Istriku Tak Gendut Lagi

Istriku Tak Gendut Lagi
Pulang


__ADS_3

"Istriku? tentu kami baik.. dan kami sangat bahagia.. kami sedang melakukan program hamil karena istriku ingin segera memiliki bayi." Aurora mengingat kata- kata Marvin yang terus terngiang di kepalanya.


"Jadi apa Marvin sedang berbohong padaku?"


"Apa ada masalah dengan keluarganya?" Aurora terus bergumam, lalu menyadari jika dia lupa menanyakan alamat rumah Marvin disini, lalu bagaimana dia bisa berkunjung, dan Aurora penasaran dengan istri Marvin, seperti apa dia, yang mampu mengalihkan Marvin darinya.


Aurora mungkin menyerah dan pergi dulu, karena dia sangat membutuhkan uang yang di berikan Stevan juga tawaran untuk kembali bersekolah, namun kini setelah berhasil dengan cita- citanya Aurora jadi penasaran bagaimana dengan Marvin, sejak bertemu di rumah sakit Aurora lebih penasaran lagi, apalagi saat Marvin bilang mereka sedang dalam program hamil dengan istrinya, dan apakah keluarga Marvin sebahagia itu, lalu perasaan marah dan iri menghantuinya, bukankah harusnya Marvin menikah dengannya jika tidak ada wanita itu.


Aurora mengeluh hari ini dia bertemu lagi dengan Marvin namun dia juga tidak sempat bertanya tentang alamat Marvin, setelah tempo hari Aurora mencari tahu tentang Marvin dan ternyata Marvin sudah tidak tinggal di rumah Stevan lagi.


Jadi bagaimana bisa dia mendekat lagi pada Marvin jika tidak tabu tujuannya.


"Sial.."


...


"Kau yakin akan pulang?"


Monica mencebik "Kau yang terus mengusirku.."

__ADS_1


Andrew terkekeh "Sudah ku bilang aku tidak mengusirmu.. aku hanya berkata selesaikan dulu urusanmu dan katakan pada suamimu jangan merahasiakan bayimu.."


"Aku tidak berniat menyembunyikannya." Monica mendengus.


"Bagus dia pasti senang jika tahu kau sedang mengandung"


Monica diam..


"Baiklah katakan kapan kau sampai aku akan menjemputmu di bandara."


Monica menghela nafasnya, saat mengakhiri panggilannya dengan Andrew, lalu menutup kopernya.


Di bantu pengurus rumah tangga yang Andrew pekerjakan Monica membawa koper dan memasukannya ke dalam bagasi.


Monica sudah meminta pengacara yang di berikan Andrew untuk mengurus dan menyerahkannya pada pengadilan.


Untuk memulai proses perceraiannya dengan Marvin.


Dan apakah dia sanggup melepas pria itu?

__ADS_1


Monica menginjakan kaki di bandara dan melihat sekitarnya mencari keberadaan Andrew yang berjanji untuk menjemputnya, belasan jam di pesawat membuat Monica sedikit lelah dan merasa pusing, dan dia ingin segera beristirahat.


Monica sudah memesan sebuah kamar hotel untuknya beristirahat sejenak sebelum kembali berperang dengan hatinya dan menghadapi Marvin.


Meski begitu separuh hatinya juga tidak sabar, meski tidak lagi bisa memiliki pria itu setidaknya Monica bisa melihatnya kembali, Monica mengelus perutnya yang sudah sedikit menonjol meski tidak kentara, dan dia yakin jika Monica tidak mengatakannya Marvin tidak akan tahu tentang kondisinya.


Tapi Monica memang tidak berniat untuk menyembunyikannya, dia akan bicara dengan Marvin dan tidak akan melarang pria itu jika kelak ingin bertemu anak mereka.


"Kau ingin melihatnya bukan, Mom akan melihatnya.. seperti keinginanmu" meski Monica melakukan keinginan bayinya yang dia rasa ingin bertemu ayahnya, Monica tidak berniat untuk menarik tuntutannya.


Jadi Monica sudah mantap untuk bercerai?


Jawabannya tentu tidak, Monica tetap merasa gamang dan ragu..


Hanya saja Monica lelah dengan apa yang terjadi, maka dia memilih mundur.


...


Marvin tertegun melihat surat pemanggilan untuknya pergi ke pengadilan untuk menghadiri sidang perceraiannya dengan Monica, ternyata Monica tidak menyerah meski Marvin tidak memberikan persetujuan soal perceraiannya Monica tetap menempuh jalur hukum agar bisa lepas darinya, seingin itukah Monica lepas darinya.

__ADS_1


Marvin terkekeh merasa nasib rumah tangganya tidak berjalan lancar dan itu semua terjadi karena kesalahannya sendiri.


"Apa aku benar- benar harus melepaskan kamu Baby.."


__ADS_2