
Hai teman-teman, pada kangen ya dengan cerita Liza dan Reza. Oke, hari ini Mae akan update kembali ceritanya.
****
"Mas, terimakasih banyak. Malam ini membuatku senang,"ucapku kepadanya. Mas Reza tersenyum kepadaku.
Malam ini, malam penuh kejutan yang diberikannya untukku. Kesyahduan menyelimuti hati dua insan yang sedang memadu kasih.
Lingkaran semburat merah, terlihat dipipi mereka berdua.
"Mas, apakah masih cinta sama Sania?" Aku masih menyakinkan hati, agar cintaku kepada Mas Reza semakin kuat.
"Nggak lagi sayang, cintaku hanya untukmu,"tutur Mas Reza sambil mengelus rambut istrinya.
"Sekarang, apa yang ingin Mas lakukan?"
"Nggak ada, Mas akan tetap tanggung jawab terhadap El Zio, anak Mas sendiri."
"Aku sebagai istri akan terus mendukungmu Mas." Aku kembali berada dipelukan Mas Reza.
Mas Reza melirik jam tangannya, ternyat menunjukkan Pukul 22.00 WITA.
Kami pulang bersama, berpegangan tangan setiap waktu. Rasanya tidak ingin melepas kemesraan ini.
__ADS_1
Sesampainya di rumah, Mas Reza ingin sesuatu dariku.
Aku pun bertanya, "Apa yang Mas inginkan malam ini?"
"Aku ingin bersamamu menjalin kasih,"ucapnya kepadaku.
"Baiklah Mas, aku mengerti. Sekarang, Liza membersihkan badan dulu. Bersiap-siaplah di kamar Mas."
Akhirnya apa yang terjadi diantara dua insan manusia sudah terjadi.
****
Pernikahan yang dibangun Reza dan Liza sudah memasuki 1 tahun. Tanda-tanda Liza untuk hamil pun belum ada.
Sania pun tidak pernah mengganggu Mas Reza lagi, ia sudah menemukan pasangan yang pas dalam hidupnya.
Hak asuh anak, Sania berikan kepada Reza selaku ayahnya. Ia tidak mampu membawa El ke Luar Negeri yaitu Negara Malaysia.
uwek, uwek, uwek....
tangisan El terdengar, aku langsung berlari menuju El. Menggendong bahkan membersihkan popoknya sudah terbiasa.
Pagi ini, El agak rewel. El ingin bermain di luar rumah. Mas Reza memberikan izin denganku untuk membawa El pergi ke luar.
__ADS_1
El merasa bahagia bersamaku, ia berlari dan kembali jatuh. Berlari kecil adalah kesukaannya.
El memanggilku dengan sebutan Mama, senang rasanya dipanggil mama. Sebutan itu sudah lama ku dambakan dari seorang anak.
Aku memang seorang istri, belum lengkap rasanya kehidupan rumah tangga tanpa ada anak.
Aku harus bersabar, bahwa Allah selalu memberikan yang terbaik untuk umatnya.
Sekarang umur El, sudah berusia 2 tahun. Ia tumbuh dengan badan yang sehat, cerdas, ganteng dan bahkan embul.
Setiap makanan El, aku yang handle. Karna aku tidak ingin melihat El makan sembarangan. Gizi El selalu diperhatikan, sebagai seorang ibu. El tidak pernah meminta apapun, ia ingin selalu berada disisiku.
El memelukku, bahasanya yang cadel membuat senyuman dibibirku. "El sayang, mau apa?"
"Mau es cim."
"Es krim, sekali lagi es krim," ucapku sambil membenarkan kata yang ia keluarkan.
Aku pun memberikan es krim untuknya. Sebelum, ia makan tentunya hanya sedikit es krim yang ku berikan. Aku memberikan penjelasan bahwa perut El nanti sakit jika makan es krim terlalu banyak.
El menangis, aku pun memberikan pelukan. Ketika itu, tangisan El berhenti. Aku lega bahwa El hanya sebentar menangis. Padahal, aku tahu sifat El sama seperti Mas Reza.
****
__ADS_1
Tinggalkan jejak ya, silahkan vote like and komen. Nggak nyangka, Mae kembali melanjutkan cerita iniπ