
Marvin meletakkan berkas di depan Stevan, hingga Stevan mendongak melihat Marvin.
"Kau dengan mudah mendapatkannya?"
"Aku membayarnya dengan mahal.."
Stevan terkekeh, "Tak masalah.. masih banyak wanita lain di luar sana.." Marvin berdecak.
"Sekarang tepati janjimu.." Marvin meletakan satu lagi berkas di depan Stevan.
Stevan mengernyit saat melihat berkas perceraian "Kau yakin ingin aku berpisah dengan Mommymu.."
"Kau berjanji melepaskan kami.."
Stevan mengangguk "Mommy mu sangat mencintaiku, apakah kau yakin dia bisa hidup tanpaku?"
Marvin terkekeh "Akan ku pastikan dia tidak mengingatmu, bukankah masih banyak pria di luar sana?"
Stevan terdiam saat kata- katanya di kembalikan Marvin.
"Baiklah.." Stevan menanda tangani surat cerainya dengan Hilda, dan Marvin menghela nafasnya lega, setidaknya dia dan Mommynya juga terbebas.
"Jika kau menyesal aku akan membuka tanganku lebar- lebar.."
Marvin tersenyum "Tidak terimakasih" Marvin pergi meninggalkan Stevan dengan membawa dokumen perceraian Stevan dan Mommynya sudah saatnya dia memulai hidup baru tanpa tekanan Stevan.
...
Marvin memasuki Apartemennya dimana seorang wanita paruh baya menyambutnya..
"Kau sudah pulang, mana istrimu.. kau bilang akan mengajaknya.." Marvin menunduk dia berjanji pada Mommynya akan membawa Monica dan akan memulai hidup baru bersama, namun nyatanya Marvin tidak bisa membawa Monica..
"Dia ingin bercerai Mom.." bahu Marvin bergetar "Aku sungguh mencintainya Mom.. tapi aku juga bersalah padanya.." Hilda tertegun lalu tangannya bergerak untuk memeluk Marvin.
Mereka berpisah dengan kondisi yang berbeda, Hilda yang berpisah dari Stevan untuk kebebasannya, sedangkan Marvin berpisah untuk kebahagiaan Monica.
...
__ADS_1
Marvin sudah mengatur semuanya dan akan pindah dari apartemennya, memulai hari baru bersama dengan Mommynya yang tadinya juga akan bersama Monica namun Monica memilih bercerai, memang siapa yang mau hidup dengan pria jahat macam Kau.. gumamnya.
Marvin melihat ke arah ranjangnya dimana dia dan Monica memadu kasih untuk pertama kalinya, lalu menghela nafasnya, ini baru beberapa hari tapi dia sudah merindukan Monica, bagaimana jika harus berpisah selamanya.
Marvin menghentikan gerakannya memasukan barang- barangnya ke dalam koper saat Mommynya mengetuk pintu dan masuk "Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu.."
Marvin mengeryit dan berjalan keluar kamar untuk melihat siapa yang datang..
"David?" David tersenyum dan mengangguk.
"Apa kabar tuan..?"
"Aku bukan tuanmu lagi.." Marvin mendudukan dirinya, dia sudah berhenti dari perusahaan dan akan menghentikan segala sesuatu yang berhubungan dengan Stevan, termasuk keluar dari perusahaan.
Hilda datang dan menyajikan minuman untuk David "Tidak perlu repot Nyonya.."
"Tidak apa Dav hanya minuman.. lanjutkanlah aku pergi.."
David menghela nafasnya "Saya berhenti dari perusahaan tuan.." Marvin mengangkat alisnya. "Maafkan saya atas apa yang saya lakukan.. sejauh ini saya hanya melaporkan apa saja kegiatan tuan tanpa mengatakan tentang nyonya Monica.." Marvin tahu karena daddynya tidak tahu tentang kondisi Monica sekarang, yang tidak gendut lagi.
"Jadi..?"
"Aku bukan seorang pemilik perusahaan sekarang.."
"Saya tahu, tapi saya yakin anda sudah menyusun segala sesuatunya dengan cermat.. anda tidak mungkin membuat orang yang anda sayangi kelaparan.."
Marvin mencebik "Jadi kau ingin menjadi bebanku begitu.. aku tak butuh asisten.."
David tersenyum.. "Dan kau bukan orang yang aku sayangi.." dan senyum di wajah David pun surut..
"Tuan, benarkah anda bercerai dengan nyonya?" Marvin diam dan menghela nafasnya.
"Pergilah Dav, kembali bekerja di perusahaan.."
"Saya sudah bilang, kalau saya sudah mengundurkan diri tuan.."
Marvin kembali ke kamar untuk mengemas pakaiannya "Mom, aku bisa melakukannya sendiri.." Marvin melihat Hilda sedang mengemas pakaiannya.
__ADS_1
"Tidak apa, lagi pula pakaian Mom sudah selesai di kemas.."
...
Marvin membawa mommynya tinggal di kota yang baru, dan sudah menyiapkan semuanya dengan sempurna, rumah, kendaraan dan pekerjaan untuknya, Marvin diam- diam sudah mendirikan perusahaan meski bergerak dari bawah juga membeli beberapa kebun anggur, selain untuk berdekatan dengan Monica, Marvin juga mempersiapkan hidupnya yang ingin lepas dari jerat sang Daddy, mengingat Monica, Marvin tersenyum bagaimana kabar istrinya itu..
Ya, istri. karena sampai kapanpun Marvin tidak akan pernah membiarkan Monica lepas darinya,bercerai..? mimpi saja. "Aku akan melihatmu setiap saat kapanpun aku inginkan.." Marvin tersenyum saat mengingat bahwa tidak ada niatnya sedikitpun untuk menceraikan Monica.
"Rumahnya bagus Marv.." Hilda mengedarkan pandangannya ke sekitar dan perabot rumah sudah tertata rapi di sana.
"Disini juga dekat dengan perkebunan anggur Mom, milik kita.."
"Oh ya?"
"Ya, aku baru selesai merenovasi vila nya, dan Mom bisa pergi ke sana sesekali, melihat pabrik anggur kita.."
"Jadi ini alasan kamu membeli rumah disini, agar dekat dengan pekerjaanmu?"
"Ya, salah satunya.."
Hilda mengerutkan keningnya "Salah satunya, berarti ada hal yang lain?"
Marvin mengangguk "Menantumu ada tepat di sebrang vila kita.."
Hilda menutup mulutnya "Sungguh?"
"Hmm.. tapi sepertinya dia belum sampai disini.."
"Baiklah, Mom akan kesana nanti, sambil melihat kebun anggur.."
"Hmm.. nikmati waktumu Mom.."
Marvin memasuki kamarnya dan meletakkan kopernya, dari sana dia akan mulai hidup barunya, lepas dari Stevan dan mengejar Monica.
Monica memang masih berada di rumah mereka, namun Marvin yakin Monica akan pergi dan tinggal di pondok, seperti katanya Monica akan tinggal di sana jika bercerai, karena itu Marvin membeli rumah yang sedikit berjarak dari perkebunan, agar bisa mengawasi Monica tanpa Monica tahu, dan Marvin akan mengejarnya, kali ini dengan caranya dan bukan mengandalkan perjodohan..
Marvin akan memberikan waktu untuk Monica sebanyak yang dia mau, tapi Marvin tidak akan menceraikannya sampai kapanpun, dan dia yakin mereka akan kembali bersama.
__ADS_1
...