Istriku Tak Gendut Lagi

Istriku Tak Gendut Lagi
Berpisah..?


__ADS_3

Flashback..


"Daddy ingin apa lagi?"


"Serahkan semuanya!"


"Apakah nyawa mereka tidak cukup, masihkah harus membunuh Monica.." Tiga hari ini Marvin bahkan harus berusaha menghentikan Daddynya yang ingin melenyapkan Monica.


"Ayah dan Kakaknya bahkan tak tahu apapun, apakah masih belum cukup!."


"Aku bahkan harus menutupi semuanya dan hanya berdiam diri!"


"Itu karena kau tidak membiarkan Monica ikut dengan mereka..!"


"Apa kau benar- benar seorang manusia?"


Saat itu Marvin tak tahu jika Monica mendengar semua perkataan mereka, dan segera pergi sebelum Marvin menyadarinya, sedangkan Marvin masih berdebat dengan Stevan..


"Baiklah.. jika aku berhasil membuat dokumen pengalihan, kau harus melepaskan kami.. termasuk Mommy.."


Daddy Marvin mendengus "Kau rela meninggalkan kemewahan demi wanita gendut itu.. kau bahkan bisa mendapatkan yang lebih dari wanita buruk rupa sepertinya.."


"Dia istriku, apa kau lupa.." Marvin berdesis dan menatap tajam pada Stevan.


"Ya, dan masih aku ingat bagaimana dulu kau menolak dan menentangku.."


"Itulah perbedaan kita.. kau memintaku menerima perjodohan hanya karena harta, dan aku rela melepaskan semuanya agar bisa bersamanya sekarang, tapi bagaimana lagi.. kau bahkan tidak memperlakukan istrimu seperti manusia.."


"Brengsek.."


"Pergilah, dan aku akan datang saat mendapatkan apa yang kau mau.."


Berjalan gontai Marvin berjalan kearah kamarnya di mana terdengar isak tangis dari seorang wanita..


"Maafkan Mommy Marv.." wanita paruh baya itu menangis terisak, selama ini dia hanya diam dan membiarkan suaminya yang gila.

__ADS_1


Dulu Stevan tidak seperti itu dia adalah pria baik, tapi semenjak ayahnya kakek Marvin membandingkannya dengan Albert ayah Monica Stevan jadi lebih berambisi dan semakin lama semakin gila.


Padahal Stevan sudah berusaha mengurus perusahaan sekuat tenaganya namun Louise tetap saja memberikan warisannya pada Monica jodoh Marvin.


Stevan telah meyakinkan dan cukup membayar berapa pun atas bantuan kakek Monica dulu, namun keputusan tetap ada di tangan Louise dan Marvin harus menikah dengan Monica, dengan rencana Stevan akan melenyapkan keluarga itu sekaligus, hingga tak ada cara lain selain semua harta menjadi milik Marvin, namun Marvin yang mengetahui secara tidak sengaja rencana sang Daddy mencegah Monica ikut di mobil yang sama.


Meski rasa bersalah menggerogotinya, karena membiarkan dua orang itu tewas, termasuk seorang supir tapi Monica bisa ia selamatkan.


Dan ternyata itu membuat Stevan marah dan berujung pada penyiksaan Marvin, lalu setelah itu Marvin memutuskan untuk menjauh dan menghindari Monica bahkan hingga tiga tahun, dan menghabiskan waktunya untuk bekerja, namun ternyata semua harta yang terus bertambah tak membuat Stevan puas karena sejatinya itu di dasari rasa cemburu dan dendam pada keluarga Monica yang dia anggap sudah mengalihkan perhatian Louis darinya, dan menganak tirikannya demi anak sahabatnya.


Hingga kini meski Albert sudah dia singkirkan Stevan tetap menganggap Monica salah satu akar yang harus dia cabut habis, karena Monica yang memegang kendali atas harta Louis, apalagi jika Monica dan Marvin bercerai justru harta jatuh ke tangan Monica.


Hilda menatap kosong, dan merenung dia tahu semua yang di lakukan Stevan dan hanya bisa diam, wajahnya penuh lebam karena berusaha menghentikan Stevan untuk menghajar Marvin..


Sudah terlalu lama dia diam dengan kebiasaan suaminya yang menyiksanya dan Marvin, ya Stevan bukan manusia dia sungguh kejam bukan hanya bermain wanita dia juga tidak segan menyiksanya dan Marvin.


Tapi hari ini dia berontak dan pergi ke apartemen Marvin, dan disinilah dia sekarang "Maafkan Mom harusnya melakukannya sejak dulu, harusnya kita pergi sejak dulu" Ya, harusnya Hilda lari sejak dulu membawa Marvin pergi dari penderitaan mereka, dari ambisi Stevan yang gila.


Hilda takut jika dia pergi, dia hanya akan membawa Marvin pada penderitaan tanpa uang, dia yang tak punya keahlian takut tidak bisa menghidupi Marvin, tapi justru mereka terjerumus semakin dalam saat hidup dalam tekanan Stevan.


Dan Marvin yang justru bertahan demi ibunya, harus menahan diri agar tidak berontak pada sang daddy yang mengancamnya dengan mommynya yang tak berdaya.


Flashback off..


"Kenapa tidak biarkan aku ikut mereka.."


Entah apa yang harus Marvin katakan sekarang, melihat Monica menangis meraung membuatnya sangat sakit.


"Tidak tahu apa yang ku lakukan, aku kira setidaknya aku harus menyelamatkanmu, aku bahkan tidak berfikir apa yang akan terjadi selanjutnya, tapi aku harap kau tetap hidup.."


"Dan sekarang aku mengerti kenapa aku ingin kamu tetap hidup, karena kamu sangat berarti untukku.."


Monica menggeleng "Kenapa tidak menghentikan nya, kenapa membiarkan Ayah dan Alexa pergi dengan mobil itu.. kau jahat, lebih jahat dari daddymu!, kau tahu tapi membiarkannya begitu saja!"


"Maafkan aku.." Marvin menunduk memejamkan matanya, sedangkan Monica mengalihkan pandangannya.

__ADS_1


"Minta apapun tapi aku mohon jangan bercerai, Mo.." Marvin menggenggam tangan Monica, lalu mengecupnya.


"Jika ingin aku tanda tangan, ceraikan aku!" Monica menatap Marvin yang terus menggeleng, bisa dia rasakan genggaman Marvin mengerat di tangannya.


"Mo, berikan itu, kita bisa hidup bahagia tanpa harta kakek, aku akan berusaha untuk hidup kita.. ayo kita hidup dengan Mommy.. kita tinggalkan daddy dan harta itu, kita tak memerlukannya.."


Monica menarik tangannya "Kamu tidak mengerti Marv.. bagaimana bisa aku menyakiti hatiku, karena saat aku melihat mu, yang ada di mataku adalah Ayah dan Alexa yang meregang nyawa.. haruskah aku menghabiskan hidupku dengan pembunuh Ayah dan kakakku.."


"Mo.." Marvin tertegun, seluruh tubuhnya terasa kaku, benar dia sudah membiarkan itu terjadi.. apakah dia juga seorang pembunuh?.


"Menyembunyikan kejahatan juga sebuah kejahatan bukan..? kalian bahkan harusnya membusuk di penjara!"


"Baiklah.." Marvin memejamkan matanya "Kita berpisah..."


Monica menanda tangani perjanjian bahwa jika mereka bercerai dia tidak akan mengambil satu peser pun dari perusahaan dan harta kakek Marvin, dan menyerahkan 50% miliknya yang di berikan kakek Marvin.


"Aku harap surat ceria kita segera selesai.." Monica meletakkan penanya, dan Marvin hanya menatap Monica dengan sendu.


Monica bangun dan berniat merapikan semua pakaiannya "Mau kemana?" Marvin mendongak.


"Pergi dari sini.."


Marvin "Jangan kemanapun, aku yang akan pergi.. rumah ini milikku, tak ada sangkut pautnya dengan Kakek atau Daddy.. tetap disini" Marvin menangkup pipi Monica "Apapun yang terjadi, tolong jangan pergi.. Aku mencintaimu Mo.. maafkan aku" Monica menahan diri agar tidak memeluk Marvin bahkan untuk terakhir kalinya dia tak ingin goyah..


Marvin mengemas pakaiannya dan memasukannya ke dalam koper, sedangkan Monica terus berdiri terpaku..


"Jaga dirimu Mo..." Marvin menghapus air mata Monica yang masih mengurai di pipinya "Berjanjilah kau akan tetap bahagia.." Marvin menjatuhkan dirinya di depan Monica dan melakukan sesuatu yang membuat Monica tertegun "Ku harap dia hadir.." Marvin mengelus perut Monica..


"Meskipun dia hadir tidak akan merubah keputusanku!" Marvin tersenyum kecut.


"Aku tahu.." Marvin bangkit dan sekali lagi memberi kecupan di dahi Monica, tidak ada perlawanan, anggap saja itu hal terakhir yang Monica lakukan untuk Marvin.


Selamat tinggal Mo..!


Monica jatuh terduduk sesaat setelah Marvin menutup pintu..

__ADS_1


Sudah selesai.. dia sudah terbebas, tapi kenapa rasanya sakit melihat Marvin pergi..


...


__ADS_2