
Hari yang dinantikan pun tiba, aku sangat gembira akhirnya bisa menikah sama Reza Dirgantara Wijaya.
Dua bulan lebih, aku melihat perjuangan Reza untuk menghalalkan diriku.
Aku sangat bersyukur, ketika dia mengucapkan janji di depan Penghulu. Aku meneteskan air mata kebahagiaan.
Dia membelai dan mencium pucuk kepalaku, dia tengadahkan kedua tangannya sambil membacakan doa untukku.
Aku pun mengaamiinkan doanya, dan mencium tangannya. Aku lihat, Sania berhadir di pernikahan kami berdua.
Dia menangis melihat Mas Reza, sebagai perempuan aku tahu akan perasaannya. Tapi, bagiku Sania sudah tak ada hubungan apapun dengan Mas Reza.
" Sayang, kamu capek?" Ucap Mas Reza kepadaku.
" Nggak koq Mas, aku ingin bersama Mas sampai acara ini selesai!"
" Makasih sayang," jawab Mas Reza sambil mencium pucuk kepalaku.
Para tamu mulai berdatangan, kami satu persatu menyalami mereka. Saat Sania mendekat, ku genggam tangan Mas Reza. Mas Reza tahu maksudku. Dia menggenggam tanganku.
" Aku sudah menjadi milikmu, jangan kau takut. Aku akan selalu menjagamu," bisik Mas Reza ke telingaku.
Aku tersenyum melihat sikapnya yang dewasa. Sania, kamu orang yang rugi. Meninggalkan suami yang mencintaimu hanya demi karir. Sungguh kamu egois Sania, tapi sekarang kamu sudah mendapatkan balasannya.
Aku akan bersama Mas Reza sampai ajal menjeput.
******
__ADS_1
Para tamu undangan telah meninggalkan rumah Kak Elin, kini ku lihat banyak sampah berserakan dimana-mana.
Ku ingin membantu membersihkan, tapi Kak Elin menyuruhku untuk istirahat di kamar.
Aku pun melangkah kaki menuju kamar Mas Reza, pertama kalinya aku memasuki kamar ini. Kamar yang sangat bagus dari kamar kosku.
Ku lihat Mas Reza sudah terlelap, aku perlahan mendekatinya. Ku belai setiap ukiran diwajahnya secara perlahan, ternyata tangan Mas Reza langsung memegang tanganku. Dia tak tidur, membuat ku semakin kikuk di hadapannya.
" Mau apa kamu sayang?"
" nggak papa koq Mas," jawabku
" Apa kamu kurang puas memandang wajah suamimu yang ganteng ini,"
" Ya aku kurang puas memandang wajah suamiku yang ganteng ini."
Jantungku semakin berdebar, " Kenapa aku mengatakan itu." Gumamku dalam hati.
Dia membisikan kata-kata yang membuatku bergidik, " Apakah kamu sudah siap sayang malam ini?" deru nafasnya terasa ditengkuk ku.
" Mas, maaf." Sambil menunduk, aku tak mau menatapnya karna aku belum siap untuk hal itu.
Aku tahu, bahwa itu salah. Dia melihat ketidaksiapan diriku. Dia memberikan isyarat bahwa melakukan tersebut tidak perlu tergesa-gesa.
" Sayang, sampai kapan kamu mau aku peluk?"
Aku terkejut mendengar ucapannya, celetuk ku kepadanya " Ye, kamu sendiri yang memelukku. Aku juga mau mandi."
__ADS_1
" Mandi bareng mau?"
" nggak mau, malu Mas!"
" Kita kan sudah sah, sayang."
" Aku tahu suamiku, tapi aku malu sama kamu."
Aku pun langsung berlari menuju kamar mandi, setelah selesai mandi. Aku lupa membawa handuk ke dalam.
" Ah, gimana ini? Apakah aku minta tolong sama dia? Tapi aku takut, kalau terjadi sesuatu nantinya."
Aku pun kembali memasang baju pengantin dan keluar dari kamar mandi. Dia melihatku sambil mengedipkan matanya, membuat hatiku semakin baper.
" Sayang, mau dibantu memakaikan baju ini."
Aku terkejut, ternyata dia menyuruhku memakai pakaian sangat terbuka untuknya.
" Aku malu memakai itu,"
Dia memohon, sambil mendekatiku.
" Pakailah ini sayang, aku ingin melihatku."
Aku bingung mau berbuat apa, karna pakaian itu sangat terbuka dan pastinya memperlihatkan semua bentuk tubuhku kepadanya.
.
__ADS_1
.
.