
Sepenjang Marvin di obati Monica terus menangis dan menggenggam tangan Marvin, Marvin yang di olesi antiseptik namun Monica yang meringis.
"Aku baik- baik saja Mo, berhentilah menangis.." sekilas Marvin melihat ke arah dokter yang sedang mengobatinya, dari sekian banyak rumah sakit mengapa harus rumah sakit ini. Dan dari sekian banyak dokter kenapa harus Aurora yang mengobatinya.
Luka Marvin tidak terlalu parah, dia hanya terkejut dan reflek meloncat saat Mobil menabraknya, dan hanya luka kecil saja karena Mobil sempat mengerem dan mendorong tubuhnya pelan.
Monica masih menangis, dia trauma saat melihat Ayah dan Alexa kecelakaan Mobil dan merenggut nyawa keduanya, lalu kini dia melihat Marvin tertabrak Monica seketika mengingat kejadian lalu.
Aurora menipiskan bibirnya berusaha sekuat tenaga mengenyahkan rasa panas dalam dirinya apalagi melihat Marvin menenangkan Monica, dan Aurora semakin dilanda cemburu mana kala melihat Monica ternyata memang punya wajah yang menawan dan cantik.
Marvin tersenyum dan menghapus air mata Monica, lihat siapa yang sok kuat ingin bercerai tapi begitu takut sesuatu hal buruk terjadi padanya.
Tapi meski begitu Marvin boleh berbangga diri bukan, karena Monica benar- benar mencintainya, bolehkah dia berubah pikiran tentang kata- katanya untuk melepaskan Monica.
"Kau berlebihan nyonya.. " Monica mendongak melihat dokter wanita yang sedang merapikan peralatannya.
"Marvin baik- baik saja ini hanya luka kecil.."
Monica melihat ke arah Marvin "Kau mengenal Marvin?" Marvin menghela nafasnya.
"Lebih dari yang kau kira" Aurora menyeringai.
Marvin menatap tajam pada Aurora yang seolah punya rencana licik.
"Kau seperti anak kecil Marv, bisa- bisanya terserempet mobil.."
Monica semakin menekuk alisnya, saat Marvin diam saja.
"Sudah selesai bukan?" Tanya Marvin yang bangun dari baringannya.
__ADS_1
Saat Monica akan membantu Marvin Aurora bergerak lebih dulu dan Marvin tak menolak dan berpegangan pada Aurora untuk bisa berdiri.
"Perlu ku antar hingga ke mobil?"
Aurora menatap khawatir.
"Tidak terimakasih.."
Marvin berjalan terpincang ke luar dari ruangan periksa, dia bahkan meninggalkan Monica yang masih terpaku di tempatnya.
"Jadi kau Monica?" Monica melihat dokter cantik di depannya sedang menyilangkan tangannya di depan dada.
"Ya.."
Aurora mengulurkan tangannya "Aku Aurora.." Satu kata yang membuat Monica tertegun, dia pernah mendengar nama itu tapi di mana?
"Kekasih Marvin, ya.. sebelum Marvin di jodohkan dan di paksa menikah.."
.
...
Monica masih ingat beberapa menit lalu saat Aurora menatapnya dengan tatapan benci.. bagaimana pun.. karena dia lah yang masuk dalam hubungan keduanya, jadi pantas saja Aurora membencinya.
Monica melihat Marvin yang masih berdiri di sebelah mobilnya, lalu segera menghampirinya "Aku kira kau sudah pergi.."
"Aku akan bagaimana, tadi kau yang membawaku, jadi seharusnya kau juga mengantar ku pulang.."
Monica mencebik "Harusnya kau minta bantuan pada dokter cantik itu"
__ADS_1
Monica membuka pintu dan membantu Marvin untuk masuk.
"Untuk apa dia mengantarku, dia itu dokter dan sangat sibuk"
Monica memasuki mobil dan akan melajukan mobilnya sebelum Marvin berkata "Aku belum mengenakan safety belt ku"
Monica melihat Marvin, sikut Marvin memang terluka dan dia akan sedikit sulit menggerakan tangannya, sedikit saja kan? kenapa tidak bisa menahan dan melakukannya sendiri, lalu Monica mencondongkan tubuhnya ke arah Marvin dan memasangkan safety beltnya.
Sepanjang Monica melakukan tugasnya Marvin tak melepas tatapannya dan terus memperhatikan wajah cantik istrinya yang sebentar lagi akan menjadi mantan istrinya.
"Mo.." Monica mendongak dan menyadari jika kini posisi mereka sangat dekat, lalu dengan cepat Monica menyelesaikan pekerjaannya kemudian menarik diri.
"Ya..?"
"Kau ingin tahu siapa dokter itu?"
Monica membasahi bibirnya "Dia Aurora bukan..? kekasihmu"
Marvin menggeleng "Hubungan kami sudah berakhir, jadi dia bukan kekasihku.."
"Tapi sepertinya dia masih berharap.." Monica memalingkan wajahnya tak dapat di pungkiri rasa cemburu merasuki hatinya, meski Marvin terkesan acuh dan hanya menerima bantuan saat Aurora membantunya berdiri, namun tatapan Aurora pada Marvin yang penuh cinta membuat Monica merasa bukan tidak mungkin mereka kembali bersama.
"Entahlah.."
Monica menghela nafasnya, lalu mulai melajukan mobilnya, Marvin seolah menggantung jawabannya, dan membiarkan Monica menyimpulkan nya sendiri, tapi bukankah itu bukan ranahnya apalagi saat dia sendiri yang memutuskan ingin bercerai.
"Selama ini kamu dimana?" tanya Marvin. Harusnya sejak tadi dia bertanya namun saat melihat Monica, yang terpenting baginya saat itu adalah Monica ternyata baik- baik saja.
"Aku.."
__ADS_1
"Kau tahu, aku mencarimu ke seluruh New York, tanpa terlewat satu titik pun."
...