Izinkan Aku Bersamamu

Izinkan Aku Bersamamu
Ep. 16


__ADS_3

" Mas, nanti ya ku pakai baju itu," ucapku dengan wajah memelas.


Padahal aku sangat malu, memakai baju tersebut.


" Oke yang, tapi kapan?" Jawabnya kepadaku


" Kapan aja boleh," sambil tersenyum aku kepadanya.


" Berarti aku juga boleh, melakukan tersebut." Ia jawab dengan tertawa terbahak-bahak.


" Nggak lucu Mas,"


" Lucu tahu, apalagi melihat wajahmu. Pengen ku cubit dan ku makan."


" Gombal deh,"


" Nggak papa sama istri sendiri."


" Kita ke bawah yuk, nanti Kak Elin menunggu."


" Oke, tapi ada syaratnya."


" Apa syaratnya Mas," tanyaku kepadanya. Aku mulai menebak kemana alur berfikirnya.


Tebakanku benar, ternyata Mas Reza memberikanku syarat memakai baju tersebut atau memberikan ciuman di pipi.


Aku lebih memilih ciuman di pipi, baru pertama aku merasakan hal tersebut. Karna, aku tidak pernah pacaran sama sekali. Apalagi menyentuh seorang laki-laki.


Itulah yang membuatku tersipu malu dengan suamiku sendiri.


Setelah menyelesaikan syarat dari Mas Reza, kami turun dan bergandengan tangan.


Nesya yang melihat aku turun, berlari ke pelukanku. Tapi, yang menangkap malah Mas Reza.


" No, no, no, Nesya. Sekarang Bu Liza sudah milik Om."


Nesya mau menangis dan sambil berkata, " Bu Liza milik Nesya, Nesya sayang sama Bu Liza. Om nggak boleh ambil Bu Liza."


" Nggak Nesya, sekarang Om suaminya Bu Liza."

__ADS_1


" Mas, kasian Nesya. Dia mau nangis,"


Nesya menangis tersedu-sedu, aku pun meraih tangan Mas Reza untuk mengambil Nesya dalam pelukannya.


" Sayang, kenapa menangis?"


" Om sayang sama Bu Liza dan juga Nesya. Om cuma bercanda, ya kan Om Reza?"


" Ya, maafin Om ya sayang,"


" Om janji," ucap Nesya.


" Ya, Om janji sayang."


Selama menjadi guru Nesya, aku sangat bahagia melihat perkembangan anak ini yang begitu pesat. Dia sebentar saja menangis.


" Liz, bisa bantu Kakak nggak?"


" Bisa Kak, tunggu."


Aku menyiapkan makan malam, setelah selesai disiapkan. Aku menuangkan nasi dan lauk pauk ke dalam piring suamiku.


" Kak, kenapa menangis?" Tanyaku kepadanya.


" Nggak papa Liz, Kakak sangat bahagia melihat Reza dan kamu."


" Kak, aku juga bahagia menjadi istri Mas Reza. Aku ucapkan terimakasih banyak, telah menerima segala kekuranganku."


" Kami juga Za,"


" Aku juga yang, sangat bersyukur menjadi suamimu."


" Yuk kita makan Kak dan Mas, nanti nggak enak lagi terkena dampak hujan."


Mereka berdua tertawa melihat lawakanku.


" Bu Liza, boleh nggak Nesya panggil Tante?"


" Boleh sayang,"

__ADS_1


" Hore, hore, Nesya sudah punya Tante."


" Nesya ingin disuapin Tante?"


" Sini sayang, Tante suapin."


" Om juga mau disuapin sama kamu sayang!"


" Ya boleh, tapi bergantian."


" Hore," jawab mereka serempak.


Setelah selesai makan, seperti biasa aktifitas rumah aku yang kerjakan. Ku lihat, malam ini cuma mencuci piring.


Ku selesaikan semuanya, dan aku pun kembali ke dalam kamar.


" Kamu sudah selesai yang,"


" Sudah Mas, memang kenapa?"


" Aku boleh nggak tidur meluk kamu?"


" Boleh,"


" Hore, terimakasih yang!"


Pertama kali aku tidur bersama dengan orang yang halal bagiku, ternyata sangat gugup. Aku sudah berada dipelukan Mas Reza. Dia memelukku dari belakang.


Nafasnya terasa ditengkukku, tapi aku cuma bisa pasrah merasakan hal tersebut.


Aku mulai memejamkan mata, jujur dalam relung hatiku.


Aku tidak bisa tidur, tapi Mas Reza tertidur dengan pulas.


Dia malah mengeratkan pelukannya ke pinggangku, ketika ku bergerak ia malah semakin dekat wajahnya ke tengkukku. Aku hanya bisa berdoa, semoga malam ini cepat berlalu.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2