhnya Kevin, ia seperti enggan untuk melepaskan pelukannya, rasa rindu yang telah lama terpendam, seakan tercurahkan, begitulah kira-kira apa yang di rasakan oleh Alisya pada saat ini.
Alisya terus membisikkan kata-kata rindu kepada Kevin, sedangkan Kevin dia sama sekali tidak menolaknya. dia hanya diam tanpa respon dan ekspresi apapun, Seakan Kevin sedang merasa bingung dengan apa yang terjadi pada saat ini.
Disisi lain, Aurel hanya bisa jadi penonton, tanpa bisa melarang ataupun menghentikan apa yang saat ini sedang dia saksikan di depan matanya.
Toni dan Tuti yang menyadari ada orang asing yang saat ini sedang memeluk tubuh menantunya, mereka merasa tidak rela dan hendak menghampiri dimana tempat Alisya yang masih memeluk tubuh Kevin dengan Erat.
Ketika langkah Toni dan Tuti semakin mendekat, Aurel memberi isyarat kepada kedua orangtuanya, dengan gelengan kepalanya, menandakan Aurel tidak mengijinkan kedua orangtuanya ikut campur kedalam urusan pribadi antara dirinya dan Kevin.
Toni dan Tuti yang faham akan maksud dari putrinya, dia mengurungkan niat untuk mendekat ke tempat dimana Kevin saat ini sedang bersama dengan Alisya. mereka justru berbalik melangkah menuju ketempat dimana Aurel sedang berdiri dengan tatapan nanarnya, Aurel seakan tak rela dengan apa yang sedang ia lihat di depan matanya.
Toni menepuk pundak putrinya, sedangkan Tuti dia menggenggam jemari putrinya, itulah cara mereka untuk menenangkan dan menguatkan hati putrinya.
"Nak, apakah kamu baik-baik saja?" Tuti bertanya kepada putrinya.
Aurel menganggukkan kepalanya, "Aku baik-baik saja Bu" Aurel memaksakan diri untuk tersenyum kepada kedua orangtuanya.
"Syukurlah kalau memang baik-baik, Ibu merasa sedikit lega mendengarnya"
"Hatiku yang saat ini sedang tidak baik-baik saja Bu." Tentu saja, hanya di dalam hati Aurel mengatakannya.
"Siapa gadis yang sedang bersama suamimu, Nak?" Toni bertanya kepada putrinya, ia penasaran dengan sosok wanita yang sedang bersama dengan menantunya itu.
Aurel menatap kedua orangtuanya secara bergantian, kemudian Aurel menjawab pertanyaan dari ayahnya, "Dia Alisya Pak, Dia itu adalah tunangannya A Kevin yang baru datang dari kota." Suara Aurel terdengar lirih.
Toni mengangguk-anggukan kepalanya, ia sudah mulai bisa memahami apa yang saat ini sedang terjadi. sedangkan Tuti semakin menguatkan genggaman tangannya, seaakan bisa merasakan rasa sesak yang saat ini sedang dirasakan oleh putrinya.
***
Alisya mulai melepaskan pelukannya, ia menatap lekat wajahnya Kevin. tangannya mulai menyusuri dan mengusap setiap inci dari wajah tunangannya itu.
Alisya menuntun Kevin untuk duduk di bawah pohon karet yang tak jauh dari tempat mereka berdiri saat ini. Kevin seperti kerbau yang di cocok hidungnya, ia menuruti saja apa yang di perintahkan oleh Alisya kepadanya.
__ADS_1
"Perasaan apa ini, siapa gadis ini? kenapa aku merasa bahwa aku sangat dekat dengannya, bahkan aku tak bisa menolak keinginannya" Batin Kevin.
"Kamu siapa?" kata pertama yang di ucapkan Kevin kepada Alisya.
Alisya memegang tangannya Kevin, kemudian berkata. "Aku Alisya mas, apa kamu tidak mengenaliku?"
Kevin menggelengkan kepalanya.
"Baiklah kalau mas Kevin belum bisa mengenaliku, perkenalkan aku adalah Alisya, Tunangannya mas Kevin." Alisya menatap matanya Kevin dengan sangat intens. kemudian dia mengulurkan tangannya kepada Kevin.
Kevin menyambut uluran tangannya Alisya, mendapat sambutan hangat dari Kevin, sebuah senyuman mekar dari bibir gadis cantik peranakan Jawa Prancis itu.
"Aku pasti bisa membuatmu kembali kepadaku mas, membuat kamu mengingat semua tentang kita" Alisya berkata kepada Kevin, dengan menyandarkan kepalanya di dada bidang miliknya Kevin.
"hmm, tapi aku sama sekali tidak mengenalimu." sahutnya.
Alisya mengeluarkan sebuah Handphone dari handbag miliknya, "Lihatlah mas, ini semua photo kita!" Alisya berkata sambil menyodorkan handphonenya kepada Kevin.
Kevin mengambil Handphone yang di tunjukkan oleh Alisya kepadanya, dia melihat semua photo di galeri album yang tersimpan di handphone tersebut. Terlihat banyak potret mereka berdua dengan berbagai pose, maksudnya Kevin dan Alisya. Kevin tidak bisa memungkiri kalau orang yang ada di dalam photo tersebut, wajahnya mirip dengan dirinya. Hanya saja mungkin gaya penampilannya saja yang berbeda.
Kevin menggeleng, "Maaf, tapi aku sama sekali tidak bisa mengingat apapun!"
Senyum di wajah Alisya berubah menjadi raut wajah kekecewaan, Alisya menatap mata Kevin, bersamaan dengan Kevin yang juga menatapnya. Kedua tatapan bentrok menjadi satu, Kevin Lagi-lagi merasakan ada getaran aneh pada hatinya, rasa yang sulit di mengerti olehnya.
"Mas, Tolong di Ingat-ingat lagi, barangkali mas bisa mengingatku walaupun hanya sedikit" Pinta Alisya.
Kevin menuruti permintaan Alisya, ia mencoba untuk mengingat-ingat, namun kepalanya malah merasakan sakit, Kevin memegang kepalanya sambil mengaduh kesakitan.
"Mas, kamu kenapa?" Alisya terlihat panik melihat kondisi Kevin yang tiba-tiba berteriak sambil memegang kepalanya.
Melihat kondisi Kevin yang seperti itu, Aurel yang sedari tadi hanya sebagai penonton saja, ia segera berlari untuk menghampiri Kevin. setiba di hadapan Kevin, Aurel pun bertanya sambil memeriksa keadaan suaminya.
"A Kevin, kamu kenapa, kamu baik-baik saja kan?"
__ADS_1
Baik pertanyaan dari Alisya ataupun Aurel, keduanya sama sekali tidak mendapatkan jawaban dari Kevin, Kevin masih mengaduh sambil memegang kepalanya, ia merasakan kepalanya terasa semakin sakit, kesadaran Kevin mulai hilang, ia tak sanggup menahan rasa sakit yang semakin menjadi, akhirnya tubuh Kevin limbung dan akhirnya ia pingsan.
Semua orang yang ada disana panik ketika melihat kondisi Kevin yang seperti itu. Alisya memutuskan untuk membawa Kevin kerumah sakit.
***
Pintu IGD mulai terbuka, terlihat beberapa perawat dan juga 2 orang dokter keluar dari ruangan tersebut.
"Keluarga pasien, mari ikut keruangan saya." Pinta dari salah satu dokter yang telah menangani Kevin.
"Baik Dok," Alisya dan Aurel menyahut secara bersamaan. Kemudian keduanya mengekor dibelakang dokter tersebut.
Tiba di sebuah ruangan ukuran 4m², baik Alisya maupun Aurel di persilahkan duduk oleh dokter tersebut. Dokter itu menatap ke arah Alisya dan Aurel secara bergantian. "Apakah salah satu dari kalian adalah Istri dari Pasien yang bernama Kevin?"
Aurel mengangguk, "Saya istrinya, Dok."
Alisya juga tidak mau kalah, "Saya Tunangannya, Dok."
Sontak saja, Sang dokter dibuat kebingungan dengan tingkah mereka berdua, yang sama-sama tidak mau mengalah, dokter paruh baya tersebut dia mulai tersenyum untuk menutupi kebingungan nya.
"Baiklah, Begini Bu." Dokter Fhadil mulai berbicara sambil memperlihatkan hasil pemeriksaannya. Dia melanjutkan ucapannya, "Berhubung pasien pernah mengalami benturan kepala yang sangat keras, sehingga mengakibatkan pendarahan otak yang cukup serius, maka pasien pada saat itu harus kehilangan sebagian dari memory ingatannya, oleh karena itu, mohon supaya tidak memaksakan pasien untuk mengingat hal yang sulit dicerna oleh ingatan pasien, karena akibatnya tentu akan sangat membahayakan dan bisa saja mengancam kesehatan bahkan nyawa dari pasien tersebut."
Dokter Fhadil bercerita dengan panjang lebar, Alisya dan Aurel keduanya memperhatikan dengan seksama, apa yang di ucapkan oleh dokter tersebut. Kemudian Dokter Fhadil melanjutkan lagi ucapannya, "Jadi, demi untuk keselamatannya pasien, saya harap Ibu jangan terlalu memaksakan pasien untuk mengingatnya, Kalaupun mau mengingatkan itu harus dilakukan secara Perlahan-lahan." Dokter Fhadil menjeda ucapannya, kemudian ia melanjutkan. "Baiklah, Barangkali ada yang mau di tanyakan?"
Aurel menggeleng, "Saya mengerti, Dok."
Sedangkan Alisya bertanya kepada dokter dengan tatapan nanar penuh harap, "Apakah bisa di sembuhkan, Dok?" Alisya meralat pertanyaannya, "Eh, maksud saya, Apakah mas Kevin bisa mengingat semuanya kembali dalam waktu yang cepat?"
Dokter Fhadil terlihat menarik nafas panjang, kemudian mulai menghembuskannya secara perlahan, sebelum mulai menjawab pertanyaan Alisya.
"Sepertinya akan sulit dan akan butuh waktu yang lama tentunya, untuk bisa mengembalikan ingatan pasien secara keseluruhan, itu semua dikarenakan pasien mengalami hilang ingatan secara total, pasien sama sekali tidak mengingat apapun, bahkan dirinya sendiri."
"Apa tidak bisa di usahakan Dok, misal dengan pemulihan jenis terapi atau sejenisnya?" Alisya mengajukan pertanyaan lagi kepada Dokter Fhadil, ia masih belum puas dengan hasil dari analisis Dokter.
__ADS_1
"Mungkin bisa dicoba, Bu!" Dokter Fhadil kembali menarik nafas sebelum melanjutkan ucapannya, "Namun untuk hasilnya, itu kembali lagi kepada pasien dan juga kepada Sang Maha Pemilik, beliaulah Sang Maha Menyembuhkan, jadi saya sarankan untuk selalu berdoa dan mendoakan untuk kesembuhan pasien."