
"Bagaimana kau sendiri Aurora apa kabarmu?"
Aurora hendak menjawab, namun perkataan Marvin kembali membungkamnya "Tapi tentu saja kabarmu pasti baik, berkat uang dari Stevan, dan bisa ku lihat kau memanfaatkannya dengan benar.."
Aurora menelan ludahnya, ya dia menerima uang yang tidak sedikit dari Daddy Marvin, agar bersedia meninggalkan Marvin yang akan menikah, Aurora lahir di keluarga kaya namun karena satu dua hal yang baru Marvin ketahui setelah mereka berpisah, Aurora tak bisa melanjutkan pendidikan kedokterannya dan mengalihkannya menjadi seorang model.
Dan berkat Stevan Aurora bisa kembali kuliah dan kini dia ada di hadapan Marvin sebagai seorang dokter dan meraih cita- citanya.
Bagus sekali Stevan memang tak bisa di remehkan dan bisa melakukan apapun termasuk melenyapkan nyawa Ayah dan Alexa.
Aurora terkekeh "Jika pun aku tidak menerima tawaran Uncle Stevan kita harus tetap berpisah Marv nyatanya kau yang lebih dulu menikah dan meninggalkanku.."
Marvin menghela nafasnya "Baiklah, aku lelah dan jangan bicara tentang masa lalu semuanya sudah selesai, aku datang untuk memeriksakan diriku."
Aurora berdiri dan mengenakan stetoskopnya "Berbaringlah" Marvin berbaring dan membuka kancing jasnya.
"Apa yang kau rasakan?"
"Mual, muntah, pusing.." tangan Aurora sedikit gemetar saat menyentuh ujung kemeja Marvin untuk membukanya lalu mengetuk permukaan perut Marvin.
Harus Aurora akui, Marvin mempunyai tubuh lebih atletis dari terakhir kali dia melihatnya dan pria itu semakin tampan.
"Sepertinya jadwal makan kamu tidak teratur, karena itu bisa menjadi pemicunya, perutmu kau biarkan kosong hingga asam lambungmu naik.."
__ADS_1
Marvin bangun dan merapikan pakaiannya "Aku berikan resep obat untukmu ada salah satu yang harus kau minum sebelum makan, lalu aku juga berikan vitamin.." Aurora mendongak melihat Marvin yang berdiri di depannya sambil menatapnya datar.
Aurora menahan nafasnya jantungnya masih berdebar kencang saat berhadapan dengan Marvin, jika saja mereka tak harus berpisah.. mungkin saat ini Marvin telah menjadi miliknya, menikah dan hidup bahagia, tapi ternyata semuanya hanya akan menjadi mimpi saja.
Marvin menerima sebuah kertas berisi resep obat dari Aurora lalu berbalik setelah berucap "Terimakasih dokter"
"Marv, apa kau bahagia?"
Marvin menghentikan langkahnya lalu berbalik melihat Aurora yang masih menatapnya dengan sendu.
"Tentu aku bahagia.. sangat bahagia"
Aurora tersenyum "Bagaimana dengan istrimu?"
...
Marvin bahkan masuk dengan terburu- buru tak menghiraukan Hilda yang baru keluar dari kamarnya dan sengaja menghampiri untuk menanyakan kondisi Marvin.
"Ada apa dengannya Dav?" Hilda menatap bingung ke arah Marvin yang kini sudah masuk ke dalam kamarnya.
"Ini obat tuan Nyonya.." Hilda menerima bungkusan putih dari David.
"Oh ya,. bagaimana dengan keadaannya?"
__ADS_1
"Hanya asam lambung naik nyonya.."
"Syukurlah bukan sesuatu yang parah, tapi kenapa dia terlihat dingin"
Davin menimbang apakah harus memberi tahu tentang pertemuan Tuan Marvin dengan Nona Aurora, atau dia harus diam saja "Itu bukan ranah saya untuk berbicara nyonya.."
"Ah, masalah pribadi ya.."
David mengangguk "Baiklah terimakasih Dav.. pulang dan istirhatlah."
Hilda mengetuk dan membuka pintu kamar Marvin dengan nampan di tangannya "Minum obatmu dulu nak."
Marvin baru saja selesai mandi dan mengenakan pakaiannya "Kenapa merepotkan mu Mom, aku bisa minum sendiri.."
"Apa yang terjadi tampangmu semakin hari semakin kacau.."
Marvin menghela nafasnya "Bukan apa- apa.. hanya aku bertemu Aurora.."
Hilda mengangguk tenang "Lalu?"
Marvin mengangkat bahunya acuh "Aku hanya tidak menyangka dari semua kota kenapa harus disini.."
"Lalu itu mengusik perasaanmu? kau masih menyukainya?"
__ADS_1
....