
" Za, bisa tolong jemput Nesya nggak di sekolah?" Pinta Elin kepada adiknya.
" Oke Ka, aku akan jemput Nesya di sekolah!"
" Kabar El Zhio gimana Za?"
" Baik Ka, dia ikut Sania."
" Kemana Sania, Za?"
" Dia sudah pulang ke Pontianak Ka."
" Apa Za, koq pulang? Kenapa harus pulang?"
Berbagai pertanyaan dilontarkan Kak Elin kepadaku.
" Kak, aku nggak melarang dia untuk mengejar karirnya Ka."
Aku lihat wajah Kak Elin begitu marah dengan istriku. Aku sebagai suami tetap mendukungnya, walau sedih terpisah sama istri dan anak.
Sania pergi ke Pontianak, dia ingin menjadi PNS disana. Aku sudah melobinya untuk tetap tinggal disini. Keputusannya sudah bulat, aku juga tidak tahu sampai kapan dia berada di Pontianak. Sedih rasanya ditinggal istri dan anak.
" Tapi Za,"
" Udah Kak, aku mau jemput Nesya. Aku akan tinggal di rumah Kaka."
" Baiklah Za, dah!"
******
Aku pun melajukan mobil Avanza dengan kecepatan sedang menuju sekolahnya Nesya.
__ADS_1
Aku tahu, waktu Nesya pulang sudah berlalu 15 menit.
Aku menghampiri Liza yang sedang duduk bersama Nesya. Aku menghampiri dan tersenyum kepadanya.
" Hai Bu Liza!"
Dia tak menjawab sapaan ku, karna Nesya berlari menghampiriku.
" Ayo Om, kita pulang!"
Aku ingin bicara lebih sama Liza. Tapi, melihat sikap Liza membuat ku mengurungkan niat untuk bicara lebih lanjut. Aku berpikir akan menghubunginya nanti lewat via whatsapp.
Aku permisi untuk pulang, dan mengajak Nesya pulang ke rumah Kak Elin.
****
Kak Elin satu-satunya Kaka ku paling ku sayang. Orangtua kami telah tiada, segenap kasih sayang Kak Elin kepadaku tak pernah tergantikan. Kak Elin selalu sabar kepadaku, walau Kak Elin sudah pindah agama. Dia tetap Kaka ku paling the best.
*****
" Sayang pelan-pelan dong."
" Oke Bunda."
Ku lihat Kak Elin dengan cekatan mengganti pakaian Nesya dan menyuruhnya untuk cuci tangan, cuci kaki, rapihkan tas, rapihkan sepatu, meletakkan baju kotor di dalam keranjang serta makan siang.
Aku suka dengan gaya khas didikan Kak Elin kepada putri semata wayangnya. Ku teringat kembali dengan putra semata wayangku, nama panggilannya El.
Tak terasa air mataku menetes, menandakan aku kangen mereka. Satu minggu lebih mereka sudah meninggalkanku disini.
Aku tahu Kak Elin memperhatikanku, yang sejak tadi menangis.
__ADS_1
Kak Elin mendekatiku dan bicara kepadaku.
" Za, Kaka tahu kondisimu. Kaka tahu, jika kamu sedih, senang dan terluka."
" Kak, aku sedih teringat anakku saja."
" Kaka tahu Za, tidak enak rasanya jika kita terpisah dengan keluarga kita. Coba kamu pikirkan baik-baik, kita berumah tangga itu untuk apa?"
" Kaka, selalu mendukungmu Za. Tetap semangat!"
Itulah Kak Elin, dia tak pernah menyalahkanku. Tapi memberiku semangat untuk selalu berpikir, apakah aku salah? apakah rumah tanggaku hanya untuk ini saja.
Aku melangkah kaki menuju kamar, aku teringat dengan Liza. Ingin rasanya menghubunginya. Tapi kuurungkan kembali, aku mulai dengan menghubungi istriku Sania.
πSayang, kamu lagi apa?
πAku lagi sibuk yang, aku lagi diluar nih bimbel. Bentar lagi ujian CPNS. Jadi, harus giat belajar.
πOh, maaf ganggu yang. Kabar El gimana?
πEl baik yang, udah dulu ya! Bye.
π Bye.
Kamu terlalu sibuk yang, aku ingin bicara lama sama kamu. Aku mendenguskan nafas kasar, aku kecewa sama istriku sendiri.
Ku penjamkan mataku, ternyata bayang-bayang wajah Liza menghantuiku. Apa yang harus ku lakukan.
.
.
__ADS_1
.