
Monica menggeliat dan membuka matanya saat merasakan matahari merasuk ke sela jendela kamar Marvin, ya.. ini kamar Marvin karena dia masih berada di kota Marvin, rencananya dia akan pulang hari ini tapi tubuhnya terasa remuk redam karena di hajar Marvin.
Monica rasa dia juga tak perlu berolah raga untuk makanan yang dia makan semalam, karena semalaman penuh Monica juga sudah berkeringat.
Semalam akhirnya Monica dan Marvin 'Melakukannya' meski dia harus menanggung malu, karena menggoda Marvin, dan dengan itu juga berarti perjanjian mereka sudah hangus, dan mereka akan memulai awal baru.
Monica menatap Marvin yang masih tertidur di sebelahnya lalu tersenyum.
Monica tahu dia bodoh, belum percaya sepenuhnya pada Marvin tapi menyerahkan segalanya, tapi Monica tidak menyesal setidaknya dia melakukannya dalam sebuah ikatan, ya dia seorang istri yang sepatutnya melayani sang suami, bukan mereka yang melakukan **** bebas atau ONS.
"Morning Baby.." Monica mendapat kecupan dari Marvin yang juga terbangun.
"Morning.." Monica tersenyum, tak dapat di pungkiri mendengar Marvin memanggilnya dengan sebutan 'Baby' membuatnya senang..
Mengingat semalam bagaimana mereka melakukannya membuat Monica memerah, ini pertama kalinya untuk Monica dan Monica tak menyangka jika ini juga pertama kalinya untuk Marvin, dan mereka melakukannya dengan pelan meski tahu dengan mengikuti naluri masing- masing, mereguk indahnya malam dengan insting yang mereka ciptakan terasa lebih indah, awal yang sakit tapi kemudian Monica bisa mengimbangi Marvin dan merasakan bagaimana rasanya kenikmatan yang sesungguhnya.
"Masih sakit?" Marvin mengusap pipi merah Monica.
"Hmm.. sedikit perih tapi tidak masalah.." Marvin mendekat, merapatkan tubuh mereka dan memeluk Monica.
"Maafkan aku.."
"Kenapa aku sering sekali mendengar kamu mengucapkan kata maaf Marv?"
"Aku pasti akan mengatakannya bahkan mungkin setiap hari.." Marvin menenggelamkan wajahnya di dada telan jang Monica, di bawah selimut mereka masih tak mengenakan pakaian, sisa bercinta semalam, dan itu membuat kulit mereka menempel sempurna.
"Aku akan mengatakan setiap hari asalkan kau jangan pergi dan jangan bercerai.."
Monica menatap jauh ke depan dan mengusap rambut Marvin yang berantakan.
Monica tidak menanggapi ucapan Marvin entah mengapa mendengar Marvin terus berkata Maaf membuatnya merasakan sakit di hatinya.
Apa yang masih Marvin sembunyikan darinya?.
"Aku harus segera pulang.." Marvin mendesah lalu bangun membuat selimut yang menutupi mereka tersingkap.
"Baiklah aku akan mandi dulu, aku akan antarkan kamu.."
"Aku bisa pulang sendiri Marv.."
"Berhentilah bilang pulang Mo, disini juga rumahmu.." Marvin pergi ke luar kamar dan membanting pintu, membuat Monica terlonjak kaget.
"Kenapa dengannya.."
Marvin menggenggam tangannya marah, dia masih ingin menghabiskan waktu dengan Monica, tapi dia terus saja berkata pulang, apa Monica tidak ingin tinggal lebih lama, mereka bahkan baru memulai semuanya dari awal, dan harus kembali berpisah.
Saat Monica keluar kamar mandi Marvin juga sudah selesai, dia mandi di kamar sebelah..
"Sudah siap?" Monica mengangguk "Kita akan sarapan di jalan saja" lagi- lagi Monica hanya mengangguk.
Sepanjang jalan mereka hanya terdiam dengan Marvin yang larut dalam pikirannya, juga Monica yang tidak berani bertanya melihat Marvin yang bahkan menatap datar sejak dia berkata harus pulang.
__ADS_1
Marvin memarkirkan mobilnya di restoran cepat saji untuk take away karena perjalanan mereka masih jauh "Tidak masalah sarapan ini bukan?"
"Hmm" Monica mengangguk sudah lama Monica tidak memakan burger, karena diet sehatnya Monica mengurangi makanan cepat saji itu.
Marvin membawa dua kotak burger dan dua kaleng air mineral untuk makan di dalam mobil.
Marvin memakan burgernya masih tidak melihat Monica yang duduk di sebelahnya, dan Monica memakan burgernya dengan sedikit gamang "Aku sudah lama tidak memakan ini.." barulah saat Monica bicara Marvin menoleh "Ini makanan kesukaanku dulu.. burger, pizza, cola.. tapi sejak aku diet aku mulai jarang memakannya, bukan tidak pernah lagi memakannya tapi bisa di hitung dengan jari berapa kali aku memakannya dalam tiga tahun ini.."
Marvin tertegun "Mulai sekarang makan apapun yang kamu suka, dan membuat kamu senang.. aku tidak masalah kamu gendut, yang penting adalah kamu selalu bahagia dan sehat tentunya.." karena jelas terlalu banyak makan junk food tidak sehat jika di makan terlalu banyak.
Marvin menghentikan gerakannya saat mendengar Monica terisak "Setiap aku makan makanan seperti ini aku teringat ucapan Alexa.. 'Mo, jika kau gendut tak akan ada yang mau menikah denganmu'.."
Marvin tak tahu harus berkata apa, karena sekarang yang Monica bicarakan adalah Alexa, kakaknya yang sudah tiada.. Marvin hanya bisa menggenggam tangannya dan menyalurkan rasa marah pada diri sendiri dia sungguh pengecut.
"Maafkan aku.."
Monica mengusap air matanya dan melihat ke arah Marvin "Aku bosan mendengar kata maafmu.."
Marvin mengusap air mata Monica "Maaf karena mengingatkan kau kenanganmu, dan membuatmu menangis."
Monica hanya menghela nafasnya dan melanjutkan makannya, sedangkan Marvin sudah tak menginginkannya dan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dan melajukan mobilnya.
Marvin mematikan mesin mobil dan menyandarkan dirinya saat tiba di rumah mereka, Monica bilang dia tidak ingin pulang ke perkebunan jadi Marvin membawanya ke rumah besar mereka.
"Kamu tidak masuk dulu?" Monica menoleh dan melihat Marvin masih duduk.
Marvin menggeleng "Aku banyak pekerjaan.."
"Tidak lelah? istirahat dulu sebentar.." Monica bisa melihat wajah pucat Marvin, dia pasti kelelahan.
"Aku sudah terlalu lama tidak bekerja.."
"Masuklah, aku akan menghubungi nanti.." Monica mengangguk lalu masuk ke dalam rumah.
...
Marvin memasuki apartemen dan merebahkan dirinya di atas ranjang, berkendara tanpa henti membuatnya kelelahan.
Baru akan memejamkan matanya Marvin mendengar ponselnya berbunyi, Marvin mengeram saat melihat siapa yang menghubunginya.
"Aku akan datang Dav, beri aku satu jam untuk istirahat.." Marvin mematikan ponselnya tak peduli dan bahkan tak mendengar David bicara.
..
"Mo kau sungguh datang" Monica tersenyum dan memeluk Sofia. "Bagaimana kabarmu?"
"Baik tentu saja.."
Mata Sofia memicing melihat Monica dengan meneliti bahkan memicingkan matanya.. "Ah.. aku tahu apa yang membuatmu baik.."
Monica mengeryit "Apa..?"
__ADS_1
Sofia menyenggol bahu Monica "Sebentar lagi aku akan mempunyai keponakan.. sering- seringlah melakukannya ya..!" Monica semakin menekuk alisnya. "Ck, kau ini.."
"Bagaimana dengan suamimu?, berapa lama dia bisa bertahan dalam satu kali main.."
Monica mengeryit "Hei.. ba.. bagaimana kau bisa tau.."
"Aku tahu Mo, aku sangat tahu perbedaan antara gadis dan sudah tidak gadis, maka dari itu saat kau bilang kau sudah menikah aku tidak percaya, bagaimana bisa pasangan suami istri tiga tahun tapi tidak melakukannya"
"Dan sekarang kau sudah melakukannya bukan?"
Monica memerah "Sudahlah ayo dokternya pasti sudah menunggu.."
"Hei.. kau mengalihkan pembicaraan..?" Monica menyeret Sofia memasuki ruangan dokter.
Mata Monica berbinar melihat layar di depannya "Apakah ini bayinya?" Monica menunjuk sebuah gumpalan yang tidak terlalu jelas.
"Ya, dan bisa kalian dengar detak jantungnya..?"
Monica dan Sofia mengangguk, Monica bisa melihat mata Sofia mengembun, dia pasti terharu melihat bayinya.
"Bagus, bayinya sehat, jangan lupa terus makan makanan bergizi agar bayi tetap sehat.."
..
"Aku jadi ingin segera memilik bayi.." Monica tersenyum, mereka sedang duduk di cafe, setelah mengantar Sofia pergi ke dokter kandungan mereka memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama.
"Kau harus sering melakukannya jika begitu.." Monica mencebik, bagaimana bisa sering melakukannya Marvin juga ada di kota lain.
"Mo, kenapa tidak tinggal bersama suamimu jika kau ingin segera punya bayi.."
"Berhenti bicara tentang ku, apa yang terjadi denganmu kenapa tidak minta suamimu untuk mengantarmu ke dokter dan malah menghubungiku pagi- pagi?"
"Lagi- lagi mengalihkan pembicaraan.." keluhnya, dan Monica mengedikkan bahu.
Sofia menghela nafasnya "Aku lelah meyakinkannya Mo, biar saja.. aku mungkin akan bercerai nanti jika bayiku sudah lahir.."
"Kalian bertengkar?"
"Tidak tahu.. dia terus saja berkata sesuatu yang menyakitiku.." Monica mengusap tangan Sofia. "Aku akan menyerah Mo.."
"Jangan mengatakan sesuatu yang buruk Sof.."
"Haruskah aku bertahan, sedangkan dia tidak percaya padaku"
...
Monica melangkah pelan memasuki rumahnya, sesekali dia melihat ponselnya, sudah tiga hari Monica pulang dari apartemen Marvin, dan Marvin berkata akan menghubunginya, namun tak sekalipun Marvin membalas pesan darinya, atau bahkan menghubunginya, bukankah Marvin berjanji akan menghubunginya..
Apa dia begitu sibuk, hingga melupakan janjinya..atau apakah terjadi sesuatu padanya?.
Haruskah Monica datang dan melihat keadaannya..
__ADS_1
.
...