
Tok...Tok...
Mata yang sembab menghiasi wajah tampan seorsng Riza, Kak Elin yang melihat keadaan Riza sangat Marah. Ia tak ingin mengganggu adiknya sementara. Ia akan bercerita ketika hatinya tenang.
" Tega kamu Sania, Riza suamimu malah kau sakiti," gumam Elin dalam hatinya.
Keesokan harinya, Riza mengurung diri dalam kamar. Ia tak ingin keluar kamar, sehingga membuat Kak Elin semakin sedih.
" Pa, gimana keadaan Riza?"
" Ma, Papa yakin Riza mampu menyelesaikan masalahnya."
" Tapi Pa, mulai tadi malam Riza seperti itu."
" Kamu telpon Sania, Ma."
" Baik Pa," jawab Elin kepada suaminya.
Elin melanjutkan untuk menelpon Sania, berapa kali ia menelpon. Sania tak mengangkatnya. Terlintas dalam pikirannya untuk menghubungi Liza.
Ia mencoba untuk menghubungi, dan akhirnya tersambung.
🔉Assalamu'alaikum Liza?
🔉Wa'alaikumussalam Bunda. Ada apa Bun?
🔉Kamu bisa nggak bantu Bunda, Liz?
🔉Bantu apa Bunda?
🔉Riza sampai saat ini tak keluar kamar, Bunda khawatir Liz.
🔉Baiklah Bun, aku akan menelpon Riza.
🔉Terimakasih Liza.
🔉Sama-sama.
Setelah sambungan telpon terputus, Liza memberanikan diri untuk menelpon Riza.
📞 Hallo Riza.
📞 Hallo Liz?
__ADS_1
📞 Bagaimana keadaanmu Riz?
📞Baik.
📞Kamu bohong Riz, aku tahu dari suaramu. Kamu sedang nangis.
📞Maafkan aku, Liz.
📞Boleh aku tahu Riz masalahmu.
📞Kamu tak akan mengerti Liz.
📞Aku akan mengerti keadaanmu, kasian Bunda Elin, Riz. Jika kamu masih berada di dalam kamar. Mereka khawatir.
📞Ku tanya sama kamu Liz, jika kamu mengerti. Kenapa kamu menolak untuk menikah denganku.
📞Riza, bukan begitu. Aku ada alasan.
📞Kamu tidak mengerti aku Liz, aku ingin sendiri. Bye...
📞Tunggu Riz, aku mengerti kamu.
📞Sudah lah Liz, kamu akan menolakku.
📞Apakah kamu bersedia jadi istriku Liza.
📞Ya aku bersedia.
📞Aku sangat bahagia mendengarnya. Aku akan menikahimu setelah urusan perceraianku selesai.
📞 Ya Za, kamu cepat keluar. Kasian Bunda Elin khawatir sama kamu. Kamu akan bercerita tentang masalahmu
📞Ya, tapi nanti Liza. Aku ingin menyelesaikan masalah perceraianku dengan Sania.
📞 Baiklah, sampai jumpa lagi.
📞Ya, sampai jumpa lagi.
Aku pun keluar kamar, aku melongo melihat Kak Elin duduk di depan kamarku.
" Kamu keluar juga akhirnya."
" Maafkan Riza, Kak."
__ADS_1
" Sekarang kamu cerita sama Kaka, apa yang membuat matamu bengkak."
" Iya, aku akan menceraikan Sania Kak. Setelah itu aku akan menikahi Liza."
" What? nggak salah dengarkan Kak, Za."
" Tidak Kakak ku sayang, Riza serius menikahi Liza. Sania tetap bersikeras dengan karirnya, maka aku akan melepasnya."
" Hari ini aku akan mengurus perceraianku Kak," ucap Riza kepada Kakaknya.
" Kakak saja yang mengurus perceraianmu nanti, lalu bagaiman El?"
" El akan ku ambil Kak dari Sania."
" Kamu nggak kasian sama El? Apalagi El masih bayi Za."
" Riza tahu Kak, tapi Riza melihat Sania tak peduli dengan kondisi El. Ia selalu mementingkan karir dari pada aku dan El."
" Baiklah kalau begitu, Kakak mau pergi dulu untuk mengurus berkas perceraianmu."
Kak Elin melajukan mobil Avanza nya dengan kecepatan sedang menuju pengadilan negeri.
*******
Dua bulan telah berlalu, secara resmi Riza dan Sania telah bercerai. Hak asuh El jatuh pada kepada Riza.
Sania tak kuasa menahan air matanya, ia menguatkan dirinya untuk berbicara kepada Riza.
" Riza, maafkan aku."
" Sania, aku telah memaafkanmu. Kamu boleh menjenguk El kapan saja yang kamu mau."
" Terimakasih Riza, apakah aku boleh menjadi keluargamu."
" Kamu sudah ku anggap seperti keluargaku sendiri, walau kita tak lagi menjadi suami istri."
Sania kembali menangis, ia tak tahan dan berlari keluar meninggalkan Riza dan keluarganya.
.
.
.
__ADS_1