Jakarta Di Hari Ini

Jakarta Di Hari Ini
Malam Di Dalam Kopi Panas


__ADS_3

Kepulan asap kenalpot kendaraan semakin perih di mata semua orang, begitu juga dengan Askar dan Narmo ketika udara malam terasa lembab membuat panas dingin saat mereka sedang berjalan menyusuri pinggiran trotoar jalan daan mogot.


Bersama dengan Narmo, sahabat karib Askar yang senantiasa menemani susah senang keadaan yang mereka berdua alami sekarang. Dari awal keduanya sudah bertekad untuk sukses di kota Jakarta bersama-sama. Hingga tinggal satu atap di dekat tempat pembuangan sampah atau makan nasi sepiring berdua.


Perih mata Askar semakin terasa ketika truk besar mengeluarkan gas karbon monoksida secara membabi buta, hingga terbatuk-batuk, bahkan sulit untuk bernafas, seperti paru-paru sudah tersumpali oli dari sisa asap yang kami hirup.


Melihat Narmo berjalan menunduk seperti melamunkan sesuatu, sesuatu itu adalah kejadian siang tadi di tempat paguyuban.


Askar sendiri demikian terkejut ketika melihat kejadian di mana Warju rela menjadi tersangka kejahatan. Sampai detik ini, dia percaya bahwa lelaki lugu itu melakukan tindak kriminal sebagai penyelundup barang terlarang.


Tapi semua barang bukti ada di tangan, tanpa bisa melawan dan Warju pun tidak ingin berburuk sangka kepada semua anggota paguyuban PAPERJA. Dia pun memilih untuk menanggung beban sebagaimana tanggung jawabnya.


"Apa kau percaya kalau Pak Warju tidak melakukannya ." Tanya Narmo tiba-tiba.


"Tentu saja, tidak mungkin orang yang sudah berjuang di dalam hidupnya, melakukan hal keji yang mengakibatkan semua perjuangannya hancur, " jawab Askar dengan marah karena Narmo pun mulai ragu.


Askar masih bisa mengingat raut wajah apa yang di perlihatkan pak Warju saat di bawa oleh Polisi siang tadi.


Mata kuat yang berkaca-kaca, seperti mengatakan.... 'Aku percaya dengan semua keluargaku di sini ?.'


Tapi entah kenapa kepercayaan yang Warju tunjukan saat itu tidak sampai ke semua anggota, hingga Askar seperti melihat para anggota bagaikan kerumunan kelinci yang hanya bisa terdiam ketika melihat ketuanya di cabik oleh anjing liar.


Mereka semua mencari keselamatan untuk diri sendiri, bahkan Askar pun merasakan hal yang sama, dia tidak bisa melakukan apa pun, hanya berteriak, namun setelahnya, suara Askar terlalu kecil untuk di dengarkan.


Askar sempat berpikir, terkadang seorang manusia menjadi hina jika harus berhadapan dengan tangan penguasa, tapi kenyataannya, ada yang lebih hina lagi. Yaitu ketika mereka lebih rela mengorbankan orang lain asal dirinya sendiri bisa selamat.


"Aku pun sama hinanya dengan mereka ." Gumam Askar sendirian.


Mengikuti Narmo yang masih berjalan di pinggiran sungai gelap dan penuh sampah.

__ADS_1


"Jadi apa yang akan kita lakukan." Bertanya Narmo bingung.


"Aku tidak tahu, tapi aku sempat berpikir untuk menyelamatkan pak Warju." Jawab aku dengan perasaan bersalah.


Hanya saja, tanggapan Narmo berbeda, dia tertawa, tertawa aneh hingga menatap Askar dengan ekspresi sedih.


"Memang kau pikir kita ini siapa ?, Menolong seseorang bagaikan Superman, kar... Untuk menolong diri kita sendiri saja susah, jangan bicara yang aneh." Jawaban Narmo memang benar.


Askar pun mengakui itu.


Dimana dalam hati Askar yang sebelumnya bermaksud untuk menolong sekali pun, dia merasa ketakutan. Merasa seperti seekor tikus yang takut di mangsa oleh anjing liar.


Hingga mereka berdua mengistirahatkan tubuh dan pikiran untuk duduk di samping bantaran sungai yang sudah mirip kubangan lumpur dengan tumpukan sampah hingga menjepit gorong-gorong.


Jika sungai kotor ini Askar anggap sebagai jakarta, maka dia adalah ikan pitak, dimana itu hanya menjadi kematian di dalamnya.


Sedangkan koloni ikan gabus saja yang bisa bertahan hidup di dalam kekotoran sungai kota Jakarta ini.


Tiba-tiba saja Narmo yang memberikan askar secangkir kopi hitam di dalam gelas pastik, tapi dia sadar, kopi ini tidaklah membuat hidup mereka di dalam masalah menjadi lebih baik.


Setiap pemasalahan yang berdatangan tidak akan semudah hilang seperti kopi yang turun dari atas cangkir. Kepulan asap semakin melambung tinggi, hingga tercium aroma kehangatan malam di balik hitamnya kopi yang menemani kemalangan nasib mereka berdua.


"Bukankah dunia itu kejam kawan ." Kata Narmo setelah menyeruput kopinya.


Ucap panas masih mengepul di dalam mulut itu dan Askar setuju.


"Sejak dulu aku sudah tahu itu, tapi aku tidak ingin menyalahkan kehidupan atas tindakan kita sendiri ." Jawab Askar dengan memandangi setiap orang yang lewat.


Duduk bersampingan dengan Narmo, membuat Askar merasa kalau setiap orang yang lewat menatap aneh kearahnya. Dari makna pandangan mata orang-orang itu seakan menunjukan betapa mereka kasihan dengan keadaan kami sekarang.

__ADS_1


Baju lusuh, rambut kusut, dan semua hal tidak menyenangkan hadir dalam kegiatan mereka di pinggiran sungai. Bahkan beberapa menit yang mereka habiskan untuk melamun bersama dengan Narmo, seseorang dengan wanita di sampingnya melemparkan koin lima ratus perak ke depan Askar.


Melihat hal itu Narmo langsung mengambilnya tanpa punya rasa malu, hanya saja, siapa sangka, dia berlari mengejar orang yang memberikan uang itu.


Askar melihat wajah kesal narmo, orang itu kalang-kabut berlari hingga jatuh bangun bahkan melupakan sandal dan melupakan pacar yang digandengnya karena takut.


Hingga ketika Narmo kembali dengan keringatan dan raut wajah marah, dia kembali duduk sambil meminum kopi sampai habis, meski terlihat jika itu masih mengepulkan asap karana panasnya.


Habis satu gelas kopi yang masih panas bahkan Askar sendiri tidak kuat memengang cangkir plastik itu.


"Kenapa kau Narmo ?." Tanya Askar bingung.


"Masa dia memandang rendah kita dengan uang lima ratus ." Ujar Narmo kesal.


Askar tersenyum dan bertepuk tangan..."Wah ternyata kau masih punya harga diri, aku kira harga dirimu sudah kau gadaikan untuk membeli mie rebus ."


"Bukan begitu, masa cuma lima ratus perak, dikit lah...." Wajah Narmo begitu mengejek.


"Harusnya berapa ?." Bertanya aku melihat asap itu keluar dari mulut Narmo.


"Setidaknya tiga ribu lah ." Jawab Narmo dengan cepat.


"Murah amat harga diri elu." Balas Askar.


Tawa Narmo tetap terlihat jenaka, tapi itu yang membuat suasana malam rumit ini sedikit lebih baik. Askar tidak bisa membayangkan jikalau saat sekarang dia menanggung beban sendirian.


"Setidaknya lumayan buat bayar kopi ini ." Jawab kembali Narmo tersenyum dan melihat ke arah Askar dengan ekspresi tidak baik-baik saja.


"Jadi kopi ini belum di bayar." Itu bisa Askar tebak.

__ADS_1


"Ya begitulah ." Balas Narmo tanpa dosa sedikit pun.


Sungguh kesal Askar melihat ekspresi tidak bersalah dari Narmo saat mengatakan hal itu dan pada akhirnya dia lah yang membayarkan kopi meski harus merogoh semua saku.


__ADS_2