Istriku Tak Gendut Lagi

Istriku Tak Gendut Lagi
Ingin Punya Tiga Anak


__ADS_3

"Tentu saja akan mengancammu, jika kau berani berdekatan dengannya atau wanita manapun, aku akan pergi tanpa kembali lagi dan tentu saja aku akan membawa anakku.."


"Anak kita Baby.." Marvin memprotes "... dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi.."


Monica mencebik tak peduli, dan memakan kembali eskrimnya "Kamu tidak percaya?" Marvin mengambil kotak eskrim Monica agar Monica melihat ke arahnya.


"Ish.."


"Bayi kita bisa kedinginan jika terlalu banyak makan eskrim"


"Kau tidak tahu, ini keinginannya.."


Marvin meringis melihat kotak eskrim besar itu hampir habis.


"Memangnya aku mau kalau aku gendut lagi.. dia terus saja ingin makan manis dan sesuatu yang berlemak"


"Aku tidak melarangmu gendut Baby.." Marvin menyimpan kembali kotak eskrim di depan Monica "Aku hanya khawatir jika memakannya berlebihan akan berakibat pada kesehatanmu.."


"Baiklah tidak masalah kita hanya perlu kontrol kesehatanmu lebih sering, lalu sekarang kau ingin apa?"


Monica mengeluh "Aku ingin lobster besar yang di masak dengan saus asam pedas, aku yakin daging di dalamnya sangat banyak.. tapi ah.. sudahlah tidak usah" Marvin menggeryit saat melihat Monica duduk dengan lesu.


"Kau mengira aku tidak mampu hanya membeli satu lobster, aku bahkan bisa beli sebanyak apapun kamu mau memakannya."


"Bukan begitu.." Monica menunduk.


"Aku takut berat badanku naik lagi.." keluhnya "Baru menginjak tiga bulan kehamilanku aku sudah naik sembilan kilo gram"


Marvin tertawa, jadi pembahasan soal Aurora sepertinya sudah selesai dan kini berganti tentang keluhan Monica yang berat badannya naik "Aku tidak masalah kau gendut baby.."

__ADS_1


"Aku yang tidak percaya diri Marvinnnn ih.."


"Bagaimana jika orang berkata 'Bagaimana bisa pria tampan sepertimu beristrikan wanita gendut' apa yang akan terjadi denganku"


Mood Marvin 200 kali lipat penuh semangat saat bicara dengan Monica, yang ternyata sangat menghibur tak hanya membuatnya bahagia tapi juga dia selalu tertawa "Oh aku pria yang tampan?"


Monica memerah karena Marvin mendekatkan dirinya dan berbisik tepat di telinganya, bahkan Monica bisa merasakan bibir basah Marvin sengaja menji lat telinganya.


Marvin memeluk Monica dan menyandarkan kepalanya di pundak Monica, tak di pedulikan beberapa orang yang melewati dan keluar masuk mini market memperhatikan mereka "Jika itu benar- benar mengganggumu bagaimana jika kita menjadi gendut sama- sama?"


"Sudah aku katakan Mo, aku tidak keberatan jika gendut mu itu sehat, dan tak membuat kau kelelahan, seperti nafas menjadi sesak atau kesulitan bergerak, selama itu membuatmu senang dan sehat aku tidak peduli, aku akan tetap mencintaimu.."


"Kau yakin?"


"Kau tak percaya.."


"Baiklah jika begitu, masih mau makan lobster besar yang di masak saus asam pedas?"


"Lebih baik makan dulu dan membuat anak kita senang di dalam sana, jadi jangan banyak bicara.."


.....


"Apa yang mom katakan pada Aurora?" Monica bertanya dengan penasaran saat Hilda mengatakan bahwa Aurora tidak akan mengganggu keluarga mereka lagi.


"Tentu saja sesuatu yang harusnya Mom katakan sejak awal.." Monica tak bisa menghilangkan rasa penasarannya hanya dengan ucapan Hilda, dia sungguh ingin tahu.


"Mulai sekarang jangan khawatirkan apapun, kalian harus mulai memikirkan kebahagiaan kalian dan berikan aku banyak cucu" Hilda mengelus perut Monica, dan Monica terharu dengan kasih sayang Hilda.


"No Mom, tidak ada banyak hanya satu saja, karena melahirkan sangat sakit, aku tidak mau Monica kesakitan terus.."

__ADS_1


Hilda tertawa, sedangkan Monica segera bicara "Aku ingin setidaknya punya tiga orang anak"


"Lihat menantu ku tidak keberatan sama sekali.."Hilda tersenyum.


"Astaga Baby, aku hanya tidak mau kau kesakitan.."


"Kau hanya perlu membahagiakan aku.."


"Karena bahagianya ibu hamil akan berdampak pada proses melahirkan.."


"Aku akan terus membuatmu bahagia meski kau tidak sedang hamil.."


"Tentu saja itu adalah janjimu.."


"Maka itu, cukup satu saja.. okey"


Monica menggeleng "Tidak aku ingin rumah kita ramai dengan anak- anak kita.."


Hilda tersenyum melihat perdebatan manis antara anak dan menantunya, beruntung mereka sudah lepas dari jerat Stevan, dan bisa hidup dengan bahagia.


Entah bagaimana keadaan Stevan sekarang Hilda tak tahu dan tak ingin tahu, yang terpenting Hilda berhasil menjaga warisan dari kakek Marvin, bahwa harta tidak bisa di bandingkan dengan Marvin dan Monica.


Dan mereka tetap bersama meski tanpa warisan harta dari kakek mereka, karena warisan sesungguhnya adalah cinta yang menyatukan mereka.


The end..


....


Sampai jumpa di kisah yang lain, dan untuk yang sudah membaca terimakasih banyak.. untuk vote dan hadiah kalian 🤗

__ADS_1


Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankannya 🙏


__ADS_2