Izinkan Aku Bersamamu

Izinkan Aku Bersamamu
Ep. 10


__ADS_3

Ku terbangun dari tidurku, karna terdengar suara ketukan pintu di kamarku.


Tok...Tok...Tok..


" Om, bukain pintunya!"


" Ya, tunggu sebentar."


" Ada apa Nes, Om lagi istirahat nih."


" Om, Nesya ingin ke tempat Bu Liza. Mau mengantarkan kue ini," ucapnya sambil menunjukkan kue yang dia bawa.


" Sayang, sekarang sudah ada Grab. Jadi tinggal hubungin beres deh!"


" Ooom...," rengeknya kepadaku


" Ya, tunggu Om ganti baju dulu."


Nesya segera turun menuju lantai bawah, ia menunggu Om nya sambil bicara sama Bunda. Bunda sangat senang dengan perubahan Nesya. Nesya yang dulunya manja ketika sebelum sekolah, kini menjelma menjadi anak yang mandiri.


Bunda Elin, ingin sekali menjodohkan Liza sama adiknya. Karna sosok Liza lah yang mampu mendampingi adiknya.


Ia sempat berpikir, kenapa adiknya minta nomor Liza? Ingin sekali ia tanyakan, tapi belum sempat.


" Hai Kak," Sapaku.


" Wah, kemana nih kalian berdua?" Kata Kak Elin.


" Kamu sudah izin belum Nesya sama Bunda?"


" Hehehehe, belum Om."


" Ampun deh, anak kecil ini."

__ADS_1


" Ye Om, Nesya udah 6 tahun. Bentar lagi SD." Sambil meluk Bunda😉.


" Ya Nesya sayang, kami mau ke tempat Liza, Kak."


" Hah, ngapain kalian kesana? Jangan-jangan kamu mau ngajak jalan ya!"


" Nggak Kak, mau ngantar kue itu," sambil menunjuk kue yang berada di atas meja.


" Oh, ya sudah. Sana berangkat!"


" Ok," sahut mereka bersamaan.


Aku hari ini mengajak Nesya naik motor Vario, maklum aku malas membawa mobil.


Aku bertanya kepada Nesya, alamat rumah Liza. Dia menunjukkan secara fasih alamat rumah tersebut.


" Benar disini Nes, tempatnya Liza?"


" Iya Om, Nesya nggak lupa koq."


Kami berdua mengetuk pintu kos Liza.


Tok...Tok...Tok


Sampai tiga kali, nggak ada sahutan dari dalam.


" Maaf Mas, Liza nya sedang pergi ke luar. Katanya beli makanan."


" Oh, sudah lama Mba keluarnya?"


" Sudah Mas, sekitar 30 menit yang lalu. Tunggu aja!"


" Oke Mba, makasih."

__ADS_1


Kami berdua duduk di depan pintu kamarnya, untung disini tersedia kursi. Jadi aman, untuk kami istirahat.


Ku dengar suara motor masuk di halaman kos, ternyata suara deru motor Liza. Ku lihat, Nesya menghampiri Liza dengan penuh semangat.


" Sayang, koq kamu disini? Dengan siapa?"


" Om Bu,"


" Oh, ayo masuk Nak! Nesya sudah makan?"


" Belum Bu Liza,"


" Oke, Bu Liza beli makanan. Mau makan bareng!"


" Mau banget Bu."


Aku dan Nesya dipersilahkan Liza untuk masuk ke kamarnya. Ku lihat kosnya kecil, hanya ada dua ruangan. Ruangan dapur plus wc dan ruangan tidur. Ruangannya sangat rapi terlihat. Ku lihat, banyak buku berjejer di tempat ini.


" Maaf Riza, kosku sangat kecil."


" Nggak papa koq Liza."


" Tunggu ya, kita makan sama-sama. Karna tadi aku beli makanan."


" Nggak usah repot, kami cuma mengantar ini."


" Terimakasih, tapi nggak merepotkan koq Riza. Karna Nesya belum makan."


Aku pun melihat cara Liza menyiapkan makanan untuk kami berdua. Senang rasanya, ada yang melayani seperti ini.


Aku teringat dengan Sania, Sania tipe istri yang menurutku cuek. Karna di rumahku ada pembantu. Jadi setiap pagi sampai sore, makanan selalu tersaji di meja makanan. Sania cuma menemaniku makan, tapi untuk membuatkan makanan ke dalam piring itu tidak pernah terjadi selama pernikahan kami berlangsung.


Aku terharu dengan pelayanan Liza kepadaku. Dia sangat cekatan, sekali ku lihat dia menyuapi Nesya yang sedang menikmati makanannya.

__ADS_1


****


Gimana kawan, udah mulai suka nggak dengan ceritaku😁


__ADS_2