Jakarta Di Hari Ini

Jakarta Di Hari Ini
Supir Kopaja


__ADS_3

Warju yang lebih dari 5 tahun merantau dari kampungnya ke Jakarta sudah menunjukan jati dirinya dan memulai lembaran baru.


Dia pula menambah rutinitas sampingan selepas bekerja di Warteg mak Wajem yaitu sebagai kenek kopaja malam, selain untuk menambah penghasilan, Warju juga untuk menambah pengalaman, keberanian, pengetahuan dan kenalan. Dimana sebagian besar para penumpang adalah perantau jawa dari setiap pelosok kota Jakarta.


Sebuah niatan suci yang Warju ciptakan dari hidup kejam kota Jakarta, membuatnya yakin untuk mendirikan sebuah perkumpulan para perantau agar bisa mengubah nasib mereka, dan menjadikan sebuah keluarga baru yang rukun dan saling tolong menolong.


Bahkan di antara aksi hebat Warju, dia pernah menyelamatkan seorang gelandangan paruh baya yang di hajar oleh preman terminal karena tidak memberikan sepeser pun uang kepada mereka.


Melihat hal itu pikiran warju semakin mengingat kejadian saat awal langkah kaki perantauannya ke Jakarta, tanpa kenal siapa pun, tanpa di perdulikan oleh orang lain, di tindas seperti kutu dari rambut beruban.


Tentu atas dasar pengalaman itu membuat hati Warju tergerak, lantaran dia tidak ingin melihat orang bernasib sama seperti dirinya dulu.


Tapi di samping itu, pekerjaannya sebagai seorang asisten dari pemilik warteg Mak Wajem adalah sarana untuk Warju menggali informasi lebih dalam soal politik, soal ekonomi, bahkan soal lowongan pekerjaan.


Dimana masih sama seperti dulu setiap pagi hingga siang saat di putarnya radio RI, selalu di kumandangkan puluhan komentar Mak wajem dan sekarang topik hangat yang sedang di perbincangkan adalah persoalan pergantian Presiden yang baru.


"Siapa yang perduli, presiden mau siapa pun, asal bisa bijak sana dan bijak sini, tidak maen sembarangan tentang kekuasaan, semua pasti mendukung ." Berkomentar Mak wajem.


Sedangkan warju masih menanggapinya dengan berangguk, Bang Tamro masih tetap bang tamro, bertahun- tahun menjadi kuli angkut barang, berhutang di waktu yang sama dan porsi yang sama pula, gorengan asal ingat tapi tak lupa warju menghitungnya.


Sembari menyeruput kopi pahit dengan setengah sendok gula.


Bang tamro berkomentar. "Gimana paguyuban Elu, ju, sudah jalan ."


"Belum bang, masih nyari kenalan aja dulu, kalo udah banyak yang setuju baru saya nyari tempat buat sering ngadain kumpulan ." Ambilnya kembali selembar gorengan tempe diam-diam.


"Baguslah, Elu bisa punya niatan mulia kaya gitu, ketimbang cuma bisa nyumpahin pemerintah seenaknya aja ."

__ADS_1


Tentu komentar itu menyindir seseorang yang terduduk santai di samping radionya, mendengar perkataan dari bang tamro, mak Wajem melirik dengan mata tajam seperti memberi peringatan.


'Kalo Elu banyak mengoceh jangan harap Elu bisa tenang dengan hutang loe'.


Seperti itu gambaran yang di lihat Warju dan bang tamro, bahkan setelah melihat mata tajam mak wajem, nyali bang tamro langsung ciut dan membuang muka, ke arah tempat sampah di sampingnya.


"Ju inget, kau itu masih muda, jangan melakukan hal yang melanggar hukum, niat kau itu mulia, lakukan dan bantu sesamamu ."


Kata mak wajem dengan matanya masih melirik kesal ke arah bang tamro, dari kebiasaan buruk Mak wajem yang selalu berkomentar asal tentang pemerintah, terkadang ucapan Mak wajem selalu bisa memotivasi warju saat keadaan bingung.


"Ia Mak, "


"Inget tuh Ju, Mak wajem itu contoh teladan yang sering menolong sesamanya, " Jilat Bang tamro.


Menjunjung tinggi nama Mak wajem sehingga lirikan mata tidak lagi di lihat bang tamro, Mak Wajem salah satu orang yang bisa di jadikan contoh, bukan tentang kebiasaan berkomentar seenak jidatnya memaki-maki pemerintah.


Dan di balik kehidupan warju yang semakin membaik, bertemu pula dengan Abah Jamroji, seorang supir kopaja yang sudah bertahun-tahun lamanya mengendarai badak besi di balik stang bulat dan klakson.


Abah Jamroji biasa di panggil Abang Codet, memang karena ada bekas sayatan di pipi sebelah kirinya, tapi itu bukan akibat dari perkelahian dengan penjahat dan tersayat mukanya.


Luka itu hanya sebatas waktu mencukur brewoknya dengan silet tajam, karena asik melihat acara TV RI aneka ragam binatang laut, siapa sangka silet nyangkut di pipinya.


Dan di bawalah Abah jamroji ke permak levis bukannya ke rumah sakit, tapi hanya karena sebuah luka codetan itu membuat namanya menjadi sangar dan banyak yang terkejut saat mendengar namanya di terminal.


"Elu jangan macam-macam ama Abah jamroji alias Abang Codet, bisa-bisa silet nyangkut di tenggorokan Elu ."


Begitu jawaban dari para calo tiket saat mendengar ada orang yang menanyakan nama Abah Jamroji dengan blak-blakan.

__ADS_1


Tapi kenyataannya, abah jamroji adalah orang yang penyayang, baik hati dan senang sekali bercanda.


Warju awal kenal Abah jamroji karena dia adalah sahabat dari Mak Wajem sejak kecil, satu kampung dan di anggapnya saudara oleh Mak Wajem, bahkan Abah Jamroji tidak sekali pun berani menyangkal apa yang di katakan oleh Mak wajem saat berkomentar tentang pemerintah, hanya menjawab.


"Ia Mak, tapi jangan emosi nanti rematiknya kambuh ."


Perkataan Abah Jamroji halus, sopan dan menghormati perkataan Mak Wajem walau kadang Mak wajem tidak pernah berubah, hingga puluhan tahun masih seenaknya sendiri saat berkomentar.


"Ia, Ji, eh gimana si Warju, kerjanya bener gak ."


"Alhamdulillah Mak, dia orangnya rajin ."


"Sekali-kali ajarin dia tuh nyetir, moga-moga bisa jadi supir pejabat nanti."


"Ia Mak ."


Begitu hormatnya Abah Jamroji, bahkan jika di gambarkan dengan tampang codetnya memang tidak pantas untuk di katakan tapi begitu adanya, secara Abah Jamroji adalah keturunan Jawa tulen yang selalu hormat dengan orang yang lebih tua walau itu hanya selisih 1 hari setelahnya lahir.


Memang begitulah watak dari Abah Jamroji, tidak lebih dari seorang hamba nabi Muhammad yang menjujung tinggi adab dari leluhurnya sebagai orang jawa, bahkan Warju yang pertama kali melihatnya penuh ketakutan.


Tapi memang seperti takjub dengan wataknya, terkadang pula seperti ingin tertawa lantaran melihat wajah seram Abah Jamroji seperti ingin menangis ketika di marahi oleh Mak Wajem.


Itu terjadi saat istrinya mengadu kalau Abah Jamroji susah bangun subuh lantaran sibuk main gaplek sama supir-supir Kopaja lain hingga lupa untuk solat.


Setelah istri Abah Jamroji yaitu Fatmawati mengadu, di damprat lah Abang Codet satu ini.


Tiga jam tidak lebih dan tidak kurang, kotbah panjang tanpa koma atau pun titik, semua kata petuah bijak dan motivasi di ucapkan Mak Wajem dengan tangan menunjukkan tinggi ke atas.

__ADS_1


Warju dengan perasaan kasihan dan lucu membuat dia ingin tertawa, namun di tahannya hingga sakit perut.


__ADS_2