Jakarta Di Hari Ini

Jakarta Di Hari Ini
sahabat


__ADS_3

Akibat yang sama pun berlaku kepada teman satu kampung Askar, yaitu Narmo, untuk urusan pendidikan jangan di tanya, karena bingung mau menjelaskan tentang apa pun perihal lelaki satu ini.


Dimana sejak awal dia hanya tamatan SD, itu pun lulus karena guru sudah malas melihat Narmo yang dua kali mengulang di kelas enam. Tapi tidaklah kita menilai buku dari sampulnya, itu akan sesuai jika bukan Narmo.


Ibarat buku tanpa sampul, Narmo secara luar dan dalam hampir sama saja, dia selalu jujur entah apa pun yang terjadi, bertindak sesuai naluri. Atau lebih seperti insting alaminya sebagai manusia.


Askar benar-benar paham, karena dia sudah kenal Narmo sejak dari kecil, hingga bisa dipastikan, orang seperti Narmo jika di datangi oleh polisi saat membawa motor di jalan, maka dia tidak akan mencari alasan tentang kesalahannya.


Walau semua telah lengkap dari spion, lampu, mesin, kenalpot, ban, tutup spentil, bahkan motornya pun ada, semua tidak luput pemeriksaan secara lengkap.


Begitu juga Narmo menggunakan helem berlogo SNI besar di depan kaca, tapi saat polisi datang, maka dia lah yang meminta maaf terlebih dahulu, dan mengaku bersalah walau tidak ada yang salah.


"Maafkan saya pak, mungkin karena motor saya butut dan tidak pantas di jalan jakarta ini, jadi saya minta maaf pak polisi yang terhormat ."


Pak polisi itu akan lebih memilih melepaskan Narmo karena merasa kasihan melihat wajah lelaki udik itu seperti sedang di landa musibah besar di dalam hidup.


Alasannya, kesopanan narmo karena dia begitu mengagumi sosok dengan pangkat bergantungan di sekitar baju pak polisi.


Tapi jangan harap narmo akan sama sopannya jika yang memberhentika adalah seorang satpam kampung, Narmo bisa mengamuk sejadinya hanya karena melihat kendaraan Narmo lupa menyalakan lampu kota.


"Lah, orang kita ini di desa pak, saya tidak punya lampu kota jadi jangan ngaco dong pak satpam yang terhormat ."


Begitulah orang seperti Narmo itu hidup.


Dan kini....

__ADS_1


Setelah Narmo di PHK dari pekerjaannya sebagai selles perusahaan piring anti pecah, Narmo tidak begitu pusing untuk tiga hari pertama.


Karena memang sudah terbiasa menganggur di kampung, jadi tidak ada bedanya hidup Narmo saat menjadi pengangguran lagi. Terlebih masih ada sedikit sisa gaji terakhir masih mencukupi menu makan tiga kali sehari selama satu minggu dengan nasi Padang lauk rendang.


Memang seperti itu tipikal watak dari Narmo, dia masih santai dan terlena di waktu bebasnya setelah bekerja bagai kuda menjual piring yang dianggapnya liburan.


Tapi setelah lewat hari ketiga itu, maka berakhirlah masa santai Narmo ketika melihat isi dompetnya dengan sisa uang lima puluh ribu, beserta KTP dan SIM A (surat ijin memelihara Ayam ).


Kenyataan pahit membuat Narmo jungkir balik untuk mencari jalan keluar dalam masalahnya. Bahkan jika pun bisa, setiap benda yang menempel di tubuh akan dia gadaikan.


Tipe orang seperti Narmo adalah Orang yang otaknya berjalan lancar ketika keadaan terjepit, ngelantur kesana-kemari, hilir mudik dan berjungkir balik berulang kali, membuatnya semakin keras berfikir dan semakin sering pula pemikiran itu memberi Narmo ide gila.


Ibarat bisikan setan yang menghasut Narmo untuk maling ayam atau pun melakukan perbuatan keji terhadap ayam tetangga, tapi Askar boleh yakin, Narmo tidak akan melakukan hal seperti itu.


Selaku pemuda yang taat peraturan dan juga segala perintah sang emak, Narmo akan membuang jauh-jauh pemikiran keji yang ada di dalam pikirannya.


Selagi memikirkan cara untuk mencarikan Narmo pekerjaan, sekilas melihat sebuah bendera hijau dengan arit dan cangkul yang bersilang serta topi sawah tepat di atas bus Kopaja.


Askar sendiri seperti melihat bendera bajak laut yang ada di film carebean, hanya saja yang berbeda bukan lagi latar ceritanya, karena memang tidak ada ceritanya sebuah bendera bajak laut berkibar di atas mobil kopaja, tapi yang aneh adalah semboyan yang tertulis di bawahnya,


Seburuk apa pun masalah tentang keekonomian negara, tidak jadi masalah. Untuk para perantau miskin yang memikirkan makan apa esok hari, sudah menjadi masalah .


Itu tertulis jelas bagaikan sebuah kekecewaan hati yang penuh perjuangan, terasa mengagumkan di pandangnya bendera di atas kopaja, memang seperti bajak laut tapi sayang ini adalah di terminal bukanlah laut.


Lebih seperti pengemudi jalan pembawa aspirasi masyarakat yang marah karena masalah pemerintah tentang ekonomi tidak pernah sekali pun menyelesaikan persoalan kemelaratan di negeri ini.

__ADS_1


Tentu dengan rasa penasaran Askar coba untuk bertanya kepada si sopir pemilik kendaraan berlapis besi tua pembawa bendera aspirasi masyarakat.


Dia lelaki paruh baya walau tidak tampak begitu tua, tapi seperti terlihat betapa lelaki itu sudah mengalami beratus kali penderitaan kota Jakarta, semua tergambar jelas di garis kerut dahinya. Kecuali garis merah di punggungnya itu adalah bekas kerokan .


Garis perjuangan di wajah tua kasar namun tangguh, kuat tapi begitu lembut, dia lelaki yang tidak berubah walau belasan tahun hidup di jakarta, tapi tidak melupakan asal muasal dirinya sendiri.


Sebagai seorang perantau jawa dari tanah kampungan nan udik, tertawa terkekeh melepas semua kepenatan dengan berbincang menceritakan tentang dirinya.


Dialah adalah Warju bin suherman yang ternyata perantau jawa satu kampung dengan Askar, tapi karena masa generasi berbeda, Askar sedikit pun tidak mengenal lelaki paruh baya ini.


"Ya tong, kowe anaknya Bapak Sopian toh, subhanallah, pangling aku tong, ternyata kowe sudah besar aja, padahal dulu waktu, aku kecil, kau itu belum lahir." Ungkapnya penuh rasa tidak percaya.


"Bapak kenal sama ayahku ?, Tapi kok aku tidak kenal bapak ?." Balas Askar.


"Siapa yang tidak kenal beliau, bapak sopian itu sering membantu keluargaku, tong."


Berasa hebat ketika sang ayah yang tidak lebih dari kuli bangunan, sekarang bak pahlawan penyelamat umat manusia.


"Apa bapak mu itu sehat ?."


"Sebelum berangkat ke Jakarta sih sehat pak." jawab Askar.


Raut wajah tersenyum lepas dari Warju...."Syukur lah kalau begitu."


Sedikit perbincangan itu terhenti saat pekerjaan harus Askar laksanakan sebagai seorang juru pengaman kendaraan di terminal ini.

__ADS_1


Berlari kesana -kemari dan orang yang melihatnya masih saja tertawa terbahak hingga bertepuk tangan, sungguh dia masih belum terbiasa dengan semua ini .


Namun berbeda pula bapak Warju bin Suherman, beliau menunjukkan diri sebagaimana manusia penuh rasa hormat kepada siapa pun yang berjuang mencari nafkah, tanpa perlu malu meski terlihat memalukan.


__ADS_2