
Tanpa perlu bertanya kenapa, Askar selalu percaya jika kehidupan setiap manusia selalu berjalan seperti roda. Dia yang selama ini hidup sebagai anak kampung dalam putaran roda di bagian bawah, terlindas bolak-balik di jalan kotor penuh lumpur, dan roda itu adalah roda gerobak pembawa sisa kotoran kambing yang menjadi pupuk.
Sejauh putaran roda kehidupannya, hanya sedikit terdorong beberapa derajat untuk berputar ke atas, tapi kembali lagi ke bawah untuk jatuh. Seakan tidak ada hal baik yang terjadi selama ini, dipermainkan oleh sebuah roda, naik turun, sedikit naik lebih banyak turun, tidak naik-naik, rodanya bocor di tengah-tengah perjalanan hidup.
Sungguh kemalangan yang Askar selalu terima.
Untuk menggambarkan keluarga Askar yang sangat sedernaha, bahkan terlalu sederhana. Bisa dikatakan ayah, ibu, kakek, nenek, kakak, tanpa adik karena dia adalah anak bontot dengan tiga saudara lelaki. Mereka tidak pernah berlebihan, jangankan untuk sesuatu yang lebih, tidak sekali pun ingat kapan terakhir mereka memiliki uang lebih.
Gaya fasion Mak Yati sendiri hanya sebatas kebaya sedernaha, tanpa ada pernak-pernik meriah untuk mewarnainya, beberapa kancing pula sudah tergantikan oleh peniti, dan sebuah kain batik untuk bawahan. Fashion orang jawa tulen, tidak berubah sampai lebaran haji atau pun lebaran syawalan.
Ayahnya bapak Rohmat Sofyan, gambarkan saja seperti lelaki paruh baya dengan perut buncit bersarung, kaus singlet tanpa baju dan menggunakan kopiah, cukup seperti itu style fashion Sofyan di dalam rumah.
Sekalinya ada acara, tidak perlu yang besar, sekedar pertemuan lurah desa, Sofyan menggunakan baju kemeja batik lengan panjang yang dibelinya ketika lebaran. Tidak lebih dan tidak kurang.
Sedangkan saudara-saudara lain, mereka tampak biasa saja dan tidak usah di tanya, hanya akan membuat kecewa.
Tapi untuk keluarga Askar, sebuah kebahagiaan yang mereka dapatkan pun sangat sederhana. Ketika mendapatkan jatah beras bantuan sosial. Ketika diminta untuk menjabat ketua RT, dan Ketika melihat sang anak menggunakan jas wisuda saat kelulusan sekolah.
Bahkan ketika harus mendapatkan kesengsaraan pun, tidak lebih dari yang sederhana, tidak jauh dari hutang di warung sembako dan dibayar ketika Rohmat Sofyan mendapatkan bayaran dari kerja kerasnya sebagai kuli bangunan.
Sedikit hal membahagiakan dengan Askar mendapatkan beasiswa hingga lulus, meski bukan sebagai murid pandai atau pun penemu alat pemecah telur tanpa harus mengkotori tangan. Tapi dia mendapatkan beasiswa karena menjadi rakyat miskin untuk menuntaskan wajib belajar sembilan tahun, itu salah satu kebahagian mereka sebagai orang miskin.
Cukup seperti itu dan Askar tidak ingin lebih, tidak juga kurang, itulah kehidupan sederhana yang mereka jalani berpuluh tahun lamanya,
"Kar, hidup itu cukup jalani, berdoa, berkerja, bersyukur dan nikmati apa yang ada, Allah tidak akan pernah memberi ujian diluar batas kemampuan kita." Ingat Perkataan dari ayahnya disaat mereka menikmati santai berdua di dalam rumah.
Tidak pernah terbayangkan, jika Askar terlahir di keluarga kaya raya, konglomerat, juragan sembako, atau mandor bangunan yang sukses, Askar berpikir hidup enak, tapi banyak hal tentang masalah dari gaya hidup dijalani oleh orang-orang seperti mereka. Lebih banyak mengeluh karena kurang harta, saat melihat tetangga sebelah membeli rumah baru dan bergaya dengan sombong menceritakan bagaimana kelebihan genting yang dibelinya mahal.
__ADS_1
Karena rasa iri itu membuat mereka kesal dan ketika memakan salak impor, Askar lupa kalau langsung menelan dengan bijinya, tersedak dan nyangkut di tenggorokan hingga hapas nyaris abis, dibawa ke rumah sakit, sejurus kemudian terkena struk dadakan setelah melihat nota perawatan dengan biaya tinggi, jatuh miskin dan mati, ironis bukan kalau terbayang hidup Askar seperti itu.
Jadi Askar lebih bersyukur menjadi orang melarat dengan kebahagiaan kecil, tapi hidup tenang bersama keluarga hingga akhir hayat, tidak lebih, tidak kurang. Jika bisa sedikit lebih, hanya ingin pergi ke mekkah untuk naik haji.
Tapi sekarang Askar hidup bukan dibawah roda lagi, rodanya sudah masuk ke dalam sumur kesengsaraan, dan sumur itu sedalam lima belas meter sulit untuk di panjat yaitu Jakarta, bersama Narmo pula.
Ini menjadi kesengsaraan yang paling pahit untuk askar rasakan, hidup disebuah kontrakan kecil dan kumuh, pinggir kota yang paling pinggir. Bertumpuk sampah busuk perkotaan hingga menggunung, kepahitan tidak berhenti sampai di kontrakan itu. Karena tidak ada lagi pekerjaan yang mau menerimanya.
Melamar menjadi buruh pabrik di tolak karena sedang banyak-banyaknya pabrik memPHK karyawan, walau pabrik kuwaci sekali pun tidak mau.
Melamar menjadi supir, masih juga dia ditolak hanya karena tidak punya SIM. Memang begitu adanya, jangankan mobil, motor pun sebatas metik saja yang bisa Askar kendarai.
Mencoba jadi satpam, dipandangnya becus oleh kepala satpam komplek, melihat badannya kurus, terlalu langsing, dekil dan udik, sungguh pahit Askar mendengar ucapan itu,
"Elu orang badan udah kaya sapu lidi, nggak pantas nglamar jadi satpam, maling pun pasti ketawa ngelihat tampang model Elu ."
Walau pertama kali datang ke kota Jakarta dengan rasa bangga sebagai seorang siswa terpelajar dari sekolah SMK 1 tidak ada duanya. Tidak mengubah status sebagai orang melarat yang butuh pekerjaan, sedangkan pekerjaan tidak pernah mengharapkan dirinya.
Narmo datang membawa selebar koran bekas dengan kolom lowongan pekerjaan tercantum di dalamnya.
Namun ada satu yang harus dipenuhi sebagai pelamar dan itu membuat senyum semangat di wajah Narmo turun.
Pertama : Berpenampilan menarik.
"Memang mereka pikir orang jelek gak butuh makan, bahkan jika harus makan angin itu 2000 perak di tambal ban."
Kedua : berpengalaman lebih di utamakan.
__ADS_1
"Gimana mau nyari pengalaman, ini aja baru mau kerja."
Ketiga : siap bekerja di bawah tekanan.
"Kar, memang kerja apa sampai harus di tekan-tekan." Tanya Narmo.
"Kuli proyek kali."
"Ohhhh." Dia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya tidak jelas.
Ke empat : mampu menguasai empat elemen air, api, angin dan tanah.
Ke lima : bersedia di tempatkan di dua alam.
"Dah lah... Lupakan." Pada akhirnya Narmo membuang koran itu.
Beberapa hari berkeliling seperti orang hilang yang membawa stelan celana hitam, kemeja putih, dan tidak lupa pula jas almamater sekolah kebanggaan.
Hingga pada akhirnya, Askar melihat satu tawaran kerja yang menempel di tiang listrik, yaitu menjadi seorang salesman piring.
Askar sedikit ragu-ragu karena itu melanggar petuah dari bapak Tarmad.
"Kar, Elu pikir dah sekarang, elu mau kerja dapet uang atau jadi pengangguran, ingat kar, Minggu depan kalo kita gak kerja, mau makan apa ?, Angin ?, Dua ribu tuh di tambal ban."
Askar tidak bisa berpikir yang lain, karena apa yang Narmo katakan memang benar adanya. Dimana kenyataan yang harus dihadapi adalah hidup tanpa pekerjaan, dan tidak ada belas kasih untuk mereka.
Segala hal membutuhkan uang. Termasuk untuk menjadi mulia. Mereka berdua pun segera datang ke alamat di selebaran tiang listrik.
__ADS_1