Jakarta Di Hari Ini

Jakarta Di Hari Ini
Peribahasa


__ADS_3

Siang itu seperti biasanya untuk Warju, kering, panas dan juga berisik, teriakan sesama kenek membuat telinganya bebal, saling senggol dan saling dorong sudah menjadi menu harian di terminal Kali Deres ini.


"Ju, tak usah kau terlalu keras, sing sabar, sing kalem, dan tawakal sing akeh, cukup seperti itu rejeki datang dari allah, nggak perlu kasar menyambutnya ." Kata Abah Jamroji dengan duduk santai di kursi supir dan mengepulkan asap rokoknya.


"Ia bah."


Saat Warju berteriak-teriak keras mencari penumpang, rasa panas yang begitu menyengat dan perut kosong belum terisi apa pun, terbayang lah menu telor balado buatan mak wajem dan es teh manis bau melati cap poci.


Hanya itu saja sudah membuat warju menelan ludah berulang kali, sedikit niatnya mungkin saat istirahat akan pergi mengunjungi warung mak wajem untuk mengisi perut.


Tapi siapa sangka di keramaian terminal yang membuat Warju merasa pusing, sekilas seperti sosok petugas pemadam kebakaran yang datang untuk memadamkan api.


Matanya tidak terpaling untuk melirik hal lain di sekitarnya, dimana ada seorang wanita anggun berjilbab yang sangat jarang di lihat di Jakarta ini, langkah kakinya perlahan membawa sebuah bingkisan plastik.


Wajah tertunduk sedikit malu-malu, tentu untuk anak kampung lugu seperti Warju mudah sekali tersipu, walau dengan sedikit kerlingan mata dan senyuman lembut merah tanpa gincu sedikit pun, itu hampir membuat Warju semaput.


"Assalamualaikum, permisi abang ."


Sebuah suara lembut nan merdu itu terdengar merdu di telinga warju, tanpa sadar seperti terhipnotis oleh suara bidadari.


Hingga Warju baru terbangun beberapa menit setelah jauh gadis itu lewat.


"Astagfirullah, waalaikumsallam."


Perihal soal romansa percintaan untuk orang kampung seperti Warju, sangatlah jarang datang ke dalam hidupnya. Terlebih lagi setelah dia datang ke Jakarta yang terlihat dari pandangan matanya hanya setiap wanita yang sengaja menunjukan aurat.


Hingga sering warju mengucapkan doa penolak bala agar terhindar dari bahaya kehidupan di Jakarta ini. Namun baru pertama kali dalam hidupnya merasakan sebuah sensasi dahsyat, ketika pikiran mengingat senyum indah gadis yang baru saja lewat.


Langkahnya menjadi ringan, setiap senyuman dari gigi kuning Warju terasa menyilaukan, berjalan sedikit melompat dan menyanyikan lagu gambang kromo yang jelas-jelas tidak ada hubungannya dengan perasaan di hati Warju sekarang.


Tapi lupakan soal lirik, di telinga Warju lirik lagu gambang kromo sekali pun serasa terdengar seperti lagu jazz klasik tentang percintaan romeo dan juliet. Suara berisik dari setiap kenek saling beradu mulut untuk menarik penumpang menjadi backing sound dari teater drama kehidupan cinta yang dia alami, bahkan sosok gadis itu itu membuatnya lupa kalau tujuannya berkeliling adalah untuk mencari penumpang.


Seketika, seperti mendapatkan hadiah utama dari bungkus permen karet YOSHAN, bahkan lebih dari itu, seperti menemukan berlian di dalam tong sampah. Dimana dia melihat gadis yang baru saja dipandanginya, kini hadir di dalam bus kopaja tunggangan Abah Jamroji.

__ADS_1


Sopan duduknya di kursi VIP bagian depan dekat dengan sang sopir, tapi anehnya sang sopir hilang entah kemana.


"Assalamualaikum neng, sopirnya kemana ."


"Waalaikumsallam, oh abah, sedang cuci tangan ."


Mendengar pertanyaannya di jawab dengan sopan itu membuat Warju bahagia setengah mati, menahan senyum anehnya agar tidak dianggap kampungan.


"Memang tujuan neng kemana ."


"Kemari bang ."


Jawaban yang membuat warju bingung.


Merasa aneh tapi tidak di pedulikan lagi oleh warju, memandangi wajah gadis yang tersenyum setelah berbicara membuat hati warju lebih melambung tinggi.


"Oh, Ju, cuci tangan dulu sana kita makan ."


"ah, Abah kenapa makan, ada penumpang ini ."


"Neng cantik ini bah."


"Dia anakku Ju, namanya Siti Maemunah ."


Terkejut dan hampir lupa menutup mulutnya, mendengar pernyataan dari abah jamroji sungguh terdengar sangat lucu tapi tidak beranilah warju menertawakan Abah Jamroji.


"Jangan bercanda Bah."


"Gua nggak bercanda." Terlihat kesal Abah Jamroji di tandai dengan naiknya satu alis dan bergoyang pipi naik turun.


"Kok nggak mirip ."


Itu yang terpikirkan oleh Warju, karena memang jika harus di samakan antara Maemunah dan Abah Jamroji. maka akan menentang pribahasa 'Juah jatuh tidak jauh dari pohonnya' tapi ayah dan anak ini benar-benar jauh.

__ADS_1


"Lah orang lihat cakepnya itu, sama kaya bapaknya ." Bergayalah Abah jamroji mencoba merubah wajahnya yang sangar tersenyum, tapi terlihat horor.


Sedangkan anaknya hanya menahan tawa hingga menutup mulutnya dan membuang pandangan ke arah lain.


"Jangan bercandalah Bah ." Sekali lagi Warju menggeleng dan tersenyum kecut.


"Kalau elu tidak percaya, jangan harap dapat makan ."


"Jangan gitu bah ."


Melihat betapa cantiknya anak dari Abah Jamroji Warju mencoba bersikap tenang, tapi tetap saja, dia merasa puas menertawai Abah Jamroji yang bertampang seperti pemain gulat smackdown saat mencoba untuk tersenyum ramah.


Hingga pada akhirnya Warju berkenalan dengan gadis cantik, penuh pesona islam di dalam setiap senyuman penuh makna dan tanda tanya indah,


Di malam hari dalam sholatnya Warju terbayang wajah indah dari Siti maemunah anak abah Jamroji, sekilas kepingan bayangan masuk ke dalam pikiran dan membuatnya tidak khusyuk.


Waktu di Warteg mak wajem pun, Warju Salah mengambil lauk untuk makan para kuli, begitu saja dia salah tulis jumlah hutang, bahkan, pulang ke rumah, Warju masih salah, lantaran masuk kamar mandi tetangga, dimana pak Roso masih mandi di dalamnya.


Betapa indah cinta di rasakan oleh warju, setiap hal dari matanya berubah menjadi hal lain yang membahagiakan. Seperti ketika mak Wajem menghujat persoalan pemerintah, kini dianggap sebagai tokoh masyarakat penuh martabat untuk membela masyarakat miskin agar menjadi lebih baik.


Bang tamro kuli pasar sembako yang sudah menjadi kuli seumur-umur, kini berubah menjadi sosok pria bertanggung jawab dengan segala pendirian hutang-pihutangnya.


Bahkan Abah jamroji yang mukanya mirip preman, itu pun berubah menjadi sosok seorang ayah yang murah hati dengan keramahan untuk mengantarkan para penumpang kopaja senja sejora, selamat sampai tujuan.


Sungguh cinta membuat dunia menjadi serba indah, seperti yang di katakan penulis buku berambut keriting itu.


Ketika bertemu Siti Maemunah saat akan mengantar makanan Abah Jamroji, Warju tersenyum sepanjang jalan, tidak banyak bicara, bahkan sepatah kata pun nyangkut di tenggorokan.


"Abang sudah lama merantau di Jakarta ini ?." Tanya Maemunah dengan senyum sopan kepada Warju.


Keringat dingin dan kebingungan terlihat di wajah Warju.


"I...iya, lama, tapi ..." jawab lah Warju terbata-bata.

__ADS_1


Ini barulah satu kata yang Warju jawab namun seperti sedang menghadiri acara sambutan bapak bupati saat ingin meresmikan jalan baru setelah di aspal.


Namun apalah daya, Warju melihat dirinya sendiri di pantulan cermin, wajah lusuh, pakaian kusut, rambut kumal, gigi kuning dan miskin. Semua itu ibarat noda, noda yang tidak akan pernah bisa dia bersihkan sebagai lelaki kampung dan udik.


__ADS_2