
Monica melihat sekitarnya pantai yang berombak dan pasir pantai yang putih, terasa di kakinya.
Monica tersenyum saat merasakan angin berhembus menerpa rambutnya yang dia potong sepundak, sejak menginjakan kaki disana satu bulan lalu Monica merubah gaya rambutnya agar lebih segar.
Ya, sudah satu bulan Monica tinggal di sana.. dan berusaha keras melupakan Marvin, namun bukannya lupa Monica justru semakin mengingat pria itu.
Awalnya Monica hanya akan berlibur selama satu minggu, namun kenyataan bahwa dia belum bisa melupakan Marvin membuatnya memilih tinggal lebih lama, lagipula bagaimana bisa cinta yang selama tiga tahun melekat bisa terlupakan dalam waktu satu minggu, bahkan Marvin tak menemuinya selama tiga tahun itu, namun Monica tetap menjaga perasaannya hanya untuk suaminya.
Lalu sekarang Monica ingin lupa agar hatinya tak lagi sakit, tapi sangat sulit, dan meski sudah pergi selama satu bulan ini Monica malah merasa rindunya semakin dalam.
"Masih ingin disini?" Monica melihat ke arah Andrew yang baru datang beberapa hari ini "Sudah semakin sore dan angin pantai tak baik untuk kesehatanmu.."
Monica tersenyum lalu menghampiri Andrew "Baiklah ayo pulang.."
Andrew melajukan mobilnya kembali menuju vilanya yang selama satu bulan ini di tinggali Monica, dulu Andrew juga tinggal di sana untuk mengubur kenangannya dengan Alexa, namun tetap tak bisa dan sekarang Monica juga tinggal disana namun dia juga tak bisa lupa suaminya, apakah vila itu punya kutukan, tidak bisa melupakan kekasih jika tinggal disana, Andrew tertawa geli, bagaimana bisa pemikiran itu terlintas begitu saja.
"Kau tertawa? ada yang lucu..?" Monica memiringkan kepalanya.
"Tidak aku berpikir vila ku punya kutukan,"
"Kutukan?"
__ADS_1
"Nyatanya kita tidak bisa melupakan kekasih kita bukan..?" dan dia juga belum bisa melupakan Alexa, meski sudah tiga tahun wanita itu tiada, Andrew tidak tahu tentang kematian Alexa yang di sengaja, dia akan mengubur semuanya dalam- dalam, Monica memilih diam dan menyerahkannya pada hukum alam, semoga Stevan mendapat balasan atas keserakahannya, lagipula Monica ingin Alexa dan Ayahnya beristirahat dengan tenang, lagi pula dia tidak punya bukti kuat tentang itu.
Monica tersenyum kecut, bagaimana dia bisa lupa sedangkan bagian dari Marvin melekat jelas dalam dirinya.
"Aku rasa begitu.."
Andrew terkekeh "Mau aku carikan tempat baru, agar kau bisa lupa, tapi bagaimana bisa lupa jika kau terus membawanya."
"Kau pikir yang ku bawa sebuah barang.."Andrew semakin tertawa.
Monica mencebik, setelah mengenal lebih jauh dengan Andrew ternyata Andrew pria yang juga suka bercanda dan ceria, pantas Alexa bisa jatuh cinta pada pria itu.
"Kita jauh- jauh datang ke Brazil tapi kita tetap di tempat yang sama"
"Kapan kau akan pulang?"
"Apa aku perlu menyewa vila mu saja?"
Andrew terkekeh "Aku tidak bermaksud mengusirmu Mo, hanya saja tidak baik lari dari masalah terlalu lama.."
"Aku tidak lari, aku hanya ingin menenangkan hati.."
__ADS_1
"Berapa lama?"
"Entahlah.."
"Sampai perutmu membuncit?"
Monica menunduk menatap perutnya, benar sekali dia sedang mengandung anaknya dan Marvin, tidak disangka doa Marvin terkabul, dan dia benar- benar mengandung benihnya dengan usia kandungan 5 minggu.
Tapi sekarang malah semakin rumit, di saat dia memutuskan perceraian nya malah tumbuh hal baru, bagaimana dengan anaknya kelak.
"Jangan berfikir untuk menyembunyikannya seperti cerita di novel, lalu datang setelah anakmu besar"
Monica mencebik, dia belum siap bertemu Marvin, dia takut jika bertemu pertahanannya selama ini akan runtuh, sia- sia dia pergi selama ini jika dengan satu kali menatap Marvin saja dia pasti ingin memeluknya.
"Jadi kapan kau akan kembali?"
"Aku yakin bayimu juga ingin bersama dengan ayahnya.." Andrew terkekeh.
"Selesaikan kesalah fahaman kalian, dan hiduplah dengan bahagia Mo.."
Yang Andrew tahu dia dan Marvin hanya salah faham, namun lebih dari itu Monica menutup hatinya untuk memaafkan pria itu.
__ADS_1
...
Terimakasih yang masih setia😘