Jakarta Di Hari Ini

Jakarta Di Hari Ini
Kisah cinta


__ADS_3

Wajah yang semakin tua, terlihat ada banyak keriput dari kedua pipi di wajah dan rambut hitam perlahan putih kemudian berganti botak, Warju telah merasakan kepahitan hidup di kota Jakarta, hingga kini sudah menjadi lebih baik.


Dia tentu akan selalu ingat bagaimana kisah hidupnya yang begitu kejam untuk bertahan dari kejamnya ibu kota.


Walau kerja kerasnya tidak membuat Warju kaya raya atau kelimpahan harta untuk membeli segala macam benda mewah, tapi dari itu semua Warju bisa menjadi pribadi yang selalu mensyukuri setiap rupiah dari penghasilannya, entah sebagai supir kopaja, atau juga menjadi manager warung warteg cabang kedua milik Mak wajem.


Hidup Warju kini berangsur lebih baik, dan ketika usianya menginjak 28 tahun, saat itulah warju memutuskan untuk menikah dengan anak dari anak Abah Jamroji, Siti maemunah.


Kisah cinta lelaki satu ini sedikit unik, tanpa di sadari oleh warju sendiri, ketika mata saling bertemu dengan tatapan Siti maemunah, Warju secara otomatis akan tertunduk malu tanpa bicara dan terkadang pula karena kebiasaan itu membuat warju terjatuh, tertabrak bahkan hingga tercebur ke dalam selokan.


Setiap kali Siti maemunah datang untuk mengantarkan makanan di terminal, itu akan membuat warju salah tingkah dari mulai sendok terbalik hingga lengkuas pun terlahap habis. Dia benar-benar lupa tentang mana yang salah atau benar.


Abah Jamroji mengetahui keanehan sikap dari Warju saat berkerja, betapa seringnya dia melamun, walau di dalam lamunannya hanya memikirkan bagaimana caranya bertemu dengan si gadis impian.


Selaku bosnya sendiri, dan terkadang hanya untuk bertemu, walau sebatas membicarakan biaya parkir terminal yang tidak penting-penting amat. Warju selalu mencari alasan seadanya agar bisa berkunjung ke rumah Abah Jamroji.


Misalkan memberikan alasan karena lupa memberikan setoran penumpang yang kurang walau itu sebatas 1.500 rupiah atau menanyakan tentang usul penambahan kursi penumpang walau itu mustahil di lakukan, atau yang terakhir, dia bertanya soal calon presiden di pemilu nanti.


Tapi itu semua hanya sebatas alasan saja untuk dia bertemu dengan Siti maemunah sang pujaan hati.


Karena mengerti dengan perasaan warju, termasuk juga perasaan anaknya Siti maemunah, maka dari itu Abah Jamroji bertindak tentang hubungan Warju dan Siti Maemunah anaknya.


Di waktu jam istirahat, Warju celingak-celinguk tak ubahnya seorang maling ingin mencari mangsa. Abah Jamroji pun bertanya secara empat mata.

__ADS_1


"Ju misalkan kowe demen sama anakku, siap kah kau melamarnya, mencintainya dan membawanya ke jalan yang benar ." Kata Abah Jamroji dengan menunjukan ketegasan.


Atas pertanyaan itu, Warju tertegun, antara senang dan juga malu... "Tapi siapa lah aku ini, Abah, aku cuma perantau melarat, lulusan SD yang bekerja sebagai kenek kopaja."


Namun mendengar jawaban Warju, Abah Jamroji sedikit kesal. Naiklah amarahnya hingga menggebrak pintu Kopaja nya.


"Gua gak tanya elu kerja apa, bagaimana asal usul elu, mau elu itu kenek, tukang parkir, kuli bangunan, pedagang cilok, selama itu halal kenapa bingung. Yang gua tanya itu elu siap gak ?." Tegas ucapan Abah Jamroji.


Tapi memang mengerti seperti apa sifat dari Warju yang selalu merendahkan dirinya, di balik itu semua, Abah Jamroji sudah melihat di dalam kehidupan lelaki lugu itu. Dia yang selalu lebih mementingkan keluarganya di kampung dari pada hidup enak di Jakarta.


Menyisihkan lebih banyak uang untuk dia kirim ke kampung, ketimbang makan nasi Padang setiap hari. Sering juga melihat betapa sayang warju terhadap adik dan ibunya mana kala berkunjung.


Sungguh Abah Jamroji sudah menilai, betapa mulia hati anak lelaki lugu yang kampungan nan dekil itu.


Semua pernyataan Abah Jamroji membuat Warju membulatkan tekad, tanpa ragu dan hanya perlu satu jawaban pasti..."Ya aku siap Bah."


Abah Jamroji tersenyum dengan anggukan kepala perlahan... "Nanti malam datanglah ke rumah, dan kabari keluargamu di kampung kalau kau akan ngelamar Maemunah."


Betapa bahagia hati Warju yang selama ini hanya memikirkan tentang kepentingan Ibu dan adiknya. Tapi sekarang Warju menemukan sebuah kebahagiaan sederhana untuk menciptakan keluarganya sendiri.


Setiap lantunan ayat suci Al-Quran yang selama ini di jaganya terdengar lebih merdu dan menusuk hingga tetesan air matanya mengalir di tengah malam setelah solat tahajud.


Hingga di hari itu, di hadapannya, genggaman tangan Abah Jamroji tegas menjadi penghulu, ekspresi tajam dan tegas memberi makna berupa ancaman keras.

__ADS_1


'Aku ikhlaskan putri ku untuk menjadi istrimu, tapi satu kali kau membuatnya menangis, aku pasti akan membunuhmu.'


Mungkin seperti itu makna yang tersirat di wajah Abah Jamroji saat ijab Kabul.


Dan kini....


Teguhlah wajah Warju Bin Suherman, karena sudah sekian tahun mendambakan hasil dari ide gila tentang perkumpulan untuk saling membantu sesama orang jawa, bertahun-tahun merencanakannya kini sudah siaplah semua itu.


Berkumpul seluruh anggota berjumlah 183 perantau tanah jawa dari berbagai penjuru kota jakarta. Tapi yang menjabat sebagai ketua umum adalah Abah jamroji dan staf eksutifnya tidak lain adalah Warju sendiri.


Siti Maemunah yang setia mendampingi dirinya, menjadi alasan untuk seorang seperti Warju terus berusaha, mengabdikan dirinya sebagai perantara untuk kehidupan lebih baik bagi para perantau yang memang membutuhkan bantuan di dalam perjalanan kehidupan mereka.


Di sebuah tempat sewaan untuk tempat pertemuan dan berbagi informasi ke sesama para perantau, salah satu yang menjadi anggota adalah Jaruki, seorang perantau dari kota bumiayu, hanya berbekal ijazah SMP memulai karir sebagai seorang penjual minuman dingin di terminal.


Warju mengenalnya, tipikal seorang yang rajin dan selalu teliti dalam melakukan pekerjaannya, jadi jangan harap bisa asal memberikan uang bayaran untuk sekedar minuman dingin bersoda dan berharap mendapatkan diskon hanya karena membeli dua botol saja.


Tapi karena ketelitiannya itu Jaruki di angkat menjadi bendahara utama, yang memegang uang simpanan dari para perantau sebagai kas keanggotaan dan terkadang menjadi pinjaman modal untuk setiap perantau yang membutuhkan pinjaman dana sebagai modal membuat usaha.


Setelah segala kelokan dan terjangan tidak membuat impian itu hancur, dan sekarang setiap mimpi yang di dambakan warju sudah ada di hadapannya.


Tentu semua yang terjadi di dalam kehidupan warju adalah sebuah aliran sungai yang terus membawa semua penderitaan, emosi dan perjuangannya selama ini mengikuti arus.


Terombang-ambing dan kadang tersangkut di semak belukar tepian sungai takdir, namun semua ini adalah jalan yang di pilih oleh Warju.

__ADS_1


Duduk di hadapan seluruh anggota PAPERJA, warju tampak bahagia dan merasa kalau kehidupannya yang lebih deras akan datang. Siap lah warju menghadapi semua rintangan, karena jiwa besi Warju tidak akan hancur hanya karena badai kecil di kehidupan sempit ini.


__ADS_2