
"Kita bisa terlambat makan malam kan..?"
Marvin mendesah kesal "Mo, tinggallah bersamaku.."
Monica mengerutkan keningnya "Mo.. ayo mulai dari awal, lupakan kesempatan tiga bulan ini, aku akan membahagiakanmu, tapi aku mohon jangan bercerai.. "
Monica tersenyum "Aku menyukai kamu Marv, sejak pertama melihatmu, tapi aku sadar aku ini tidak punya pesona apapun, lalu aku berjuang keras untuk menurunkan berat badanku, ya.. meskipun aku juga tidak bisa menarik kamu datang.."
"Kamu tahu sesuatu?"Marvin memotong ucapan Monica "Aku ingin marah saat kamu bahkan mengabaikan kesehatan kamu demi menjadi kurus, tapi aku tidak bisa melakukan apapun, karena saat aku datang maka Daddy akan memintaku membawa dokumen pengalihan kepemilikan.."
"Maaf, karena aku menjadi pengecut, tapi aku juga tidak mau membuat kakek sedih jika terjadi sesuatu padamu.."
"Terimakasih sudah menyukaiku Mo."
Monica tersenyum haru, apa yang Marvin lakukan untuk dirinya, hanya saja Marvin tidak tahu jika apa yang dia lakukan membuat hati Monica sedikit kecewa, ah.. sepertinya tidak sedikit, tapi lebih banyak kecewa karena dia mengira sampai kapanpun Marvin tidak akan pernah melihatnya.
"Jadi, mau pergi makan malam atau tidak..?" Marvin terkekeh lalu menggandeng tangan Monica keluar apartemennya.
Marvin membawa Monica ke sebuah restoran mewah da menyewa ruang VIP agar bisa menikmati waktu berdua, musik dari seorang pianis mengalun indah mengiringi makan malam romantis mereka.
Tak lupa meja yang sudah di hias begitu indah dan membuat Monica terkagum dengan dekorasi ruangan tersebut.
"Kenapa tidak makan dirumah jika hanya kita berdua saja.."
"Itukah yang ingin kamu ucapkan saat matamu berbinar penuh kagum?" Monica tersipu, ternyata Marvin tahu jika dia menyukai acara makan malam yang ternyata dibuat sangat romantis "Ayo makan, setelah itu akan ada sesi berdansa.."
__ADS_1
"Haruskan kita berdansa dulu sebelum makan? aku mungkin akan kekenyangan jika makan dulu melihat makanan yang banyak pasti aku makan dengan kalap" Monica menatap makanan di meja yang sudah terhidang dan sangat mengiurkan, Marvin benar- benar tahu seleranya.
Marvin terkekeh "Tidak. makanlah dulu, lagi pula kita masih punya banyak waktu.. aku akan menunggu hingga makananmu turun dan tercerna.."
Monica tersenyum lalu memulai makannya, dia sungguh lapar.
Tak menghiraukan Marvin, Monica makan dengan lahap, dan dia yakin besok dia harus olah raga untuk membuang semua makanan yang dia makan malam ini.
Marvin benar- benar mengajaknya berdansa, memperlakukan Monica sangat lembut dengan tangan yang melingkar di pinggang Monica, mereka berdansa begitu intim, tangan Monica yang melingkar di leher Marvin mengusap ujung rambut Marvin dan sesekali Marvin memberikan kecupan di dahi Monica membuat Monica tersipu.
Perasaan bahagia merasuk ke hati Monica, diperlakukan begitu lembut membuat Monica serasa istimewa.
Benar memang dia sempat ragu dengan Marvin, namun kini saat Monica berada di jarak sedekat ini dengan Marvin, dimana di pantulan mata pria itu di sana hanya ada dirinya, dan menatap nya dengan penuh cinta, membuat Monica menyadari bahwa Marvin saat ini hanya memikirkannya.
"Hum?"
"Ayo kita melakukannya.." Monica menatap Marvin yang mengeryit bingung.
"Aku ingin melakukannya denganmu.."
Marvin masih terdiam dia sedang mencerna apa yang di katakan Monica, hingga Monica sedikit berjinjit untuk mendekat dan menyeimbangkan tubuh mereka lalu mencium bibirnya dengan pelan lalu menggebu, meski ritme nya kacau tapi Marvin menyukai ciuman Monica, dan sepertinya Monica sedang menggodanya, saat itu barulah Marvin mengerti arti kata dari 'Melakukannya' yang di katakan Monica, sebenarnya Marvin bisa saja langsung menjawab hanya saja mengingat Monica yang sejak awal tidak menginginkan sentuhannya maka Marvin tidak berpikir ke arah sana, Marvin tidak masalah dia akan menunggu Monica dan tidak menyangka Monica akan menyerah secepat ini.
Tangan Marvin yang melingkar di pinggang Monica mengerat dan merapatkan tubuh mereka, Marvin membalas ciumannya dengan pelan dan membawa Monica merasakan ciuman yang sesungguhnya, pelan.. lembut.. dan membuai..
Nafas keduanya terengah saat Marvin melepas ciuman mereka "Kau yakin?"
__ADS_1
Monica hanya mengangguk dengan wajah merah, nyatanya dia masih membutuhkan pasokan udara untuk paru parunya.
Marvin terkekeh lalu mengusap bibir merah Monica yang kini semakin memudar akibat ciumannya "Jangan terburu- buru Mo, aku tidak mau kamu menyesalinya.."
Monica menggeleng "Harusnya ini terjadi sejak dulu bukan? aku memang bukan istri yang baik.."
"Tidak Mo, kamu istri yang terbaik.. akulah suami brengsek yang tidak tahu diri.." Marvin memeluk Monica erat seolah menyalurkan perasaannya.
"Dan bukan kesalahanmu jika kita tidak melakukannya, itu karena aku.. aku yang bersalah.. maafkan aku Mo.."
"Jadi kita bisa melakukannya sekarang?" Monica mendongak.
"Haruskah kita pulang sekarang?"
"Kau jadi seperti gadis mesum, kau tahu?"
Monica memerah "Jika aku mesum, lalu apa ini? aku merasakan sesuatu yang mengeras di bawah sana"
Marvin mengeram saat Monica merapatkan tubuh mereka dan dapat Marvin rasakan tubuh Monica menekan miliknya..
"Astaga.. Monica.."
...
Maafin ya, sejak kemarin aku sakit.. jadi gak sempat ngetik, sekarang juga masih kerasa lesu bawaannya pengen tidur aja.
__ADS_1