
Sejak kepergian aku ke Pontianak, antara aku dan Riza belum berkomunikasi apapun. Perasaan rindu yang aku rasakan sekarang, tapi aku gengsi untuk menghubunginya.
Perjalanan ke Pontianak demi kegiatan relawan, kami berkumpul untuk merumuskan kegiatan relawan selama satu tahun.
Kegiatan tersebut berlangsung selama 3 hari, sebelum pergi meninggalkan kota Pontianak. Aku dan Mona, jalan-jalan mengelilingi pusat kotanya.
Tiba-tiba, ada seorang memanggilku dari kejauhan. Aku kenal dengan suara tersebut. Dia adalah Riza.
" Liza, tunggu!"
Aku pun berhenti berjalan, aku suruh Mona untuk pergi duluan. Karna tempat menginap kami, sangat dekat dengan pusat kota.
" Ya, ada apa Riza?"
" Aku mau bicara sama kamu!"
" Bicara tentang apa?"
" Kita bicaranya di sana ya, tempatnya bagus," ucapnya.
Aku pun mengikuti dari belakang, setelah sampai aku pun duduk di bangku tersebut. Dia memulai pembicaraan denganku.
" Liza, maafkan aku atas kejadian tiga hari yang lalu."
" Ya sudah ku maafkan."
" Terimakasih, tapi aku memang serius untuk menjadikanmu istriku."
__ADS_1
" Za, aku tahu kamu serius. Tapi aku nggak bisa Za. Aku akan menyakiti Sania, dia istrimu."
" Liza, aku akan minta izin dengannya dan juga Kaka Elin."
" Ini salah Za, nggak akan ada perempuan yang mau tersakiti apalagi di duakan Za. Tolong lupakan aku."
" Liza, aku tak sanggup untuk melupakanmu."
" Za, maafkan aku. Aku akan berhenti untuk mengenalmu."
Liza pergi meninggalkan Riza yang terdiam atas jawaban Liza.
Tatapan kosong, sakit dan hampa yang ia rasakan.
Semenjak kedatangan Riza di Pontianak, Sania selalu sibuk dengan urusannya. Riza membujuk istrinya untuk tinggal di rumahnya, tapi ditolak Sania.
Riza memberikan pilihan kepada Sania, apakah tetap tinggal disini atau pulang?
Riza menangis akan masalah dirinya. Ia kembali ke rumah Sania dengan wajah menunduk dan lesu.
Sania mendiamkan Riza cukup lama, sampai akhirnya Riza bicara tegas kepada istrinya.
" Besok, aku akan pulang. Kamu ikut atau tidak?"
" Aku tidak akan ikut yang," ucap Sania dengan nada yang tinggi.
" Oke yang, kamu memilih karir atau aku sebagai suamimu?"
__ADS_1
" Aku memilih karir, aku ingin berkarir yang. Aku tak ingin jadi perempuan yang hanya diam di rumah. Aku bukan perempuan seperti itu. Aku ingin bebas."
" Kamu istriku yang, dan aku suamimu. Satu pertanyaan terakhir untukmu. Apakah aku boleh menikah?"
" Tidak boleh, aku tidak setuju kamu menikah."
Suasana di rumah Sania sangat mencekam, suara keributan terdengar, orangtua Saniah tak ingin ikut campur atas masalah anaknya.
" Kalau begitu kamu ikut aku pulang, aku perlu pendamping yang menemaniku yang."
" Aku tidak ingin pulang, aku ingin disini. Sebelum menikah, kamu sudah berjanji padaku."
" Itu dulu yang, aku ingin kamu tetap berada disisiku."
" Aku tidak bisa yang, aku ingin hubungan ini jarak jauh."
" Jika kamu bersikeras, aku akan menceraikanmu."
Sania tersungkur mendengar perkataan Riza, ia menangis atas perkataan Riza.
Pikiran Riza kalut, ia pergi dari rumah Sania dan langsung berangkat untuk pulang ke rumah Kak Elin.
Perjalanan pulang, air mata Riza tak pernah berhenti. Pernikahan yang ia pertahankan selama 3 tahun hanya bisa bertahan seumur jagung.
Wanita yang ia nikahi, ternyata tak mampu menjadi istri yang baik. Keputusan yang ia lakukan sudah bulat. Ia akan mengambil hak asuh El dari tangan Sania setelah urusan perceraiannya selesai.
.
__ADS_1
.
.