
Sebelumya Askar melihat satu buah buku berjudul 'Kiat sukses wawancara kerja langsung di terima karyawan tetap' di sebuah kios penjual buku-buku bekas.
Seorang lelaki paruh baya berkacamata tebal datang menghampiri dengan senyum lebar ketika Askar berdiri di depan kios.
Dia yang sudah berpengalaman lebih dari dua puluh tahun berdagang, sangatlah paham tentang karakteristik orang-orang dengan potongan rambut rapi berminyak, kemeja putih, celana hitam dan stopmap merah di tangan mereka. Dimana itu sudah menjadi ciri khas orang-orang yang mencari pekerjaan.
"Kakak ini mau lamar kerja ta..." Ucapnya tersenyum.
"Iya pak, buat persiapan kalau nanti harus wawancara di perusahaan."
"Hebat benar kakak ini kerja di perusahaan, tapi asal kakak tahu, interview kerja itu sangat susah, coba bayangkan dalam sebuah survey kelulusan sekolah menengah atas ada 1,57 juta siswa yang lulus... Jika mereka semua mencari kerja, itu sama artinya kakak harus bersaing dengan 2,33 juta siswa yang lulus."
"0,76 jutanya dari mana pak."
"Itu dari orang yang lulus tahun kemarin tapi masih jadi pengangguran."
"Ohhhhh." Askar mengangguk paham.
Penjelasan secara gamblang tentang hasil penelitian perihal banyaknya pengangguran di Indonesia. Membuat Askar melihat lelaki paruh baya menjual buku bekas ini layaknya profesor ekonomi.
Bahkan tersirat di pikiran Askar jika sebenarnya penjual buku ini juga adalah dosen salah satu kampus terkenal, dia sedang menyamar dan melakukan eksperimen sosial dengan turun langsung ke lapangan untuk penanggulangan inflasi ekonomi akibat maraknya orang-orang yang hobi menjadi pengangguran.
"Dengan banyaknya kelulusan tapi minimnya lapangan pekerjaan, sangat memperbesar peningkatan pengangguran di Indonesia ini."
"Pantas saja, Indonesia mengalami krisis ekonomi."
"Karena itu kakak, agar bisa bertahan dalam persaingan di dunia kerja, apa lagi kakak baru saja lulus, tidak memiliki pengalaman atau juga orang dalam. Aku merekomendasikan buku ini."
Diambilnya buku 'Kiat sukses wawancara kerja langsung di terima karyawan tetap' yang memang dilihat Askar sejak awal.
"'Kiat sukses wawancara kerja langsung di terima karyawan tetap' mantap betul judulnya, 78% orang yang membaca buku ini berhasil lolos interview dan sekarang mereka sudah bekerja di perusahaan-perusahaan besar."
"Terus yang 22 % gimana pak ?."
"Sayang sekali belum rejeki mereka."
__ADS_1
"Percuma dong pak, kalo baca buku ini tapi tetap aja ada kemungkinan gagal."
"Tidak ada yang percuma kakak, ada lima faktor penentu keberhasilan seseorang... Pertama usaha, kedua pengalaman, ketiga penampilan, ke empat keberuntungan dan terakhir kekuatan orang dalam."
Askar kini tidak ubahnya mahasiswa yang sedang mendengar ceramah dosen dari fakultas ekonomi di pinggiran jalan.
"Kalau aku terawang, kakak ini gak punya pengalaman dan kekuatan orang dalam, penampilan pun hanya rata-rata saja, itu jelas meragukan... Tapi jangan juga mengandalkan keberuntungan karena persentase hoki sangat kecil. Jadi satu-satunya yang tersisa adalah usaha. Semua tergantung usaha kakak dengan mengikuti step by step dari dalam buku."
Tentu berpikir jika semua akan lancar selama dia mengikuti langkah demi langkah dari isi buku 'Kiat sukses wawancara kerja langsung di terima karyawan tetap' saat menghadapi manager HRD.
"Berapa harganya pak."
"50 ribu..."
Sejenak Askar menjadi bingung setelah mendengar harga itu. Bagaimana tidak, lima puluh ribu di dalam dompetnya, sama seperti 10 ribu di kali lima, itu berbanding lurus dengan lima kali makan paket hemat di warung nasi Padang, dan sama dengan sepuluh kali makan nasi uduk di pagi hari.
"Tak perlu lah kakak ragu-ragu, lima puluh ribu tidak membuat kakak rugi jika sudah di terima kerja jadi karyawan, gaji UMR 3,6 juta, tunjangan kesehatan, asuransi jiwa, uang transportasi, insentif, THR, bonus akhir tahun dan juga lemburan, bayangkan itu kakak."
Semakin tergiur untuk sebuah buku yang mungkin menjadi kunci sukses bagi Askar melangkah ke dunia kerja sekarang. Satu lembar uang biru cerah yang terlipat rapi dan juga hati-hati, kini keluar dari celah dompet tersembunyi.
Awal pertama ketika dia membaca isi yang tertulis di dalam buku adalah kisah motivasi dari Mario Hartanto, salah satu penceramah handal di acara seminar orang-orang sukses di televisi.
Salah satu kata yang terngiang di dalam kepala Askar adalah ... "Sahabat Greget sekalian, kenali diri anda, dari mana anda berasal, jangan lupakan seberapa keras perjalanan menuju sebuah kesuksesan yang sekarang anda semua miliki sekarang, karena meski pun kepala kita terangkat tinggi ke atas langit, tapi kaki kita tetap menapak di atas bumi."
Itu membuat Askar merasa terpesona, ibarat nanti ketika dia sukses, jangan bersikap sombong untuk hal apa pun, dari awal semua orang bukan siapa-siapa, namun ketika orang lain kenal siapa kita, kita juga harus kenal siapa mereka.
Tapi lupakan, Askar belum lah menjadi orang sukses, jadi dia tidak tahu untuk apa kata-kata motivasi itu untuk dirinya yang sekarang.
Beranjak membuka halaman di BAB dua, barulah Askar menemukan apa yang dia cari, Tips dan trik saat berada di interview kerja.
Segera saja, ketika Askar dan Narmo berada di sebuah ruko perkantoran kawasan pasar Cengkareng yang menjadi alamat dari kantor pemasaran PT. Sun Glass Volin, itu adalah tempat wawancara bagi mereka berdua.
Askar dan Narmo mengikuti tips dan trik di dalam buku...
Pertama : Pastikan datang di saat wawancara dengan pakaian rapi dan pantas, sebuah penampilan menjadi penilaian di awal pertemuan.
__ADS_1
Askar dan Narmo sudah pastikan berulang kali jika mereka tidak kekurangan apa pun, dari sepatu, celana hitam dan kemeja putih.
Kedua : Masuk dengan memberi salam, jangan mengambil inisiatif untuk duduk sebelum di persilakan duduk oleh petugas wawancara dan tidak lupa tersenyum.
"Silakan masuk...."
"Selamat siang pak, Saya Askar alfarizi yang ingin melamar pekerjaan."
"Ya aku tahu itu, duduk lah." Seakan tidak peduli dan tetap membaca lembar kertas berisi lamaran pekerjaan di atas meja.
Tapi Askar tetap tersenyum.
Ketiga : Berusaha untuk tetap tenang, santai, jangan seperti orang norak, kampungan atau pun orang udik. Petugas wawancara menilai sikap pelamar dari cara mereka bicara.
"Hmmm jadi Anda berasal dari Tegal, kenapa repot-repot datang ke Jakarta untuk bekerja, bukankah ada banyak hal bisa di lakukan di kampung seperti bertani, beternak atau berdagang."
"Bukan kita tidak mau bertani, beternak atau pun berdagang pak, tapi perekonomian dalam tiga sektor di sebuah perkampungan tidak bisa menjamin hasil yang stabil, sehingga untuk menjamin keamanan finansial bekerja memiliki persentase kerugian lebih kecil." Jawaban Askar lancar tanpa salah ucap.
Ke empat : Terkadang ada pertanyaan yang menjebak, dimana pewawancara akan bertanya 'Berapa gaji yang anda inginkan', sebelum menjawab selalu pastikan situasi dan kondisi yang ada, karena jika anda mengajukan sebuah nominal terlalu tinggi mereka akan menganggap bahwa anda terlalu besar kepala dengan pengalaman seadanya.
"Kalau begitu berapa gaji yang anda inginkan." Tepat seperti perkataan di dalam buku.
Askar menjadi dilema, dimana dia tidak tahu seberapa pantas gaji seorang lulusan SMK yang bahkan belum memiliki pengalaman dalam dunia kerja. Tapi juga Askar tidak bisa meminta terlalu kecil, karena semua pengeluaran untuk hidup di kota Jakarta ini sangat banyak.
Tidak lupa Askar tersenyum sebelum menjawab..."Sesuaikan saja dengan peraturan perusahaan untuk pekerjaan baru."
Lepas itu Askar diminta keluar, pewawancara mengangguk-anggukkan kepalanya seakan memberi sinyal positif.
Sedangkan Narmo yang juga baru keluar dari ruang sebelah, menunjukkan wajah rumit.
Askar bertanya..."Kenapa kau mo ?."
Sulit untuk Narmo menjawab..."Waktu ditanya soal gaji, Gua bingung."
"Kenapa bingung, memang apa yang kau jawab."
__ADS_1
"Ya gimana ya, mau banyak takut salah, bilang sedikit takut kurang, jadi aku jawab aja.. 'samakan aja kaya bapak' habis itu gua di suruh keluar." Itu yang Narmo ceritakan dengan wajah murung.