
Inginkah kalian dengar kawan, cerita seorang dari seorang lelaki dekil, kampungan dan kurus, seperti kulit hanya tempelan saja.
Seorang lelaki yang bahkan tidak tega untuk menyembelih ayam saat lebaran Syawalan, karena ayam itu telah dia pelihara sejak kecil hingga dewasa.
Lelaki yang bahkan tidak bisa melihat air mata ibunya, ketika sang ibu menahan lapar untuk anak-anaknya yang kelaparan pula.
Seorang lelaki yang bahkan tidak mau membeli kue kering dengan uang hasil kerjanya sebagai kuli panggul padi untuk mengisi perut lapar, lantaran tidak mau adik-adiknya tidak bisa makan.
Seorang lelaki yang bahkan lebih memilih mengatakan sudah kenyang, hanya untuk membuat ibunya makan, walau itu sebatas beberapa suap nasi yang tersisa setelah adik-adiknya makan.
Dialah Warju bin Suherman.
Ketika di tanah perantauan kota Jakarta, dia di paksa untuk berkelahi dengan preman-preman pasar hanya untuk melindungi sebuah buku yasin pemberian sang ibu.
Warju bin suherman, lelaki dekil itu dari desa Pakulaut yang di pukuli preman karena tidak punya uang untuk dia berikan, dan saat ingin merampas buku yasin dari tangan itu, dia membela hingga babak belur, seakan nyawa tidak lagi penting, hanya ingin melindungi harta satu-satunya yang paling berharga.
Setelah langkah awal di kota Jakarta, beberapa hari Warju tinggal di kolong jembatan dan memilih menjadi penjual asongan pinggir jalan. Tapi keras untuk bertahan hidup, dimana warju di hadang oleh seorang preman yang meminta jatah wilayah.
Lantaran uang hasil penjualan hanya cukup untuk mengisi perut dan membeli barang dagangannya kembali sebagai modal.
Warju lebih memilih untuk melawan, tentu ini bukan kisah heroik tentang seorang ahli beladiri yang menyamar menjadi pedagang asongan dan menghajar sepuluh preman seorang diri.
Karena kenyataannya Warju kalah telak. Tapi tidak perduli dengan barang asongannya yang acak-acak di lempar oleh preman. Hanya satu tekad kuat untuk dia jaga sebuah buku yasin kusam dan dekil ketika akan di sobek si preman.
Petualangan Warju di kota Jakarta ini, bagi dirinya seperti berada di film jurassic park. Mempertaruhkan nyawa antara di mangsa dan mati kelaparan. Taruhannya sama saja yaitu nyawa.
__ADS_1
Hidup menggelandang, berada di kolong jembatan, dia di usir. Di pinggiran emper toko, dia di siram. di taman kota, dia kena razia. Bahkan di dalam masjid, dia kena maki oleh marbot.
Jakarta di tahun 1997 memanglah sekejam-kejamnya kehidupan sebagai seorang manusia karena krisis finansial asia, orang-orang seperti sudah gila, pembantaian dan penjarahan bisa dilihat tanpa ada yang peduli soal hak asasi manusia.
Warju melangkah kesana kemari tanpa tahu tujuan, terlantung-latung mencari tempat untuknya tinggal, atau pun sejenak melepas lelah dalam tidur.
Sering dia melihat manusia berjatuhan, letusan suara peluru terdengar jelas, api berkobar di segala tempat, bersama teriakan para demonstran dengan spanduk pemberontakan di sudut kota Jakarta
Begitu juga untuk Warju yang sering di kejar polisi dengan anjing-anjing mereka karena dianggap ikut berdemo. Hingga dia lebih memilih menceburkan diri ke sungai dengan sampah busuk untuk menutupi bau agar tidak tercium hidung anjing pelacak.
Baju yang sudah kumal di tambah lagi dengan sisa sampah yang menempel di tubuh, menjadikan Warju seperti Rambo yang menyamarkan diri untuk menyergap musuh dari belakang.
Tubuh masih berbau amis karena dibasuh dengan air sisa rendaman pakaian. Begitu miris, menyedihkan dan keras hidup warju sebagai seorang perantau.
Sudah setengah tahun lamanya warju harus berkemelut dengan para gelandangan dari berbagai penjuru negeri, melihat wajah Jakarta yang dipenuhi muka para gelandangan.
Mereka memelas di pinggiran jalan, meminta sedekah, mengemis demi makan, dan menjilat untuk tetap hidup. Tapi tidak untuk Warju, dia diajarkan untuk tidak sekali pun mengemis atau pun mencuri, itu adalah tindakan haram yang selalu di pesan oleh Almarhum sang ayah.
Di dalam lamunan melihat sekumpulan pendemo yang meminta turunnya pak presiden dari kursi singgasana pemerintahan di era orde baru. Sekarang Warju tidak lagi berjualan asongan, dimana setiap barang dagangan hancur ketika di kejar oleh polisi kemarin.
Uang di dalam saku hanya tersisa beberapa lembar, total sembilan ribu lima ratus perak. Itu seperti nyawa terakhir untuk Warju tetap menjadi manusia, berhemat hingga tersungkur menahan sakit perut yang lapar.
Terkadang pula Warju sering menjual jasa tenaga, entah di pasar untuk pekerja kasar, memanggul beras yang lebih berat dari berat dari tubuhnya sendiri, hingga urat-urat keseleo sekali pun tidak berhenti untuk terus mengangkat beras berkarung-karung.
Tapi dari sekian kesulitan karena kalah saing dengan kuli panggul profesional, mereka-mereka yang menggeluti dunia kuli hingga tubuh keras seperti batu.
__ADS_1
Ada yang menawarkan Warju sebuah pekerjaan, ketika dia hendak berhutang makan disebuah warteg dekat pasar sembako.
"Nak, ketimbang kowe kerja kasar, lebih baik kerja di warung ini aja, bayarannya memang kecil, tapi masih untung dari pada harus setengah mati mengangkat karung sampai muntah-muntah, disini dapat makan dua kali sehari."
Beliaulah sosok Mak Wajem, selaku pemilik warteg pasar sembako yang masih sibuk menuliskan beberapa nama pengutang dari kuli pasar.
"Tamro, 1.500 nasi orek di tambah kopi pahit 500.... Ya itu sih terserah kau saja, aku cuma prihatin melihat kowe yang sama-sama orang Tegal kesusahan ."
Sungguh mulia hati mak Wajem, walau tampak sedikit galau melihat betapa miris perekonomian para kuli pasar yang setiap hari mengutang dan cuma mereka-mereka saja.
Seperti sebuah siklus, setiap akhir bulan dibayar dan berhutang lagi di pertengahan bulan. Tidak pernah berubah, bahkan terkadang ada yang tidak kembali setelah akhir bulan.
Tapi mak Wajem tetap memaklumi saja dan berkata.
"Itu urusan mereka orang dengan Allah, mereka yang kelaparan meminta makan, tidak mungkin kita menutup mata, si mbah tidak sekejam pemerintah nak yang pura-pura buta, padahal di sekeliling mereka banyak yang mati kelaparan, tapi mereka lebih sibuk dengan urusan pembangunan."
Warju tidak menyalahkan siapa pun, bahkan atas nama pemerintah yang kata mak wajem kejam, dia hanya mengangguk dan menelan makan siangnya itu penuh kenikmatan.
Memang rejeki sudah ada yang mengatur, Warju diminta untuk berkerja di warteg 'welas asih', langsung diterima tanpa harus mengajukan lamaran kerja atau pun interview terlebih dahulu. Karena memang sudah lama Warju membantu mak wajem mencuci piring lantaran tidak enak untuk berhutang makan di warungnya.
Itulah saat pertama kali Warju melihat seseorang membantu atas kemelaratan hidup di Jakarta sebagai seorang perantau.
Mata warju berbinar, betapa kebahagiaan dalam hati melambung tinggi hingga menghantam plafon, merasa mendapatkan kehidupan yang baru setelah berbagai macam kepahitan menghampiri.
Dia percaya bahwa manusia masih memiliki hati nurani yang akan membantu dirinya ketika susah dan Warju tidak akan mengkhianati kepercayaan Mak Wajem.
__ADS_1