Istriku Tak Gendut Lagi

Istriku Tak Gendut Lagi
Mendampingi


__ADS_3

Marvin bangun dan meraba sisi ranjang di sebelahnya namun tak menemukan Monica disana.


Marvin mendudukan dirinya dan mengedarkan pandangan, lalu menghela nafas, aneh sekali dia dan Monica semalam menghabiskan waktu bersama, bahkan Monica mengatakan jika dia tidak akan bercerai, lalu sekarang dia hanya terbangun sendiri tanpa ada Monica di sisinya.


Apa semalam dia hanya bermimpi..?


Marvin mengerutkan keningnya saat samar terdengar suara gemerisik di kamar mandi.. Marvin berjalan mendekat dan mendengar lebih jelas ternyata itu suara seseorang sedang muntah.


Marvin membuka pintu yang ternyata tidak di kunci dan melihat Monica sedang berjongkok dan memuntahkan isi perutnya "Mo..?"


Marvin berjalan mendekat tak peduli Monica yang melambaikan tangan ke arahnya, seolah berkata dia baik- baik saja.


Marvin mengelus punggung Monica, "Kau baik- baik saja..?" raut khawatir terlihat jelas dari Marvin melihat Monica hanya memuntahkan cairan kuning dari mulutnya dan dia tahu rasanya pahit dan sakit di tenggorokan.


Monica membasuh mulutnya lalu berbalik melihat Marvin "Aku tidak apa-apa ini biasa terjadi di pagi hari.."


"Kamu sering mengalami hal seperti ini? perlukah kita ke dokter?"


Monica menggeleng "Ini hal normal untuk ibu hamil Marv.. dan ini baru trisemester satu jadi masih kadang mual dan muntah di pagi hari.."


Marvin menghela nafasnya lalu memeluk Monica "Kau tahu aku kira aku bermimpi saat bangun kau tidak ada di sisiku, tapi aku mendapatimu disini sedang muntah, kau tahu aku begitu mengkhawatirkan mh, apa kamu kesakitan selama ini.." Marvin mengurai pelukannya dan mengelus perut Monica.


"Tidak Marv aku baik- baik saja.. ini belum seberapa, katanya semakin besar perut kita nanti semakin banyak yang terasa, seperti sakit punggung, pinggang yang terasa panas, atau juga kaki membengkak.. ya meski tidak semua ibu mengandung sama, tapi jika sudah tahu aku tidak terkejut lagi, dan ini adalah reaksi yang biasa.."

__ADS_1


"Apalagi jika nanti melahirkan.."


"Apa akan sakit?" Monica semakin terkekeh melihat raut Marvin yang begitu khawatir.


"Bahkan ada yang sampai meninggal saat melahirkan.." Marvin membelalakan matanya.


"Jika begitu, kita akan melakukan sesar saja!" tegas Marvin "Aku akan cari dokter terbaik.."


Monica tertawa "Tidak semua begitu Marv, kamu berlebihan.. "


"Aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi padamu baby.." Marvin mengikuti Monica keluar dari kamar mandi.


"Aku ingin menikmati semua prosesnya Marv, bahagianya seorang ibu hamil, bisa berdampak baik bagi persalinannya.."


Marvin menggenggam tangan Monica "Baiklah, aku akan berusaha keras agar istriku tidak merasakan sakit sedikit pun..dan tidak perlu menunggu untuk sakit aku akan selalu membahagiakan kamu."


"Berjanjilah untuk tidak melupakan janji itu Marv.." Marvin kembali memeluk Monica, dia berjanji tidak akan pernah membuat Monica menangis lagi.


...


Marvin tergesa- gesa memasuki rumahnya dan membiarkan pintu terbuka begitu saja, setelah mendapat pesan dan sebuah foto dari nomer yang tidak dia kenal dan mengatakan jika dia berada di rumahnya, membuat Marvin meninggalkan kantornya dengan segera.


Marvin menatap nyalang wanita yang sedang duduk di ruang tamu rumahnya.

__ADS_1


"Sedang apa kau disini?"


Aurora tersenyum manis dan bangun dari duduknya "Aku berjanji pada bibi Hilda untuk datang berkunjung.."


Marvin mendesis dan mengedarkan pandangannya mencari istrinya, namun tidak menemukannya.


Hilda datang membawa minuman dan meletakkannya di ruang tamu "Kau sudah pulang, kenapa cepat sekali.."


Aurora tersenyum penuh kemenangan, lalu "Kau datang karena ada aku di rumahmu?"


"Dimana Monica Mom?.."


"Dia langsung pergi saat aku datang.." Hilda menghela nafas saat dia akan menjawab Aurora malah menyela ucapannya.


Marvin mendesis "Bagaimana bisa Mom biarkan dia datang kerumah kita.."


"Sial jika sesuatu terjadi dengan istriku, aku tidak akan melepaskanmu Aurora!"


Marvin membalik langkahnya dan keluar dari rumah, dia harus mencari Monica, bagaimana jika Monica salah paham karena kedatangan Aurora ke rumah mereka.


Hubungan mereka baru saja membaik dan bagaimana jika Monica menggugatnya lagi untuk bercerai, hanya karena salah paham akan kedatangan Aurora.


Hilda melihat punggung Marvin berjalan menjauh dan melihat Aurora yang dengan tenang menyesap minumannya "Terimakasih minumannya bibi.."

__ADS_1


Hilda menghela nafasnya "Sepertinya kau salah paham Aurora.."


__ADS_2