Jakarta Di Hari Ini

Jakarta Di Hari Ini
Juru Parkir


__ADS_3

Sejujurnya Askar tidak berharap lebih untuk pekerjaan yang akan di tawarkan oleh temannya itu, tapi asalkan bisa membuat hidup aman dari kemelut hutang, krisis finansial dan penagih kontrakan yang sangarnya minta ampun. Itu sudah cukup.


Kalau pun ada lebihnya itu bisa dia kirimkan ke orang tuanya nanti di kampung, meski tetap saja, entah kapan memiliki uang lebih.


Berjalan memasuki gerbang keluar masuk kendaraan antar provinsi di dalam terminal Kalideres. Askar sudah melihat sosok Beny yang dengan gagahnya berdiri di samping deretan motor, berseragam biru muda dan rompi hitam bertuliskan tukang parkir terminal.


Itu sudah cukup membuat Askar kagum, caranya meniup peluit tanda kebijakkan memberi arah kepada para pengguna motor untuk menempatkan kendaraan mereka di wilayah keamanan yang terjamin, tentu menunjukkan sebuah tanggung jawab besar.


Sungguh hebat sekali, karena jika di sandingkan dengan pekerjaan Askar sebelumnya, Juru penjaga di parkiran lebih mulia dari pada juru bicara untuk menawarkan produk dengan rayuan dan sedikit bumbu kebohongan.


"Tidak terbayangkan kawan, pekerjaanmu luar biasa sekali ."


Saut Askar saat melihatnya memarkirkan mobil dengan gaya tukang bendera di kegiatan kepramukaan. Usut punya usut Beny memang pernah menjabat sebagai bantara pramuka di sekolah, setidaknya keahlian parkir sudah terlihat semasa sekolah dulu atau mungkin sudah menjadi bakat alaminya.


"Ah Elu Kar, napa nggak ngabarin gua kalo mau ke mari jam segini." Jawab Beny dengan peluit yang masih menempel di bibir.


"Seperti yang guru kita katakan 'Jangan menunggu waktu yang tepat, karena waktu tidak akan tepat untuk orang yang menunggu'... jadi cepat-cepat lah aku kemari, takut lowongan di tutup." Jawab Askar.


"Kau tepat seperti biasanya."


"Jadi apa ada pekerjaan ?." Kembali Askar tanya untuk mengkonfirmasi perkataan Beny kemarin.


Beny tersenyum penuh makna..."Ah iya, juru penjaga parkir di wilayah selatan baru resign kemarin. Sekarang masih kosong."


"Syukurlah kalau memang ada ."

__ADS_1


Namun terlihat pula wajah ragu-ragu yang di tunjukkan oleh Beny, bagaimana pun juga dia sudah berkecimpung di dunia parkir lebih dari enam bulan lamanya.


Pahit manis yang dia rasakan ketika harus berhadapan dengan supir-supir keras, preman terminal, calo-calo nakal dan tukang ojek yang selalu ribut untuk urusan mencari pelanggan, semua bukan hal mudah dan ada kalanya menguras emosi.


"Tapi apa Elu yakin, kerja jadi tukang parkir itu sengsara, panas-panasan, sering kena marah kalau salah posisi dan juga...." Ada banyak penjelasan dari Beny.


Namun Askar mengangkat tangan untuk menghentikan ucapannya... "Semua pekerjaan ada resikonya, hanya saja, menjadi tukang parkir itu jauh lebih baik dari pada harus berjualan dengan berbohong."


"Okelah kalau begitu."


Di antarkan lah Askar menemui kepala dinas perhubungan yang menangani wilayah parkir di terminal Kalideres ini.


Bapak Sujatmiko dengan postur tubuh yang sedikit bengkak di samping kiri dan kanan, depan atau pun belakang, sifatnya yang labil, bisa di katakan Bapak sujatmiko ini mudah sekali marah, senang, kecewa atau pun sedih.


Terlebih lagi ketika pak Sujatmiko melihat sinetron dengan pemeran utamanya terkena musibah, jatuh miskin, istri selingkuh, di hina semua orang dan jadi gelandangan, hanya adegan satu episode itu sampai selesai, wajahnya berangsur sedih hingga menetes air matanya.


Kelabilan emosi pak Sujatmiko itu sudah melebihi batas dari kewajaran anak remaja jaman sekarang, yang mudah sedih karena status FB dari mantan pacarnya mendapatkan pacar baru.


Askar menggelengkan kepala tidak lazim dan berkata di dalam hati 'sungguh banyak sekali orang gila di jakarta ini'.


Untungnya kehidupan nyata di Jakarta tidak seperti sinetron, kalau memang terjadi, mungkin separuh masyarakat indonesia tidak akan memandangi layar TV nya saat jam 7 malam hingga berebut dengan anaknya sendiri yang sedang asik melihat acara lawak.


Mereka cukup datang ke Jakarta dan sudah menjadi bagian dari acara sinetron yang nyata.


"Tidak perlulah kita ribut soal sinetron televisi, sedangkan di Jakarta sudah seperti acara drama kolosal."

__ADS_1


Maka Askar bisa menganggap itu akan terjadi urbanisasi besar-besaran dengan alasan sederhana.


"Aku ingin kehidupanku seperti di sinetron, tukang cendol aja bisa naik haji, masa aku nggak, kurang melarat apa coba aku ini, pekerjaanku tukang tambal ban, anakku banyak, hutangku melimpah dan kena penyakit borokan seumur-umur, mungkin bisa pergi ke Jerman aku ini."


Mungkin untuk pertama kalinya sebuah kemelaratan akan di banggakan, dan jika memang seperti itu, dari kehidupan yang serba melarat sebagai juru penjaga parkir yang baru karena PHK dari seles, itu mungkin bisa membuat Askar keliling eropa, tapi ini adalah dunia penuh kenyataan, jangan di campurkan dengan adegan sinetron yang tidak berfaedah.


Pak Sujatmiko melihat Askar dengan sedikit lirikan. Tanpa perlu menyerahkan surat lamaran kerja, interview atau pun tanda tangan kontrak. Diberikannya sebuah rompi hitam bertuliskan 'Tukang parkir terminal'.


Rompi itu menjadi tanda bangga sebagai pekerja baru di tempat berisik di penuhi suara kenek yang berteriak mencari penumpang.


"Apa pun nantinya, kau tanyakan saja kepada Beny, dah besok kau sudah harus siap bekerja." Singkat tanggapan Pak Sujatmoko tanpa ekspresi.


Dan keesokan harinya...


Dengan perasaan bangga berdiri tegap bersenjatakan peluit dan bendera merah kuning. Meski untuk kali ini Askar seperti di permalukan oleh kenyataan, sebagai seorang pemula di dunia parkir-parkiran.


Dianggap mereka Askar seperti monyet yang di arahkan pawang untuk beratraksi dan setiap orang yang melihat bertepuk tangan, tertawa hingga menangis.


Memberikan arahan dalam memarkirkan bus untuk singgah di terminal, lari kedepan, kebelakang untuk memastikan bus sejajar dengan bus lainnya, melihat ke bagian ban hingga tengkurap agar semuanya sempurna dan tidak terjadi hal yang tidak di inginkan.


Tidak peduli soal rasa malu yang sukar untuk di jelaskan, terutama di bagian fashion seragam Askar berangkat penuh kepercayaan diri, dengan seragam lengkap dari celana hitam, kemeja putih dan jas, membuatnya semakin percaya diri, karena tidak ada tukang parkir yang mirip seperti pegawai kantoran kena PHK tanpa pesangon pula.


Di dalam hidup yang di jalaninya selama ini, Askar selalu berpedoman kepada perkataan sang bapak, dimana beliau berkata....


'Tidak perlulah kau peduli dengan penghinaan orang lain, selama cara hidup yang kau jalani tidak melanggar hukum undang-undang dasar negara republik Indonesia dan berpegang teguh kepada ajaran nabi Muhammad di dalam Al Qur'an, berbanggalah diri bahwa kau sudah hidup sebaik-baiknya.... Tapi jangan pernah lupa untuk tetap rendah diri saat kau di hadapan tuhan.'

__ADS_1


__ADS_2