
"Mo jika aku bercerai denganmu harta milik keluarga ku akan jatuh padamu, bukan hanya separuh, tapi semuanya."
Monica tertegun, lalu sebuah pemikiran terlintas di kepalanya. "Jadi karena itu kamu tidak ingin bercerai? bukan karena menyukaiku..?"
Marvin menoyor kepala Monica, "Apa semua yang aku katakan tidak kau dengarkan."
"Lalu apa?"
"Kau bertanya kenapa aku mendapat luka ku bukan?" Monica mengangguk.
"Daddy marah karena jika kita bercerai semua harta akan jatuh ke tanganmu.. aku tahu kau tidak akan percaya jika aku ceritakan alasan aku tidak pernah datang karena Daddy mengawasiku.."
"Dia ingin aku menjeratmu dan menipumu agar kau mau memberikan warisan kakek padaku, tapi aku memilih mengabaikanmu dan terus bekerja agar menambah puing uang kami, namun ternyata Daddy tetap tak rela meski separuh saja menjadi milikmu.."
"Lalu dia tahu jika kita bercerai harta kakek akan jatuh seluruhnya padamu... karena itu dia memanggilku, dia melampiaskan amarahnya padaku, yang tidak mendengarkan usulan nya untuk menggunakan cara curang"
Monica menutup mulutnya "Daddymu terlihat sangat lembut.."
Marvin mengedikkan bahunya "Aku tahu kau tidak akan percaya, dan aku sudah mengalaminya sejak dulu, aku seperti sapi perahnya.." Marvin menunduk. "Aku kira jika aku bekerja dengan keras dia akan melepaskan aku dan kau, tapi ternyata.. dia tetap tidak ingin mengalah"
"Karena itu kau mengabaikanku selama ini.."
"Hmm, tapi aku rasa ini sia- sia meski aku bahkan kehilangan hariku aku tetap tidak bisa melepaskannya.."
"Aku masih tidak mengerti kenapa Kakekmu memberikan hartanya padaku.. apa kakekku pernah menyelamatkan nyawanya?"
Marvin terkekeh "Mungkin lebih dari itu, tidak hanya nyawa kakek yang di selamatkan kakekmu, tapi nyawa keluarganya.."
"Dia selalu bercerita jika kakekmu selalu menolongnya jika dia dalam kesulitan, kakekku bukan orang kaya sejak lahir, dan hidup susah adalah kesehariannya tapi kakekmu selalu membantunya, meski dia juga bukan orang berada..
Saat orang tua kakekku sakit, kakekmu selalu ada dan sebisa mungkin menolongnya, dan mereka selalu bersama.
Hingga mereka mencoba membuat sebuah usaha bersama dan sedikit demi sedikit berhasil, namun kakekmu memilih mengejar cita- citanya menjadi tentara, dan memberikan semua miliknya pada kakekku.. dan ya, Kakek selalu bilang jika separuh hartanya adalah milik kakekmu"
Monica mengangguk, dia mengerti sekarang.. sekarang yang ingin dia tanyakan adalah..
"Lalu bagaimana denganmu?" Marvin mengeryit.
__ADS_1
"Apa?"
"Perasaanmu.."
"Bukankah, sudah aku katakan tadi.. aku menyukaimu sejak dulu.." Marvin menghela nafasnya "Aku mengerti kau tidak percaya.."
Monica menggeleng "Lalu bagaimana sekarang?"
"Harusnya aku yang bertanya, apa yang akan kau lakukan sekarang padaku, masih tetap ingin bercerai atau tidak.."
Monica memiringkan wajahnya "Bagaimana ini, aku masih takut kau tidak menceraikan aku karena harta kakekmu.."
"Ah.. ya sudah, terserahlah.." Marvin membaringkan tubuhnya "Aku ingin istirahat sebentar.." baru memejamkan mata Marvin kembali bangun, dan memegang tangannya "Tunggu aku jangan pergi kemanapun sampai aku bangun, mengerti!"
Monica tersenyum, lalu membiarkan Marvin tertidur, sedangkan dirinya berfikir keras dengan kenyataan yang baru dia dapatkan.. sekarang hatinya semakin gamang, apa yang harus dia lakukan.
Benarkah Marvin mencintainya, atau dia hanya mempertahankannya demi harta warisannya.
Monica tak bisa percaya begitu saja, tapi bagaimana dengan ternyata selama ini Marvin selalu tahu tentang dirinya, karena cinta kah? atau lagi-lagi karena harta.
Rasanya kepala Monica berdenyut, melepaskan tangan Marvin yang sudah tertidur, Monica melihat ke arah balkon dan berjalan keluar kamar.
Sebenarnya bisa saja Monica melakukannya sejak dulu, namun ternyata keberaniannya tidak sebanyak itu, dan ternyata benar saat dia datang semuanya malah semakin rumit, daddy Marvin yang ternyata sangat jahat dan berambisi, dan Marvin yang ternyata terpaksa dan di kendalikan oleh Daddynya untuk mengabaikannya, bahkan merebut harta yang di berikan kakeknya.
...
"Sudah bangun?" Monica meletakkan sup di atas meja, saat Marvin bangun dan menghampirinya.
"Kamu memasak.." Marvin mengerutkan keningnya di kulkas tidak ada bahan makanan, apa dia pergi belanja..
"Aku belanja di mini market bawah"
Marvin mengangguk, lalu mendudukan dirinya di kursi makan.
"Bagaimana rasanya?"
"Ini, enak.. tapi lebih enak masakanku.." kata Marvin bangga.
__ADS_1
Monica mencebik, memang ke ahlian Marvin memasak boleh juga, tapi bukannya pria itu harusnya memuji wanitanya.
"Karena ini pertama kalinya aku kesini, aku ingin pergi jalan- jalan.."
"Hm, baik kamu mau kemana?"
"Aku tak tahu tempat yang bagus, tapi aku akan ikut kemana kamu membawaku, aku juga mau menghabiskan waktu denganmu selama aku disini.." Marvin tersenyum lalu mengusak rambut Monica.
"Baiklah.."
Marvin mengajak Monica pergi ke berbagai tempat, setiap hari Marvin mengajaknya pergi, Marvin bahkan tak menghiraukan pekerjaannya, dia ingin sejenak melupakan kesuraman hidupnya dan menghabiskan waktu bersama Monica.
Berjalan- jalan, bergandengan tangan bahkan Marvin tak ragu memeluk Monica di sepanjang jalan, tak ada mobil pribadi, mereka menaiki pasilitas umum, mulai dari bus dan kereta hingga taksi, itu semua adalah permintaan Monica.. agar mereka bisa lebih menikmati kebersamaan mereka, dan itu juga adalah kencan impian Monica, bolehkan ini di sebut kencan..? bukankah wanita dan laki- laki menghabiskan waktu bersama bisa di sebut kencan, apalagi status mereka adalah suami istri.
Karena dulu dia langsung menikah dan bahkan tak pernah merasakan pacaran satu kali pun, maka Monica ingin sekali berkencan seperti gaya anak muda, jalan- jalan berdua, nonton bioskop atau bahkan makan malam bersama.
Malam ini adalah hari terakhir Monica berada di kota Marvin, dia sudah bilang akan pulang besok pada Marvin, maka dari itu Marvin menyiapkan makan malam romantis dengannya.
"Kau yakin akan pulang, kenapa tidak tinggal lebih lama, kita bisa kembali dengan aku nanti, atau lebih bagus jika kamu tetap di sini" Marvin memeluk Monica yang sedang bercermin, mereka sudah siap akan pergi makan malam.
"Aku mulai terbiasa memelukmu rasanya nyaman" Marvin memejamkan matanya.
Monica berbalik "Hmm.. aku juga suka di peluk olehmu.." Monica menyerukan kepalanya di dada Marvin dan memeluknya erat.
Marvin menangkup pipi Monica hingga kini Monica mendongak ke arahnya, tanpa menunggu lama, Marvin mendekatkan wajahnya dan mencium bibir yang sudah Monica poles dengan warna merah, dan tampak begitu menggoda.
Monica memejamkan matanya menerima ciuman Marvin, ciuman yang lembut dan pelan..
Marvin mulai menggerakan lidahnya menjelajah dan mengeksplor isi mulut Monica saat Monica mulai menyambutnya, ciuman yang awalnya pelan semakin memburu hingga Monica menahan dada Marvin, dan dengan mengeluh Marvin pun melepaskannya.
"Kita bisa terlambat makan malam kan.."
Marvin mendesah kesal "Mo, tinggallah bersamaku.."
....
__ADS_1
Promo terus🤭