Izinkan Aku Bersamamu

Izinkan Aku Bersamamu
Ep. 6


__ADS_3

Ternyata Bunda Elin yang whatsapp ku.


Aku pikir dia, oh kenapa diriku memikirkan orang yang tak pantas.


Aku ingin menghilangkan dia dalam pikiranku.


Aku buka perlahan whatsapp dari Bunda Elin.


📱Assalamu'alaikum Bu Liza🤗


📱Wa'alaikumussalam Bu


📱Ada apa Bunda?


📱Besok hari sabtu kan Bu, besok di rumah kami ada acara arisan Ibu-ibu Komplek jam 2 siang, nah saya mau mengundang Bu Liza. Pasti Nesya senang melihat Bu Liza😘


📱InsyaaAllah, saya datang Bu. Terimakasih atas undangannya.


📱Sama-sama Bu Liza


*****


Aku sempat berpikir, pasti ketemu dia lagi. Bagaimana ini? apakah aku tak datang ya🤔. Tapi pasti Nesya sedih, ah aku jadi delima untuk saat ini. Aku sempat mencari cara untuk membatalkan, ku pegang handphone ku. Ku urungkan kembali niatku, aku harus mampu menghadapi ini semua.


****


Jam dinding ku lirik menunjukkan pukul 13.30 siang, ku harus berangkat ke rumah Bunda Elin.

__ADS_1


Aku melajukan motorku dengan kecepatan sedang, karna aku tak mau sampai duluan. Akhirnya aku pun menginjakkan kaki di halaman rumah Bunda Elin.


Seketika itu Nesya menghampiri kedatanganku, seperti biasa yang dia lakukan ketika bertemu dengaku. Peluk dan cium, itulah bentuk kasih sayangnya kepadaku.


Nesya menuntun tanganku, untuk masuk ke dalam rumahnya.


" Ya ampun, ternyata ada Om Riza di sana." Gumanku dalam hati.


Ingin rasanya aku lari dari tempat ini, tapi itu


tak mungkin. Aku memberanikan diri, dan menyapa mereka semua.


" Makasih Bu Liza udah datang, oh ya Bu Liza perkenalkan ini istrinya Riza, Sania."


Aku pun memperkenalkan diri.


" Senang berkenalan denganmu."


" Aku juga Sania, oh ya ini anakmu? Siapa namanya?"


" Namanya El Zhio."


" Nama yang indah." Ucapku kepada Sania.


Aku pun menghampiri Bunda Elin, untuk membantunya. Tapi, Bunda Elin malah menyuruhku untuk duduk saja. Aku duduk disamping Nesya yang menemaniku.


Acara arisan berlangsung dengan khidmat, setelah selesai aku langsung berpamitan dengan Bunda Elin untuk pulang.

__ADS_1


Tak seperti biasanya, Nesya langsung mengizinkan diriku untuk pulang. Tak ada drama yang dia lakukan.


*****


Akhirnya aku kembali ke Kos ku. Kediaman untuk berlindung dari terik matahari dan hujan.


Ku teringat dengan orangtuaku. Ku telpon Bunda berkali-kali, tapi tidak panggilan satu pun yang terjawab. Membuatku sedih😥


Aku kangen Bunda, gimana kabarmu Bunda? Apakah dirimu disana sehat, aku ingin pulang ke India. Tapi tak mungkin, itu terjadi. Pasti aku akan di nikahkan. Ini kan bukan zaman Siti Nurbaya lagi.


Diriku paling suka baca buku sejarah bangsa Indonesia. Disinilah diriku tumbuh menjadi dewasa, aku banyak belajar tentang kehidupan, saling menghormati, saling membantu dan bahkan saling menyayangi.


Di Negara Bundaku juga begitu, tapi Indonesia lah tempat ku berpijak saat ini.


Aku langsung mencek jadwal kegiatanku hari ini, seperti biasa jadwal latihan memanah dan siaran radio.


Aku langsung mengemudikan motorku ke tempat latihan memanah, walau sudah jadi senior. Tapi, bagiku kesenangan untuk berlatih dan bergaul sudah jadi makananku di sini.


Sesampainya di tempat latihan, seperti biasa aku harus melakukan pemanasan untuk merenggangkan otot-ototku agar tak tegang saat melepaskan anak panah.


Aku siap melesatkan anak panah pada jarak 15m, seperti biasa konsentrasiku pudar. Sehingga anak panahnya melesat ke papan triplek, ku lihat memang tembus dari papan triplek.


Biasa dalam hal latihan memanah, selama 1 jam aku berlatih memanah. Setelah itu, aku bersiap ke studio untuk melakukan siaran.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2