
Warju semakin lihai dalam urusan cuci piring, menanak nasi, memasak lauk ala warteg dan juga menuliskan nama para orang yang berhutang.
Ada lebih dari enam orang yang menjadi langganan berhutang di warung Mak wajem ini. Salah satunya adalah bang Tarmo, selaku kuli angkut barang di warung sembako.
Dia juga salah satu perantau sepuh yang berasal dari Purwokerto dan 12 tahun menggantungkan nasib di dalam pasar sebagai jasa layanan angkut-angkut barang.
Setiap hari, tangan Warju harus bergerak cepat mengambil setiap menu makanan yang di pilih oleh para kuli angkut pasar.
Salah satu menu favorit adalah Nasi Ala kadarnya. Terdiri dari nasi separo, orek separo dan telur mata separo, 500 rupiah termasuk air putih, sudah cukup untuk sekedar mengganjal perut keroncongan para kuli pasar bau balsem dan keringat mereka.
Semakin ramai pula warteg, semakin tersenyum pula wajah Mak Wajem walau sebagian besar adalah penghutang. Tapi hal ini di maklumi, karena seperti pribahasa, 'Berakit-rakit ke hulu, tapi berenang tak bisa ke tepian' artinya adalah tak masalah sakit dulu, dari pada harus melihat penderitaan orang.
Itu adalah plesetan dari Mak Wajem yang menjadi motto hidupnya, walau pun tidak terbatas hal baik yang sering di lakukan oleh Mak Wajem, tapi tidak lepas setiap hari untuk mengkritik kerja pemerintah yang selalu mendapat komentar tidak sedap.
Terutama setelah mendengarkan Radio RI yang tentang berita busung lapar dari masyarakat pedalaman karena tidak terjamah pembangunan.
Maka komentar Mak Wajem seperti ini..
"Kenapa bisa... kau pikir itu Ju, pemerintah di sini kelebihan beras sampe bisa di kantongi untuk di bawa pulang, tapi di sana Ju, kau bisa bayangkan, buat makan aja mereka tidak ada gizi, obat, dokter, sekarat ini pemerintah sudah sekarat. " Teriak Mak wajem, dengan tangan menunjuk entah ke mana.
Itu sudah menjadi keseharian Mak Wajem, Warju yang mendengarkan dengan seksama, tanpa lepas pandangan dari tangan orang mengambil pisang atau pun gorengan seenaknya sendiri, bahkan pilah-pilih dengan tangan penuh kotoran dan keringat yang membuat mulut terasa asam.
Walau pun seperti sudah bosan mendengarkan setiap perkataan Mak wajem yang terus mengomeli pemerintah, Warju sangat setia menjadi pendengar yang baik.
Setidaknya itu bisa membuat Warju berpikir tentang ide-ide gila yang memutar di bawah kipas angin tempat duduk.
"Mak, kalau begitu kita kirim saja surat kepada pak presiden ." Ucapnya santai.
__ADS_1
Warju mengumandangkan pendapatnya saat Mak Wajem berhenti berkomentar.
"Ngomong apa kau Ju, aku itu sudah puluhan kali mengirimi surat kepada presiden dari soal persoalan koruptor yang harus di sunat dua kali, sampe persoalan aspal yang luntur di depan warung kita, tidak pernah aku ini mendapatkan balasan ."
Ternyata ide gila yang di kumandangkan Warju sudah basi bertahun yang lalu, bahkan jika benar adanya, pak presiden mungkin sudah bosan melihat tulisan macam anak SD belajar menulis latin yang sering membuat Warju bingung saat ingin menuliskan penambahan hutang dari para kuli.
"Ju, kowe nggak perlu repot mengurusi persoalan pemerintah yang kadang nggak jelas kemana perginya, kita semua di sini aja sudah bertahun ampe lumutan jadi kuli, dari masih bocah nyampe bangkotan, tidak pernah sekali pun kepikiran buat nuntut presiden, nanti malah jadi runyam hidup kita ini. "
Berkumandang pula kuli angkut segala barang, Bang Tamro yang sesama perantau dari jawa. Tidak lepas pula tambahan gorengan yang di ambilnya dengan tangan kusut.
"Dari pada mikirin pemerintah mending kau lekas tulis berapa semuanya ." Ucap bang Tarmo.
"Nasi ala kadarnya 2.500, gorengannya makan berapa pak ? ."
Lama berpikir Bang Tamro seperti hendak lupa dengan apa yang di ambilnya...."3. "
Tapi tak lupa Warju mengingat apa yang di makan oleh Bang tamro itu dan di tulis di dalam buku hutangnya lima biji. Itu memberikan pelajaran untuk Warju, bahwa sepandai berbohong persoalan gorengan di warteg memberikan kenyataan betapa pikirkan licik kuli selalu membutakan hati para penghutang saat menghitung apa yang di kunyah.
"Ju, lebih baik kowe pikirin apa yang terpenting untuk kita sebagai para perantau, agar bisa lebih baik jalan kedepannya ."
Di tuangkan oleh Bang tamro sebuah petuah yang membuat Warju berpikir tentang sebuah ide gila lainnya di bawah kipas angin yang berputar.
Sejurus kemudian di ambil pula selembar gorengan tempe dari tempatnya oleh Bang Tamro, seakan pertanyaan itu adalah trik mengalihkan perhatian Warju.
"Tambah 200 rupiah ." Ucap Warju menuliskan isi rangkuman hutang Bang Tamro.
"Bukannya di Jakarta ada banyak perantau, lebih dari satu dua biji orang, tapi ribuan, bahkan puluhan ribu mereka tinggal untuk bekerja kota ini, tapi kenapa tidak ada yang mau saling membantu." Jawab Warju.
__ADS_1
"Memang apa yang kowe harapkan, kita orang cuma kuli angkut, kuli bangunan, bahkan pengangguran, buat makan sehari-hari saja sudah susah."
"Ini, ini yang selalu dipikirkan sama kita bang, kita hanya memikirkan diri sendiri, tidak peduli soal orang lain, padahal kalau kita saling membantu, aku yakin semua akan lancar." Jawab kembali Warju sedikit kecewa.
Pak Tarmo serius mendengarkan pendapat Warju. Meski dia adalah seorang senior dalam peliknya hidup sebagai kuli angkut, tapi cukup bijaksana untuk memberi kesempatan Warju berkomentar.
"Jadi apa yang kowe maksud."
"Bagaimana kalau kita membuka paguyuban perantau, supaya bisa saling membantu urusan pekerjaan dan tempat tinggal ."
"Paguyuban opo meneh iki." Menggeleng kepala bang Tarmo.
(Perkumpulan apa lagi ini.)
Warju tersenyum lebar, dia berdiri dengan semangat, wajah tersenyum dan mata memandang tajam, di kepalkan tangan kurusnya.
"Kita kumpulkan semua perantau dari tanah Jawa yang kenal, di paguyuban itu kita saling berbagi informasi."
"Informasi seperti apa."
"Yang sudah kerja, berikan informasi lowongan kerja untuk perantau teman kita yang masih menganggur... Misal ada yang baru datang dari desa dan tidak punya tempat tinggal, berikan sedikit bantuan untuk tempat tidur sampai mereka bekerja, dan jangan sombong jika sudah sukses."
"Hmmm itu terdengar bagus."
Dari sebuah warung warteg kumuh dekat pasar sembako inilah, di mulailah kembali petualang Warju sang legenda pembawa nama perantau jawa di tanah sekeras beton Jakarta.
Menarik hati setiap perantau sepuh yang sudah menaruh hidup di kota Jakarta, karena sadar jika selama ini mereka harus menerima segala kondisi tanpa bisa menawar, bekerja apa pun dan membuang mimpi untuk bisa mengubah nasib.
__ADS_1
Tapi atas inisiatif Warju untuk membuka paguyuban itulah mereka bisa menambah wawasan, ikatan antar sesama perantau dan saling membantu dalam mencari pekerjaan lebih baik.