Istriku Tak Gendut Lagi

Istriku Tak Gendut Lagi
Sakit Sekali..


__ADS_3

Monica tersenyum melihat tas belanjaannya, setelah memutuskan untuk mendatangi Marvin, Monica mampir ke swalayan dan membeli bahan masakan untuk dia buat di apartemen Marvin.


Dia akan memasak dan makan bersama Marvin..


Tak di rasa lelah setelah berkendara panjang yang ada hanya rasa bahagia akan bertemu Marvin.


Beberapa hari tidak bertemu dan Monica sudah sangat merindukan Marvin..


Tangan Monica terangkat untuk menekan kode pintu, namun Monica mengeryit saat melihat pintu sedikit terbuka.


Monica mendorong pelan pintu dan melihat sebuah siluet, Monica meneguk ludahnya saat melihat ada Daddy Marvin disana lalu betapa terkejutnya Monica saat mendengar apa yang mereka bicarakan..


Monica membalik tubuhnya dan segera bersembunyi saat Daddy Marvin melihat kearah pintu..


Tangan Monica bergetar dengan mata yang memanas, ternyata benar Daddy Marvin sangat jahat, namun rupanya Marvin lebih jahat lagi, kedua orang itu sangat kejam


Sebelum kedua orang itu menyadari kehadirannya, Monica melangkah cepat keluar dari gedung apartemen Marvin tak dia hiraukan kantung belanjaan yang dia bawa tadi, terjatuh begitu saja.. hatinya sungguh sakit mendengar apa yang Marvin dan Stevan katakan, apa- apaan mereka itu, apa hanya karena harta mereka bisa melakukan apa saja semau mereka, dan mempermainkan hidup seseorang.


Monica terduduk lemas di parkiran apartemen bahkan untuk membuka pintu mobil saja Monica tidak bertenaga, dadanya naik turun dengan tangis yang sudah meluncur deras, menepuk dadanya Monica menahan sesak di hatinya, kenapa dia terjebak dengan orang- orang seperti mereka..


....


Marvin mengepalkan tangannya Daddynya sungguh gila, apa dia tidak berfikir jika dia adalah anaknya, kenapa memperlakukannya seperti sekarang..


"Baiklah.. jika aku berhasil membuat dokumen pengalihan, kau harus melepaskan kami.. termasuk Mommy.."


Daddy Marvin mendengus "Kau rela meninggalkan kemewahan demi wanita gendut itu.. kau bahkan bisa mendapatkan yang lebih dari wanita buruk rupa sepertinya.."


"Dia istriku, apa kau lupa.." Marvin berdesis dan menatap tajam pada Stevan.


"Ya, dan masih aku ingat bagaimana dulu kau menolak dan menentangku.."


"Itulah perbedaan kita.. kau memintaku menerima perjodohan hanya karena harta, dan aku rela melepaskan semuanya agar bisa bersamanya sekarang, tapi bagaimana lagi.. kau bahkan tidak memperlakukan istrimu seperti manusia.."


"Brengsek.."


"Pergilah, dan aku akan datang saat mendapatkan apa yang kau mau.." Marvin menghela nafasnya saat melihat pintu tertutup dan menelan daddynya.


Berjalan gontai Marvin berjalan kearah kamarnya di mana terdengar isak tangis dari seorang wanita..


...


Monica menatap hamparan hijau di depannya, setelah batal menemui Marvin Monica kini berada di pemakaman Ayahnya dan Alexa..


Monica mendudukan dirinya di depan makam Ayah dan Alexa yang bersebelahan..

__ADS_1


tak peduli pakaiannya yang kotor Monica mulai terisak kembali mengingat apa yang terjadi pada kedua orang yang dia sayangi tiga tahun lalu..


"Ayah, aku menyerah.."


"Alexa.. kau lihat aku bahkan sudah langsing dan cantik sepertimu, tapi tetap saja tidak bahagia.."


"Monica..?"


"Kau Monica?" Monica mendongak dan melihat seorang pria yang berdiri di depannya dengan sebuah buket bunga lily kesukaan Alexa.


"Andrew.."


Andrew mengangguk tersenyum "Tidak menyangka setelah tiga tahun tidak bertemu, tapi melihat banyak perubahan padamu, Apa kabar Mo?"


Monica menghapus air matanya, dia tidak terlalu dekat dengan Andrew namun Andrew selalu datang untuk Alexa dan sesekali akan bertegur sapa, terakhir mereka bertemu saat pemakaman Alexa di susul ayahnya yang juga meninggal, setelah itu Monica tidak pernah bertemu Andrew meski Monica selalu datang di ulang tahun Alexa.


"Ya, aku tidak pernah melihatmu.."


"Aku baru kembali dari Brazil, aku kira dengan pergi bisa melupakan kenangan ku den Ale.. tapi ternyata tidak.." Andrew menunduk dengan senyum getir.


Monica terkekeh "Aku bahkan mengira kau sudah menikah dengan wanita lain.."


Andrew menggeleng "Sepertinya aku tidak akan pernah menikah.."


Monica menghela nafasnya "Tidak boleh begitu, Alexa pasti akan bersedih jika kau tidak bahagia An.."


Monica membelalakan matanya "A..pa..?"


"Aku baru tahu saat menemukan kotak hadiah, di apartemenku berisi alat tes kehamilan.. kurasa dia akan memberi kejutan setelah pernikahan.. tapi.." Monica menjatuhkan dirinya kembali, itu berarti tidak hanya dua nyawa yang mati dalam kecelakaan itu tapi tiga..


...


Monica menatap gelas minuman yang ada di depannya dengan tatapan kosong, untuk pertama kalinya Monica memutuskan pergi ke bar itu pun tanpa Sofia dan Agnes, Monica takut.. takut datang sendiri, takut mabuk dan menjadi tidak waras..


Tapi apa pedulinya, sekarang bahkan dia ingin hilang akal..


Dengan sekali teguk Monica menghabiskan minumannya, merasakan pahit dan keras di tenggorokkannya.


Monica menelungkupkan wajahnya di meja dan lagi- lagi air matanya menetes..


Monica melihat ponselnya yang berdering dan menampakan nama -Suami Brengsek❤️-


tapi tangan Monica tidak bergerak sama sekali untuk menerima panggilan hanya menatapnya dengan kekehan pedih di bibirnya.


Nyatanya cinta yang Marvin katakan semuanya hanya semu..

__ADS_1


Dengan langkah sempoyongan Monica memasuki rumah besar yang selama ini dia tinggali, Monica berharap setelah mabuk dia bisa melupakan semuanya tapi kenyataannya semua semakin terlihat jelas dimatanya.


Monica menopang dirinya pada dinding saat matanya tak mampu melihat sekitarnya entah karena pusing atau air mata yang tak berhenti mengalir.


Monica terus berjalan sepanjang dinding dan tak menyadari jika di depannya ada sebuah guci hingga Monica tak sengaja mendorongnya dan guci pun pecah..


Prang..


Akh..


Monica yang tak sempat menyeimbangkan diri jatuh keatas pecahan guci..


....


Marvin berdiri dengan gelisah saat Monica tidak menjawab telponnya..


Saat Marvin datang tidak mendapati Monica di rumah dan Luci mengatakan jika Monica sudah pergi sejak pagi buta dan ini sudah tengah malam, Monica belum kembali juga.


"Kemana kamu Mo.."


Marvin masih berusaha menghubungi Monica dan sekarang ponsel Monica tidak aktif.. Sial..


Prang..


Marvin terlonjak saat mendengar sesuatu pecah dan di susul dengan teriakan, itu suara Monica..


Marvin segera berlari keluar kamar, dan pergi ke lantai satu di mana sumber suara terdengar, terlihat Monica yang sedang berusaha bangun dan dia terjatuh di atas pecahan guci..


"Astaga.. Mo.." Marvin berlari dan membangunkan Monica, beruntung luka Monica tidak terlalu parah hanya tangannya yang terluka mungkin karena menahan beban tubuhnya.


"Ada apa denganmu, hah!? kenapa tidak hati- hati.." Marvin menggendong Monica dan mendudukannya di sofa..


Monica menunduk melihat luka di tangannya. Tangannya berdarah namun tidak terasa sakit malah hatinya yang semakin sakit, dan Monica kembali terisak..


Marvin menyibak rambut Monica "Ada apa?, kamu menangis.." Marvin mengeryit saat mencium bau alkohol dari mulut Monica "Kamu mabuk..?"


Monica terus terisak "Berhenti menangis baby, aku akan mengobati mu.."


Marvin menerima kotak obat dari pelayan dan mulai mengobati tangan Monica "Pelan- pelan ini sakit bodoh!" Monica berkata dengan pelan, tapi Marvin masih bisa mendengarnya.


"Maaf, apa sakit sekali.."


"Sakit.. hiks.. sakit sekali.. hiks.."


Marvin hanya menghela nafasnya, bukan saatnya dia bertanya kenapa Monica bisa mabuk..

__ADS_1


Meski kesal Marvin juga tidak bisa memarahi Monica saat kondisinya seperti sekarang.


...


__ADS_2