Jakarta Di Hari Ini

Jakarta Di Hari Ini
Langkah pertama


__ADS_3

Pernah sewaktu Askar masih kecil, dia bertanya kepada sang Ayah, Rohmat Sofyan, tentang seperti apa Jakarta itu, rasa keingintahuan anak 12 tahun begitu menggebu-gebu, terlebih saat dilihat olehnya seorang pemuda satu kampung baru pulang merantau dengan gaya bak penyanyi rock.


Banyak orang bercerita tentang betapa indahnya kehidupan di ibu kota Jakarta, gedung-gedung tinggi, mobil mewah berlalu lalang, wanita cantik berbaris rapi di tepian jalan atau pun orang-orang berjas yang penuh wibawa baik hati membagikan bantuan kepada masyarakat miskin.


Ada pula orang yang mengatakan tentang kejamnya kota Jakarta, tidak hanya soal, preman, pencuri, penipu, atau penjahat lain. Tapi saat coba mencari kerja butuh kekuatan orang dalam, atau administrasi sebagai pelancar urusan, tanpa itu di tolak. Berdagang di emperan jalan, satpol PP datang, diusir lah mereka, serta semua barang-barang diangkut pula. Atau belum bekerja apa lagi berdagang, mereka hidup dibawah jembatan karena kontrakan kena gusur.


Tentu saat itu Askar hanya seorang anak kecil polos yang bahkan baru tahu kalau Jakarta itu adalah ibu kota Indonesia dari buku tulis bergambar untuk anak kelas 3 SD. Tapi ayah bercerita ketika waktu Askar mau tidur...


"Kar, Jakarta itu ibarat kata kolam ikan, yang di isi ikan pitak dan ikan gabus."


Sebuah gambaran yang sangat aneh untuk di jelaskan, tapi Askar masih mendengarkan cerita Ayahnya itu dengan seksama.


"Ikan pitak itu adalah kita orang miskin yang di ada di Jakarta, sedangkan ikan gabus adalah para orang kaya, pejabat dan para pengusaha sukses lain."


Tentu Askar yang masih terdiam membayangkan sebuah kolam dengan isinya hanya ikan pitak dan gabus saja.


"Kasihan ikan pitak itu yah."


"Ia jelas, ikan pitak itu pasti di makan oleh ikan gabus, seumpama kita yang hidup di tengah-tengah orang kaya rakus dan tidak kenal kasihan, kita akan habis dimakan oleh mereka, itulah Jakarta."

__ADS_1


Askar yang saat itu masih kecil, membayangkan kalau Jakarta sangatlah menakutkan. Bagaimana tidak, setelah dia mengkaji, memahami dan mengerti inti cerita dari Ayahnya.


Askar lebih luas membayangkan, bahwa orang miskin, dekil, tidak tahu-menahu tentang betapa kejamnya kota Jakarta, hanya akan menjadi makanan untuk para ikan gabus, sebagaimana gambaran dari para orang yang berkuasa dengan seenaknya sendiri.


Dan suatu ketika ada pelajaran Bahasa indonesia tentang 'menceritakan sesuatu yang berkesan di dalam hidup'. mungkin sebagian besar teman satu kelas di sekolah desa kecil akan bercerita tentang perjalan mereka bertamasya, mendaki gunung, jalan-jalan ke kebun binatang dan piknik ria di pinggir pantai.


Padahal sekali pun teman satu SD dari desa yang sama-sama miskin dan tidak pernah kenal apa itu piknik, mungkin di benak mereka piknik itu hanya sebatas duduk makan di alam luar. Seperti gambaran sedang makan di saung saat mengantarkan makan siang untuk ayah mereka yang sedang mencangkul di sawah.


Atau mungkin berjalan-jalan di kebun binatang itu sebatas melihat hewan dari alam liar, tapi kali ini sedikit mendekati benar. Karena di sekitar desa mereka, masih ada hutan yang liar dan jarang di datangi orang-orang. kadang kala terlihat monyet-monyet, ular besar dan katanya ada yang sempat melihat Macan, tapi itu masih mitos, karena menurut penelitian Macan jawa itu sudah punah berpuluh tahun lalu.


Setelah nama Askar dipanggil, dia lebih memilih menceritakan tentang dongeng sebelum tidur dari karangan Rohmat Sofyan, Ayah Askar sendiri. Sepenggal kisah tentang kerasnya hidup di kota Jakarta yang di gambarkan antara kolam, ikan pitak dan ikan gabus. Siapa pun bisa melihat Ibu guru khotimah menahan tawanya, menganggap bahwa cerita Askar bukan hal menarik untuk di dengarkan.


Ibu guru terdiam dan berdiri memberikan tepukan tangan heboh layaknya suporter PSSI saat melihatnya mencetak gol di kandang Jerman, pada akhirnya Askar lah yang mendapatkan nilai terbaik dari seluruh teman sekelas.


Tapi pada kenyataannya perjalanan hidup Askar menuntunnya ke kota ini, sebuah kota yang dipenuhi ikan gabus rakus dan kejam.


Dan untuk sekarang Askar turun dari truk bapak Tarmad, setelah memberikan salam perpisahan hangat kepada ketiga sahabat baru yang dia kenal selama perjalanan. Menemani kebosanan dengan bermacam-macam cerita hidup, curhatan kisah cinta atau keluh kesah perhatian pemerintah bagi dunia perkambingan.


langkah pertama Asksr sebagai seorang perantau Jawa dari kampung antah berantah, dia layaknya seekor ikan pitak yang kecil dan tidak berdaya menghadapi para predator di kolam kotor ini.

__ADS_1


Tanpa tahu apa pun tentang kota Jakarta, buta arah, mana kanan atau pun kiri, siapa dia dan siapa mereka, Askar tidak kenal siapa pun selain satu sahabatnya, Narmo.


Sebelum Bapak Tarmad melanjutkan perjalanan, dia memberikan sedikit ongkos karena membantunya saat ban Munawaroh bocor, dan menurunkan ternak kambing di setiap warung pemberhentian.


Walau itu hanya Lima puluh ribu rupiah tapi bagi Askar dan Narmo adalah sebuah berkah dari pak Tarmad yang tidak bisa mereka nilai untuk sekarang.


"Coy, kamu itu lumayan berpendidikan, cari kerja yang benar, jangan jadi calo, jangan jadi preman, jangan jadi pembunuh, jangan jadi pencopet, jangan jadi pengemis, jangan jadi begal, jangan jadi maling, jangan jadi penipu, jangan jadi dan yang lebih penting jangan jadi sales."


"Kenapa tidak boleh jadi sales, itukan pekerjaan halal." Tanya Askar.


"Terkadang seorang selles harus menipu orang-orang, mencari keuntungan dari cara mereka merayu, meski sadar bahwa itu kerugian orang lain, tapi para selles hanya tahu jika barang mereka terjual."


"Oh jadi begitu."


"Dan juga ingat jangan lupa sholat, sesibuk apa pun kalian mencari uang, jangan lupa sang maha tinggi yang menciptakan jagat raya ini, Aku yakin Allah pasti menjaga kalian ."


Itu petuah terakhir yang di berikan Bapak tarmad kepada Askar dan Narmo, seketika selesai, langsung saja Munawaroh dia tancap gas. Untuk sekarang


emang di tempat Askar berdiri, dia seperti seekor ikan pitak sama dengan cerita Ayahnya dulu.

__ADS_1


Gedung-gedung besar, dan seluruh hal yang begitu luar biasa membuat Askar terbayang, jika pemilik itu semua adalah para ikan gabus. Tapi tetap dia kuatkan hati untuk melangkah maju sebagai seorang penuh mimpi, seorang perantau dari tanah batu berkerikil tajam, menagih janji di kota pemberi harapan. itulah dirinya, Askar Al farizi.


__ADS_2