
Aku senang melihatnya, aku ingin bertanya. Tapi, aku lihat, dia tak ingin bicara kepadaku.
" Ah, aku baru sadar. Aku pria beristri," gumamku dalam hati.
Aku sangat bahagia, karna dia memulai pembicaraan denganku.
" Riz, gimana kabar Sania dan El?"
" Kabar mereka baik."
" Kenapa nggak kamu ajak mereka kesini?"
" Mereka nggak akan ikut. Karna sekarang, mereka berada di Pontianak Liza."
" Maafkan aku."
Aku lihat wajahnya, dia merasakan kesedihan amat dalam. Aku tak mampu, melihat orang yang ku suka bersedih.
Perasaan yang ku pendam memang terasa berat saat ini, aku hanya bisa berdoa kepada Tuhan. Walau, doa yang ku panjatkan terasa salah.
" Bu Liza," ucap Nesya yang mengagetkan lamunanku.
" Ya sayang,"
" Nesya kenyang Bu."
" Oke, sekarang kita berhenti makan ya!"
Mereka berdua izin pamit pulang dan mengucapkan terimakasih.
******
Kita percepat saja ya waktunya😂, mau di selesaikan tapi sayang🤗. Kita selow aja ya😀
******
Dua bulan tak terasa, pertemanan antara Riza dan Liza.
__ADS_1
Dua bulan bukan waktu yang mudah untuk mengendalikan perasaan mereka. Riza tahu hal ini salah, tapi ia juga butuh pendamping yang melayaninya tiap hari.
Dia berkegiatan seperti biasa, tapi rasanya begitu hampa tanpa ada istri disampingnya. Setiap hari, ia menelpon Sania. Sania selalu bilang sibuk dan sibuk. Ia ingin mengobrol lebih dengan istrinya, sebagai lelaki naluri kelelakiannya pun muncul kepada Sania. Sania hanya mampu mengirimkan sebuah fhoto yang begitu indah.
Naluri Riza bergejolak untuk dipenuhi, tapi ia tahan dengan mandi air dingin.
" Sania, sampai kapan aku di cuekin," gumamnya dalam hati. Air mata yang ia tahan selama dua bulan, akhirnya tumpah ruah.
Ia sempat berpikir, apakah harus pindah ke Pontianak bersama istri dan anaknya. Disini, ia juga punya tanggung jawab sebagai Direktur perusahaan yang ia dirikan bersama kakanya.
Sungguh dua pilihan yang menyakitkan. Aku harus ke Pontianak menemui Sania.
" Kak, besok aku akan berangkat ke Pontianak menemui Sania!"
" Kenapa Riz? Kamu kangen sama mereka."
" Ya Kak, aku kangen mereka. Aku ingin melobi Sania kembali untuk tinggal disini!"
" Baiklah, Kaka selalu mendukungmu."
*******
Drttt.....drtt....drtt.
Panggilan telpon dari ia kenal.
" Hallo Mon, ada apa?"
" Mau ikut nggak? Selama 2 hari ada tugas relawan ke Pontianak."
" Oke boleh."
" Siap, besok kita berangkat pakai mobil saja."
" Oke."
Aku berangkat besok ke Pontianak, sungguh menyenangkan.
__ADS_1
Terlintas dibenakku sebuah ide, memang alay sih menurutku.
Aku pun menuliskan sebuah status di whatsappku
" Kita packing dulu, besok berangkat ke Pontianak demi tugas kemanusiaan."
Ku lihat berapa menit, ternyata baru 5 orang yang melihat salah satunya Riza.
Riza mengomentari statusku : " Sama dong kita ke Pontianak. Kita memang jodoh ya.
Aku pun membalas chatnya : " Mau ngapain ke Pontianak? Nggak jodoh, kamu sudah punya istri."
Riza : " Memang nggak boleh apa aku menikahimu."
Aku : Aku bukan perebut suami orang.
Riza : kamu nggak merebut koq. Aku serius Za, aku sayang sama kamu.
Aku : Riza, sayangmu hanya untuk istrimu. Aku hanya temanmu.
Riza : Ya tentu, tapi aku juga sayang sama kamu. Apakah kamu tidak suka kepadaku?
Aku : Riza, maaf. Kamu sudah beristri.
Riza : Aku serius Liza.
Aku : Maaf...
Ku lihat nggak ada balasan lagi dari Riza, aku memang salah Za. Seharusnya aku tak membiarkanmu seperti itu.
.
.
.
__ADS_1