
Marvin melangkah terseok keluar dari rumah orang tuanya, merasakan tubuhnya yang terasa remuk redam akibat siksaan sang Daddy, jika bukan karena Mommynya dia ingin melawan, Marvin sudah muak hidup dalam ancaman pria itu, dulu Marvin di paksa menikah dengan Monica karena harta sang kakek yang akan di serahkan pada Monica sepenuhnya jika Marvin tidak bersedia.
Hari itu, Marvin berusaha menolak agar bisa bersama Aurora, namun Daddynya tidak bisa merelakan semua harta keluarganya jatuh ke tangan keluarga Monica.
Marvin bahkan sudah berjanji akan bekerja keras, meski tidak dengan harta kakeknya mereka masih bisa hidup bahkan tanpa kekurangan, namun sang Daddy tetap serakah dan tak mau melepaskannya, meski sejak awal Kakeknya sudah menjelaskan jika semua itu sebenarnya bukan milik mereka.
Marvin menghentikan langkahnya saat melihat seseorang berdiri di depannya.
"Apa yang terjadi?" tanyanya dengan heran saat melihat Marvin berjalan membungkuk juga ada darah di sudut bibir pria itu.
"Sedang apa kau disini?" tatapan Marvin berubah waspada.
"Kamu belum menjawab, apa yang terjadi?" Monica akan menyentuh bibir Marvin yang berdarah, namun Marvin mencegahnya.
Ya, gadis di depannya adalah Monica "Kau mengikutiku?" Monica mengangguk dan dengan cepat Marvin menyeret Monica ke arah mobilnya sebelum Daddynya melihatnya.
Marvin melajukan mobilnya dengan cepat keluar dari pelataran rumah orang tuanya.
Tak ada pembicaraan sampai Marvin memarkirkan mobilnya disebuah gedung apartemen, Marvin keluar dan segera menarik Monica untuk keluar dan mengikutinya menaiki lift hingga tiba dimana unitnya berada, Marvin menekan beberapa angka hingga pintu terbuka..
"Duduklah tunggu disini.." Monica duduk di sofa di ruang tamu sedangkan Marvin pergi kearah kamarnya.
Menunggu Marvin, Monica mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru apartemen.
Monica berjalan kearah nakas dimana ada foto- foto Marvin sejak kecil hingga dewasa, sebagian lagi tertempel di dinding "Ternyata dia sudah tampan sejak kecil, lucu sekali.." namun Monica mengeryit saat tak melihat Daddynya disana, dia hanya melihat Marvin bersama Mommynya.
Monica menghela nafasnya sudah setengah jam dia disana tapi Marvin belum juga keluar dari kamarnya.
Monica bangun dan berniat melihat apa Marvin ketiduran yang benar saja dia di tinggal sendiri.
Monica berniat mengetuk pintu saat tiba di depan kamar yang tadi di masuki Marvin, namun saat mendengar suara ringisan Monica mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu dan memilih membukanya langsung.
Monica tertegun saat Marvin menoleh dan melihat kearahnya.
Marvin menghela nafasnya "Kenapa masuk, aku menyuruhmu tunggu di luar bukan!"
"Apa yang terjadi padamu, ke..kenapa dengan punggungmu?" Monica berjalan mendekat lalu menyentuh punggung Marvin yang di penuhi luka.
Marvin mendesis "Jangan di sentuh.."
"Maaf, apa itu sakit?"
__ADS_1
Marvin mendengus, tentu saja sakit, bayangkan saja di cambuk dengan tenaga kemarahan.
Monica berkaca- kaca melihat punggung Marvin penuh dengan luka.
Monica mengambil kotak obat di tangan Marvin dan mulai mengobati luka Marvin, Marvin meringis saat merasakan cairan anti septik di atas lukanya.
Marvin tertegun mendengar isak tangis Monica di belakang punggungnya, Marvin hanya diam kini rasa sakitnya bukan dari luka yang dia dapatkan, tapi dari gadis yang kini menangis di belakangnya, kenapa mendengar Monica menangis rasanya begitu sakit.
"Kenapa menangis?"
"Tidak tau.. hiks.. tapi melihat mu sakit kenapa aku jadi ingin menangis"
Marvin berbalik dan melihat Monica menunduk mengusap air matanya.
"Mo, maafkan aku.." Marvin menangkup pipi Monica, entah bagaimana caranya dia bicara yang sebenarnya.
"Kenapa minta maaf.."
"Karena membuatmu menangis" bahkan mungkin nanti kamu akan terluka.. Marvin hanya mampu melanjutkannya dalam hati, Marvin meraih tubuh Monica lalu memeluknya. "Aku mohon jangan menangis karena aku.."
"Harusnya aku yang minta maaf, aku mengikutimu diam- diam.. karena penasaran.." Marvin mengurai pelukannya, dan mengeryit.
Monica mengangguk "Aku ingin tahu dimana rumahmu, jadi.."
"Ah, iya selama ini kamu bahkan tak tahu tentang aku.." Monica mengangguk membenarkan.
Marvin memejamkan matanya, lalu menghela nafas "Mo, kau ingin tahu alasanku tidak ingin bercerai.."
"Karena aku tak gendut lagi.." Marvin terkekeh, lalu mengusap pipi Monica, yang masih basah.
"Aku tahu kamu tidak akan percaya bukan jika aku bilang aku menyukaimu sejak dulu.." Marvin berjalan ke arah lemari dan membuka sebuah berangkas di dalamnya, Monica mengeryit saat melihat sebuah amplop coklat di depannya.
"Apa ini?"
"Bukalah.."
Monica membuka amplop cokelat tersebut, dan membelalakan matanya saat melihat isi di dalamnya "Ini.."
Monica melihat satu persatu fotonya saat gendut hingga sekarang, dan itu semua adalah kesehariannya, selam tiga tahun ini, saat menjalani diet, dengan instukturnya, kuliah, olah raga dan pergi bersama teman- temannya dan foto- foto itu sangat banyak "Kau..?" Monica menatap Marvin tidak percaya.
"Aku tahu semuanya Mo, semua tentang mu dan keseharianmu"
__ADS_1
Monica terdiam seolah menunggu perkataan Marvin selanjutnya "Aku mengawasimu sejak tiga tahun lalu.. awalnya aku terkejut saat pertama kali bertemu denganmu, tapi aku menyadari tidak selamanya aku akan membiarkanmu, apalagi tahu jika pria sialan itu mulai gencar mendekatimu, lalu melihat gugatan ceraimu, aku semakin meneguhkan hatiku.."
"Tapi David..?"
Marvin terkekeh "Aku tidak mempercayainya.. maaf, tapi David adalah asisten yang di berikan ayahku.. jadi aku harus tetap diam meski aku ingin datang.. jadi saat aku bertemu aku memanfaatkan keadaan, dan pura- pura tidak mengenalimu"
Monica mengeryit bingung dengan apa yang Marvin katakan "Apa maksudmu, aku.. tidak mengerti perkataanmu sangat rumit."
"Jadi sejak awal kau tahu siapa aku, dan tidak lupa jika memiliki istri"
Marvin mengangguk "Aku bahkan tahu setiap hal kecil, kapan kau akan olah raga, jam makan, jadwal kuliah dan pergi ke makam Daddymu dan Alexa bahkan aku tahu jadwal datang bulanmu" Marvin terkekeh.
"Kau suka bunga hingga membuat taman bunga di belakang rumah, dan perkebunan anggur itu aku sengaja membelinya.."
"Karena tahu dekat dengan milikku.." Marvin mengangguk.
"Astaga.." Monica mendesah "Aku benar- benar terkejut.. apa aku harus merasa senang?"
Marvin tersenyum dan menghapus air mata Monica "Tapi bagaimana kau bisa tahu, semuanya.. kau menguntitku"
"Bukan kejahatan menguntit istriku sendiri bukan?" Monica meneluk Marvin dan Marvin membalas pelukan Monica.
"Maafkan aku, aku tidak tahu, dan sangat membencimu selama ini.."
Monica menangis haru, dia tidak menyangka Marvin melakukan semua itu.. namun kenapa melakukannya diam- diam, kenapa tidak datang saja secara langsung padanya.
Marvin mendesis saat Monica mengeratkan pelukannya, Seketika Monica tersadar bahwa Marvin sedang terluka.. "Maafkan aku, lukanya tertekan?" Monica melepas pelukannya dan menatap Marvin dengan khawatir.
Marvin menggeleng, lalu kembali memeluk Monica "Tidak aku suka di peluk oleh mu.."
Monica menghela nafasnya "Lalu, bagaimana dengan lukamu ini, kenapa kau bisa mendapatkannya, siapa yang melakukan ini padamu..?"
Marvin ,memejamkan matanya tangannya masih memeluk Monica, dia tetap harus menjelaskannya bukan?
"Mo jika aku bercerai denganmu harta milik keluarga ku akan jatuh padamu, bukan hanya separuh, tapi semuanya."
Monica tertegun, lalu sebuah pemikiran terlintas di kepalanya. "Jadi karena itu kamu tidak ingin bercerai? bukan karena menyukaiku..?"
....
Ciluk Baa...
__ADS_1