Istriku Tak Gendut Lagi

Istriku Tak Gendut Lagi
Menemui Dokter


__ADS_3

Marvin keluar dari restoran yang baru saja jadi tempat pertemuannya dengan tuan Barnes, lucu sekali rasanya melihat gadis seusia Sofia jatuh cinta pada pria paruh baya seperti tuan Barnes, meski Marvin akui perawakan tuan Barnes masih terlihat kekar dan tegap, mungkin karena gaya hidup sehatnya dan mampu mempertahankan ketampanannya di balik rambutnya yang sudah mulai memutih, bahkan Marvin rasa jika tuan Barnes mengecat rambutnya dengan warna hitam dia akan terlihat muda kembali.


Marvin terkekeh sendiri membayangkan betapa manisnya hubungan mereka, dan menghela nafasnya saat mengingat kisah cintanya dengan Monica istrinya yang entah dimana sekarang.


"Anda sudah selesai tuan?" Davin berdiri membuka pintu mobil untuk Marvin "Bagaimana kerja sama nya?"


"Entahlah, dia bilang asistennya akan menghubungi nanti." Marvin menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.


David masuk ke kursi kemudi dan mulai melajukan mobilnya "Setelah ini anda harus memeriksakan diri anda tuan."


Marvin menghela nafasnya "Lain kali saja, aku banyak pekerjaan.."


"Aku akan di salahkan nyonya Hilda tuan.."


"Bukan urusanku" Marvin memejamkan matanya.


David mencebik "Lalu jika anda benar- benar sakit dan ternyata parah apa anda akan tetap diam.."

__ADS_1


Marvin membuka matanya "Dan bagaimana jika anda benar- benar sakit lalu anda mati anda akan meninggalkan ibu anda, perusahan yang baru anda rintis dan yang terpenting istri anda Nyonya Monica yang entah ada dimana.."


Marvin mencebik "Anda harus tetap sehat dan menunggu nyonya Monica datang.." Harus Marvin akui apa yang di katakan David benar dan dia hanya bisa menghela nafasnya pasrah.


David tersenyum dan segera memacu mobilnya ke arah rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan untuk Marvin.


Marvin menghela nafasnya saat harus ikut mengantri jika dulu dia punya dokter pribadi yang bisa dia panggil kapan saja sekarang dia harus repot mengantri dan membuang waktu.


Bukan tidak mampu, hanya belum memerlukan dokter pribadi saja. mungkin nanti saat Monica dan dia sudah memiliki anak dan keluarga mereka membutuhkannya.


Marvin mendengus melihat David yang berdiri di sebelahnya, dia sudah seperti orang penting yang di dampingi pengawal, dan Marvin rasa orang- orang sudah mulai memperhatikannya.


David tersenyum lalu duduk di kursi di sebelah Marvin.


David melihat melihat papan nama dokter yang tercantum di pintu, kenapa dia mendadak ingat sesuatu, dan perasannya jadi tidak enak.


David melihat ke arah Marvin yang memainkan ponselnya, apa dia belum melihat.

__ADS_1


Marvin bangkit saat mendengar namanya di panggil dan segera pergi ke arah pintu dimana dokter berada.


Tangan Marvin yang menyentuh handle pintu terhenti dan mengeryit saat melihat papan nama tersebut, namun tak lama tatapannya kembali berubah datar.


Marvin membuka pintu dan langsung berhadapan dengan seorang wanita berjas putih khas dokter yang mendongak ke arahnya.


"Aku kira di dunia ini nama Marvin tak hanya satu.."


Marvin menyeringai dan mendudukan dirinya di depan dokter wanita yang masih menatapnya "ya, dan sama seperti yang aku pikirkan, aku pikir namamu cukup familiar "


"Apa kabar Marv..?" tatapan sendu di layangkan wanita di depannya dan Marvin menelisik hatinya yang masih menghangat dengan melihatnya.


"Aku baik, seperti yang kau lihat"


Wanita itu mengangguk "Tidak terasa tiga tahun lebih kita tidak bertemu.."


"Ya, tiga tahun. Dan dalam tiga tahun ternyata banyak perubahan pada dirimu.."

__ADS_1


"Bagaimana kau sendiri Aurora apa kabarmu?"


....


__ADS_2