
Keesokan harinya, telah menunggu Kotim di warung pinggir jalan tempat pertemuan yang di janjikan, Askar pun menjemput Pak Solam sang detektif dengan motor CB 100 dimana hari berdebar hebat bukan buatan, bisa di bayangkan betapa bangga dirinya sekarang ini.
Hanya sebatas tukang parkir bisa ikut menjadi anggota penyelamat para karyawan di terminal. Dia membawa seorang detektif penyelamat di boncengan motor antik tahun 80.an.
Selama di perjalanan Askar sedikit berbincang dengan pak detektif ini, beliau mulai menceritakan bagaimana dia melakukan hal-hal hebat untuk menyelamatkan seseorang dari tuduhan pencuri sandal masjid dan langsung menemukan pelakunya.
"Untung saja waktu itu, aku sedang singgah untuk solat di masjid, kalau tidak habislah sudah orang itu di keroyok masa." Bercerita Pak detektif sembari memegangi behel motor.
"Jadi bagaimana caranya anda bisa tahu kalau marbot masjidlah yang memindahkan sandalnya pak." Bertanya Askar saat berkonsentrasi mengemudikan motor antik ini diantara kemacetan kota.
"Yang pertama, susunan sandal terlalu rapi dan tidak mungkin ada jemaah yang rela merapikan sandal yang berserakan, yang kedua saat menemukan berada di tempat penyimpanan sandal, jadi marbot saat melakukannya pasti berpikir untuk menyelamatkan sandal mahal dari tangan jahil, dan yang terakhir saat itu aku sendiri meihat satu-satunya orang yang tidak ikut berjamaah adalah marbot itu sendiri, tapi untung saja itu hanya kesalahpahaman saja ." Cerita Pak detektif membuat Askar terkagum.
"Sungguh hebat nian Bapak ini ."
"Sebenarnya, itu tidaklah istimewa, Bapak hanya menyimpulkan semua informasi yang ada di kejadian dan mencoba menebak kemungkinan terbesarnya saja."
Walau berkata sedikit rendah hati kedua alis Bapak Detektif ini naik turun seperti mengharapkan pujian.
"Tapi jarang sekali orang seperti bapak, Cerdas bukan buatan, paling banyak itu orang yang memiliki otak sebelah dan tidak berotak, dari keduanya yang selalu di pikirkan hanya bagaimana caranya mencari hutangan, dan beralasan lupa untuk bayar.". Itu kata Askar yang sedikit memikirkan orang lain.
Tidak di sangka selama berbincang dengan pak Solam mengenai pengalaman di dunia kedetektifannya, tanpa sadar Askar bahkan sudah melewati terminal tempat tujuan yang di janjikan. Saat Askar tersadar, langsung saja dia membanting setir melewati beberapa truk dengan belokan zig-zag dan menekan gas hingga habis untuk berbelok di persimpangan selanjutnya.
Untung saja Askar bisa melewati truk terakhir dengan selamat, tapi sosok pak Solam sudah memeluk pinggang sekencang orang naik jet coster dengan alat pengaman yang tidak terpasang di tempatnya.
Di tambah lagi ekspresi di wajah pak Solam melongo seakan nyawanya sudah lepas.
"Pak sudah sampai ." Askar sedikit menggoyang tubuhnya tapi tidak berubah ekspresi melongo dengan mulut terbuka.
"Pak ....pak ." Askar menggoyang lagi dengan kencang.
"Ah ia nak, maaf tadi bapak terlalu berkonsentrasi ." Jawabnya dengan tertawa dan saat turun langsung kaki jatuh lemas.
Hingga beberapa saat langsung saja Pak Kotim datang menyambut kedatangan mereka. Menyalami pak solam dengan tangan yang masih gemetar, mungkin Askar sedikit keterlaluan saat membawa motor.
Itu membuat pak solam masih tersenyum tidak jelas, berselang beberapa lama, pak Solam di ajak ke dalam warung untuk mendiskusikan permasalahan utama.
__ADS_1
Di sisi lain, Askar sendiri hanya sebatas mendengarkan apa yang di tanyakan seputar kejadian hilangnya sepatu kepala terminal.
"Jadi kejadiannya sejak kapan ?."Bertanya pak solam sembari mengunyah gorengan tempe di mulutnya.
"Sekitar empat hari yang lalu, pas sore waktu setelah solat maghrib ." Jawab pak kotim.
"Saat itu siapa yang menjadi marbotnya ."
"Di masjid ini tidak ada marbotnya pak kami bergantian membersihkan ." Jawab pak kotim dengan cepat dan pak detektif solam mengangguk-anggukan kepala.
"Nak Askar, bisa kau membantuku. "Pak solam memanggil.
"Bisa pak." Dengan sumringah Askar mendekat dan memberikan sebuah kertas dan pena.
"Tolong tulis setiap jawaban dari pak kotim ." Perintahnya dengan tegas di barengi sruputan kopi panas yang membuat lidah pak solam menjulur.
"Apa setiap hari pak terminal selalu solat di masjid."
"Tidak pak hanya hari Kamis, jumat dan minggu saja." Jawab pak kotim.
Tapi jawaban itu membuat alisnya mengangkat, seperti di berikan pencerahan.
"Tanggal 28 pak." Semakin tinggi alis pak solam, Askar sendiri sibuk dengan catanan yang Askar tulis.
"Askar ikut aku berkeliling ."
Pak solam mengajak Askar mengelilingi lokasi, setiap detail di sekitar masjid di perhatikan, termasuk jadwal petugas masjid, wajah sumringah, tertawa-tawa, hingga menepuk keningnya karena paham dengan situasi yang di hadapi olehnya.
"Aku mengerti, aku mengerti, " Berkata pak Solam dengan wajahnya sumringah.
"Nak, kemarikan buku itu." Askar memberikan buku yang dia pegang.
Pak solam seperti menulis surat dengan tertawa hingga terbatuk-batuk dan di masukannya ke dalam amplop.
"Surat apa itu pak ?." Tanya Askar.
__ADS_1
"Nanti akan aku beri tahu, " Jawab pak Solam.
Setelah usai menjalani penyeidikan dan di berikan surat itu ke pak kotim, Askar mengantarkan pak Solam kembali ke kantornya.
Tapi sebelum Askar menjalankan motor antik ini, pak solam berkata.
"Tolong jangan ngebut lagi, aku trauma, dulu pernah naik sepeda hampir di tabrak grobak ."
"Baik pak ." Askar tersenyum saat mendapatkan perintah itu.
Di dalam perjalanan, kami mulai bercakap persoalan sepatu yang hilang itu.
"Jadi menurut kau nak, siapa yang melakukannya ." Bertanya Pak solam dengan tangan kencang memelukku.
"Menurutku sih pak kotim ." Jawab Askar memikirkan sejumlah nama seluruh terminal.
"Kenapa pak kotim ?."
"Karena sebenarnya kehilangan sepatu pak terminal tidak terlalu di pusingkan oleh karyawan terminal, tapi entah kenapa pak kotim bersikeras untuk mencarinya ." Ucap Askar memberi jawabannya.
"Tebakanmu memang benar, tapi kurang informasi." Balas pak Solam.
Askar terkejut, dia yang asal saja menjawab, namun di akui oleh sang Detektif profesional.
"Yang pertama, kenapa pak kotim melakukan itu. jawabannya karena gajinya di potong, pas di tanggal kehilangan sepatu, Pak kotim lah yang bertugas membersihkan masjid dan sangat pas dengan jadwal kedatangan pak terminal untuk solat, satu empat yang lalu berarti hari gajiannya. Dia pasti mendapatkan masalah dengan pak terminal sehingga terpikirlah untuk membalasnya." Perjelas pak Solam detail.
"Tapi kenapa dia mengusulkan untuk mencarinya ." Itu membuat Askar bingung.
"Itu hanya kedok untuk menutupi kesalahannya, agar tidak di salahkan jika di ketahui lokasi sepatunya, di tambah lagi semakin marahnya pak terminal itu berakibat turunnya sogokan dari para pedagang yang masuk ke terminal, apa itu bisa di mengerti ." Tanya pak Solam.
"Sungguh, hebat, hebat sekali pak ."
"Jangan terkagum dulu, aku menulis surat itu untuk kotim sendiri, agar dia segera mengembalikan sepatunya sebelum aku beritahu pak terminal soal kejadian itu, besok pasti kembali sepatu itu." Ucap pak Solam tersenyum bangga.
Dan keesokan harinya....
__ADS_1
Seperti dugaan pak solam, keesokan harinya suara girang bapak kepala terminal, menjerit-jerit sembari berlarian membawa sepatunya yang telah hilang.
"Sepatuku kembali " Sungguh seperti pelari pembawa obor olimpiade yang mengelilingi seluruh terminal.