
"Marv tenanglah!" Hilda mencoba membuat Marvin tetap sadar saat ini Monica tengah mengalami kontraksi dan terus meringis, Monica tersenyum melihat Mommy Marvin menenangkan pria yang sejak tadi mondar- mandir di depannya.
"sssshhh"
"Benar bukan ini baru satu bagaimana jika tiga, dan kau terus kesakitan sejak kemarin, kita lakukan sesar saja.. ya!" Monica memang mengalami kontraksi sejak kemarin, dan sejak kemarin pula Marvin dilanda panik. 7
Monica menggeleng "Ini masih bisa ku tahan Marv.."
"Lalu apakah ada cara, biar aku saja yang merasakan sakitmu.." Marvin mengecup tangan Monica, namun pandangannya terus gusar, dia sungguh tidak kuat melihat Monica kesakitan.
Hilda menggeleng dan terus menggosok punggung Monica, agar Monica merasa nyaman.
"Akh.. Mom, ini sakit!!"
Marvin semakin panik saat tiba- tiba Monica memekik kesakitan, dan dokter yang sejak tadi menunggu pun bersiap untuk membantu persalinan Monica.
Marvin meneteskan air matanya saat melihat Monica mulai mengejan..
"Ayo sayang sedikit lagi.." Mommy Marvin juga terus menguatkan menantunya.
"Ya.. Baby kau pasti bisa.."
"Ya, tuhan.. bantu istriku!!" Doa Marvin saat Monica mengejan dengan sekuat tenanga, dan...
Uweee...
Uweee..
Suara tangisan memecah keheningan saat Monica menarik nafas lega.. bayinya berhasil keluar dengan selamat dan tangisan kencang.
"Oh.. Good.." Marvin mengecupi wajah Monica "Terimakasih Honey.."
"Seperti perkiraan kita, bayi perempuan.." Dokter sudah selesai dengan bayinya dan menyerahkannya pada Marvin.
Marvin kembali menangis haru saat tangannya yang bergetar memeluk bayi perempuan yang sudah bersih.
"Oh, biarkan nenek menggendongmu.." Marvin menyerahkan bayinya kepada Hilda, sedangkan dirinya mendekat ke arah Monica yang juga selesai di bersihkan.
Marvin mengecup bibir Monica dan tersenyum "Terimakasih Honey.."
"Terimakasih untukmu juga Marv, kau juga berjuang denganku.."
Marvin mengangguk "Aku akan selalu ada untukmu"
...
"Honey!! Isa mengompol di pangkuanku!!" Marvin berteriak saat bayi berumur lima bulan itu mengompol, bukan apa- apa dia sudah bersiap akan ke kantor, tapi seperti biasa dia menggendong Isabella sebelum berangkat.
Isabella Alfaro bayi yang Monica lahirkan lima bulan lalu itu sedang menepuk pipi Marvin.
"Sudah ku katakan Isa tidak memakai popok, Marv.. kau bersi keras menggendongnya." Monica muncul dari dapur membawa kopi untuk Marvin.
__ADS_1
Dari arah kamar Hilda datang dengan celana dan popok baru untuk Isabella "Berikan pada Mom.." Hilda membawa Isabella untuk ia kenakan popok.
"Aku merepotkan mu Mom." Monica berkata dengan menyesal, sedangkan Marvin pergi untuk membersihkan diri.
"Tidak masalah, kau harus membantu bayi besarmu, setelah ini akan mom bawa Isa jalan- jalan."
Monica berkata terimakasih lalu pergi ke kamar untuk menyiapkan pakaian Marvin.
Saat Monica masuk Marvin sudah berada di kamar mandi karena terdengar gemericik air dari arah sana.
"Honey, aku lupa handukku!" teriak Marvin dari arah kamar mandi.
Monica menghela nafasnya, lalu meraih handuk di lemari, Monica mengetuk pintu dan Marvin menjulurkan tangannya, namun bukannya mengambil handuk tangan Marvin justru menarik tangan Monica hingga Monica masuk ke dalam kamar mandi.
"Hey.." Monica terkejut saat Marvin menariknya ke dalam shower bersama masih dengan mengenakan pakaian "Marv, aku sudah mandi!"
"Aku juga, tapi tidak ada salahnya kita mandi lagi.."
"Tapi Marv, Isa..." Ayolah ini bukan hanya acara sekedar mandi saja, dan ini tidak akan selesai sebelum Marvin puas.
"Aku tahu Mom membawa Isa pergi, Mommy sangat perhatian bukan..." Marvin menyeringai mulai merapatkan tubuh nya dan membiarkan air hangat dari shower membasahi tubuh mereka.
Marvin mulai meremas tubuh Monica yang terlihat lebih gemuk dari sebelumnya, efek dari kehamilan yang juga faktor menyusui Monica juga mempunyai payudara yang lebih besar dan Marvin suka itu, inilah gendut sehat yang Marvin maksud..
Istrinya memang tidak gendut seperti dulu, namun Marvin tidak akan mempermasalahkan jika karena Isa Monica memang harus menjaga asupannya hingga kini Monica terlihat lebih montok dan seksii.
"Oh, Marv.." Marvin meremas bookong Monica hingga wanita itu mendesis.
Monica hanya diam menikmati setiap sentuhan Marvin tidak ada gunanya menolak jadi Monica memilih membiarkan saja dan menikmati..
Marvin selalu gila dengan apa yang ada pada Monica, seperti sekarang rasanya Marvin tak ingin berhenti dan terus menghujami Monica.
Monica mengangkat tangannya saat kaosnya berhasil Marvin tanggalkan, dan Marvin tak berhenti terus melahap semua yang ada di diri Monica.
Monica sudah menyandar pasrah di tembok dengan di temani air shower yang terus mengalir, mereka serasa bercintaa di tengah hujan.
Monica melenguh dan berpegangan pada dinding dengan tubuh meliuk, dia merasakan dirinya lemas saat di bawah sana Marvin terus melahapnya dengan rakus, dan Monica hanya bisa melebarkan kaki membiarkan Marvin melakukan nya sesuka hati.
"Akhh.." Monica menjerit tertahan saat gelombang dahsyat melandanya diiringi gigitan kecil yang Marvin lakukan di bagian intinya, di lanjutkan dengan hisapan kuat seolah Marvin menyesap semua cairan yang di keluarkannya.
Monica sudah lemas jika saja Marvin tak menahan tubuhnya, efek dari kejut diri yang baru saja terjadi padanya.
Marvin menahan Monica dengan merapatkan tubuhnya dengan tangan yang bergerak dan mulai melucuti setiap penutup di tubuhnya, hingga kini tak ada satupun penghalang diantara mereka.
Monica melenguh saat merasakan gesekan dari benda panjang berurat tepat di bagian tubuhnya, oh.. ini masih panjang dan dia harap Mommy masih diluar sana bersama Isa.
Marvin membalik tubuh Monica membelakanginya tanpa melepas bibir mereka, hingga kini Monica harus mendongak untuk bisa mencapai bibir Marvin.
Monica kembali di buat melenguh saat Marvin mulai memasukinya dari belakang membuat Monica harus sedikit membungkuk agar posisinya menjadi nyaman.
Masih berpegangan pada dinding kaca Monica membiarkan Marvin mulai menghentak dengan ritme teratur, dari pelan, dalam dan semakin lama semakin cepat.
__ADS_1
Tangan Marvin juga tak tinggal diam terus meremas dan mencubit benda kenyal kesukaan putri mereka.
Dari belakang bibirnya juga tak tinggal diam menj ilat dan mengghisap punggung Monica hingga menyisakan kemerahan di beberapa titik.
"Oh.. Marv aku tidak tahan.."
"Sebentar lagi Baby.." Marvin menghentak lebih cepat seiring nafasnya yang kian memburu..
Marvin menarik Monica agar berbalik ke arahnya dan mengangkat sebelah kakinya lalu kembali memasukinya, hingga membuat Monica menjerit tertahan akibat benda tumpul yang kembali merasuki dirinya.
Tak puas Marvin mengangkat Monica hingga kini berada di pangkuannya dengan tubuh mereka yang masih menyatu.
Monica menggeleng dia sudah tak tahan, seluruh tubuhnya mulai menegang merasakan Marvin memasukinya begitu dalam.
"Aku.. akan selesai Marv.."
Marvin mempercepat gerakannya, dan menghentak dengan kuat hingga..
Ahkk..
Nafas keduanya memburu seiring rasa puas yang di dapat hingga Monica memukul pundak Marvin yang terkekeh "Minggirlah, jika tidak Isa dan Mom akan segera pulang"
"Okey.. terimakasih Honey" Marvin memberi ciuman lalu melepas tubuh mereka.
Marvin tersenyum puas sedangkan Monica terus menggerutu, bagaimana tidak Marvin jadi terlambat ke kantor dan Monica sendiri jadi terlambat menyiapkan sarapan, beruntung dia sudah selesai memasak tadi.
Sejak Isabella lahir waktu keduanya memadu cinta memang sedikit berkurang dan hanya saat Isa tidur atau pergi dengan Hilda barulah Marvin bisa menyerang istrinya.
Itupun jika Isa tidak tidur nyenyak terkadang bayi itu mengganggunya di tengah jalan, karena jelas Monica akan memilih meninggalkan kegiatan panas mereka dan menenangkan Isa.
Bukan berarti Marvin tidak merasa puas, hanya saja Marvin fikir dia harus pintar mencari waktu agar tetap harmonis dan bahagia.
Hilda dan Isa baru pulang saat Monica menyiapkan sarapan di meja makan ini sudah pukul 8, 30 sudah sangat terlambat untuk sarapan mereka.
Di dalam kamar Marvin baru saja selesai mengenakan jam tangan melihat ke arah ponselnya yang berdering, dengan segera Marvin mengangkat panggilan tersebut ketika melihat nama David disana.
"Ya, David?"
"Tuan, ada kabar buruk dari Tuan Stevan semua berita muncul di televisi dan media sosial.." dengan cepat Marvin keluar kamar untuk menghentikan Mommynya menyalakan televisi, namun terlambat saa tiba di ruang keluarga Marvin melihat Hilda sedang terpaku pada layar televisi dimana berita Steven di tayangkan.
"Berita terbaru, pengusaha kaya Stevan Alfaro di temukan tewas di kediamannya dengan beberapa tusukan yang di temukan di sekujur tubuhnya, di perkirakan pelakunya adalah salah satu pesaing bisnis.." Marvin segera mematikan televisi, dan menatap Mommynya yang berkaca- kaca.
"Mom?" Marvin tahu, meski Hilda mengatakan baik- baik saja dan membenci Stevan, tapi rasa cinta itu pasti masih ada.
"Mom, tidak apa.. hanya saja kenapa harus seperti ini jalannya.. " Hilda mengusap air matanya, lalu melihat Monica yang juga terpaku dengan Isa di pangkuannya, "Maafkan kesalahan suamiku Mo.." Monica hanya mengerjapkan mata lalu mengangguk.
Monica sudah bilang dia merelakan semuanya, dan membiarkan alam yang menghukum Stevan, dan ternyata hukum alam memang berlaku.
Semua yang dilakukan oleh Stevan kembali lagi kepada dirinya.
...
__ADS_1
Dah ah.. serius ini tamat pada gak percaya malah minta THR lagi😔 padahal kan aku yang mau minta THR dari kalian, eh keduluan😅