
"Lalu itu mengusik perasaanmu? kau masih menyukainya?"
Marvin terkekeh "Kau bercanda Mom." Marvin menggeleng "Aku bahkan sudah lupa dengannya jika tidak bertemu tadi.."
"Cintaku hanya Monica, istriku" Marvin menghela nafasnya saat mengingat dia belum menemukan Monica.
"Lalu kenapa kau kacau saat bertemu dengan Aurora?"
"Siapa bilang aku kacau karena bertemu dengannya.." Hilda mengerutkan kening nya dan tak melepas tatapannya dari Marvin.
"Aku bahkan sudah kacau sebelum bertemu dengannya" Marvin mengingat pertemuannya dengan Sofia, sahabat Monica pun tak tahu keberadaan Monica, apakah Monica pergi ke luar negeri..
Tunggu.. benar, Monica pasti pergi ke luar negeri karena orang suruhan Marvin sudah mengelilingi New York tapi tidak menemukannya, tapi ke negara mana Monica pergi.
Marvin meremas rambutnya..
"Aku ingin tidur Mom.."
"Baiklah istirahatlah.."
"Jangan terlalu di pikirkan, kau harus jaga kesehatanmu, okay?"
"Hmm.. terimakasih Mom.."
Setelah Hilda pergi Marvin menekan ponselnya "Bagaimana?"
"Maafkan aku tuan, sepertinya ada seseorang di belakangnya hingga saya tak bisa memeriksa data- data bandara.. kemana nyonya pergi"
__ADS_1
"Jadi dia benar pergi ke luar negeri.."
...
Diantara semua kesedihan dan rasa rindu yang menyiksa Marvin masih terus bekerja, dan berusaha keras agar perusahaannya bisa terus naik dan naik.
Sudah dua bulan Monica pergi, Marvin sudah hampir gila karena membiarkan wanita itu diluar sana.. apa kabar dulu Monica yang menunggunya selama tiga tahun, dan dirinya pasti sudah mati jika harus menunggu selama itu..
Di sela- sela kesibukannya Marvin selalu menemani Mommynya berbelanja, Hilda yang setelah berpisah dari Stevan pun mulai memasak sendiri dan menyukai kegiatannya hingga dia harus membeli bahan- bahan untuk Mommynya menghabiskan waktu di rumah.
"Mom lupa membeli susu, bisakah kau membeli buah, ingat pilih yang segar dan bagus.."
Marvin mengangguk, dan Hilda segera pergi ke konter susu, sengaja Hilda lakukan agar Marvin tidak banyak melamun, karena sejak memasuki super market Marvin tetap diam.
Hilda mengerti Marvin sangat merindukan Monica, dan entah kapan dia bisa bertemu dengan menantunya itu dan menjelaskan semua yang terjadi.
"Marv.." Marvin di kejutkan oleh seseorang yang memanggil namanya dan segera menoleh "Kau belanja?"
Marvin tersenyum miring "Ya.."
Aurora memasukan apel ke keranjangnya "Kau belanja bahan dapur Marv? ah.. kau menemani istrimu ya?"
Marvin melihat ke arah keranjangnya dan ke arah wajah Aurora, namun dia tidak menanggapi. "Itu.." tunjuk Aurora pada daging yang ada di keranjang Marvin. "Aku lihat dagingnya kurang segar, kau harusnya memilih dengan seksama."
"Aku tahu kau berpengalaman berbelanja bahan makanan, bahkan kau yang mengajariku dulu, jadi pasti istrimu yang memilihnya.. tapi Marv daging yang tidak segar tidak enak jika di masak... dan juga..
Marvin tetap diam dia bahkan mengambil buah yang akan dia beli dan memasukannya ke dalam keranjang.
__ADS_1
"Marv kau sudah selesai.." Hilda datang dan menghentikan ucapan Aurora "Oh, bukankah kau Aurora?"
Aurora tersenyum manis "Oh, halo bibi bagaimana kabarmu .."
"Aku baik, bagaimana denganmu?"
"Aku juga baik bibi.."
"Aku sudah selesai Mom.." Marvin segera menyela dan ingin segera pergi dari sana.
"Oh, baiklah jika begitu kami pulang dulu ya, Aurora.."
"Oh.. ya bibi, senang bertemu denganmu.. bolehkah sesekali aku berkunjung, aku rindu mengobrol dengan bibi.."
Marvin mengangkat alisnya, dan Hilda tersenyum "Tentu saja.. datanglah sesekali ya.."
"Ah, ya .. Mom. Aurora bilang daging yang kau pilih tidak segar" Aurora menelan ludahnya kasar, tak menyangka jika daging yang dia komentari adalah pilihan bibi Hilda, Mommy Marvin.
"Ah.. benarkah.. perlukah kita ganti?"
Marvin mengangkat bahunya "Baiklah jika begitu, Rora.. kami pergi dulu ya.. karena Marvin juga harus bekerja.."
Aurora mengangguk lalu meringis setelah punggung Marvin dan Hilda menjauh, Aurora kira Marvin pergi berbelanja dengan istrinya, saat melihat Marvin, Aurora segera menghampiri dan sangat antusias bertemu Marvin, merasa senang saat tak sengaja dia bertemu di super market, namun rupanya Marvin datang dengan Hilda lalu kemana istrinya yang kata Marvin baik- baik saja dan mereka hidup bahagia.
Teringat ucapan Marvin waktu itu saat dia bertanya bagaimana dengan istri Marvin.
"Istriku? tentu kami baik.. dan kami sangat bahagia.. kami sedang melakukan program hamil karena istriku ingin segera memiliki bayi."
__ADS_1