
Semakin lama Askar hanyut di dalam lamunan, hingga dia harus terkejut, ketika Narmo menepuk pundaknya dengan keras berulang kali. Askar pun dengan wajah Narmo melongo tanpa menutup mulut.
Tapi lelaki udik satu ini mulai menunjuk ke arah depan dengan cara yang aneh.
"Apa sih Mo, lu kesurupan ?."
"Itu di depan, Kar." Jawab Narmo tergagap.
Askar mengikuti ke arah di mana jari Narmo menunjuk, dia bisa melihat dua buah kaki ramping yang putih mulus tanpa bulu berdiri tepat di depan mereka sekarang.
Tentunya itu bukanlah kaki dari salah satu teman Askar, karena sebagian besar temannya di tempat ini adalah seorang kuli atau pun bujangan lapuk yang kerjanya bermain gitar dan lebih banyak menganggur dari pada bekerja.
Bahkan Askar sendiri tahu, seperti apa bentuk kaki mereka semua, kaki berbulu yang hitam pekat, atau pun pemilik bekas borok dan kutu air di setiap sela-sela jari kaki dengan bau luar biasa busuk.
Hingga untuk semua kemungkinan itu, Askar mengambil satu kesimpulan, bahwa jelas tidak mungkin ada kalo milik temannya yang seindah ini.
"Kar ?, Askar kan ?, Benar kau Askar." Tanya dan di jawab sendiri pula, oleh seorang wanita yang sedang berdiri di depan mereka sekarang.
"Nona, aku bahkan belum menjawabnya, tapi kau asal saja bicara..." Balas Askar yang mendongak ke atas.
Dia bisa melihat siapa wanita yang datang dengan sok akrab itu. Terurai rambut panjang, lurus, pirang, stylish dan wangi pula menutupi wajahnya di sertai silau sorot lampu jalan.
Tapi sekilas Askar tahu, jika wanita itu memiliki wajah cantik, kulit putih, sedang tersenyum dan menatap serius untuk dua mata indah berwarna merah muda ke arahnya.
Askar sendiri tampak bingung, dia masih berpikir, tentang siapa yang secara sadar dan suka rela tanpa paksaan sedikit pun, mau menyapa orang seperti dirinya.
Terlebih lagi, sekarang, Askar bersama Narmo, tentu hanya ada dua tipe wanita yang mau datang menyapa, pertama dia rabun jauh dan kedua dia adalah pengamen.
Namun tidak ada suara musik di sekitar mereka.
Jika harus Askar amati lebih mendalam untuk orang seperti dirinya, sangat jarang dalam hidup Askar, dia bertegur sapa dengan wanita cantik seperti apa pun bentuk mereka.
__ADS_1
Wanita itu menunjukkan ber fashion style anak muda ibu kota jaman now yang hanya menggunakan hot pants dan baju tipis biru dengan jaket sebagai penutup aset pribadinya.
Sebuah penampilan yang membuka aurat hingga membuat Askar dan Narmo terkejut selagi menelan ludah. Bagaimana tidak, ini seperti menemukan hadiah grand prize tidak terduga dari bungkus kopi yang di buang orang dan tanpa sengaja mereka punggut.
"Siapa Elu, gua nggak kenal ." Jawab Askar bingung.
"Apa-apaan kau itu, sudah enam tahun tidak bertemu, kau sudah melupakan teman lama mu." Katanya dengan sedikit kesal.
"Maaf, aku tidak pernah memiliki teman yang cantik dengan pakaian tidak senonoh ini. Atau mungkin kau rabun jauh dan salah mengganggap aku sebagai seorang mantan." Jawab Askar dengan wajah tertawa sendiri.
Sedangkan melihat Narmo, dia masih saja ternganga hingga lupa menutup mulutnya, dan itu memalukan untuk Askar.
"Aku Zizah Rohimah, kau ingatkan ?."
"Ya memang benar aku punya teman yang bernama Zizah, tapi dia tidak seperti mu, Zizah rambut pendek, bicara kasar dan suka main sepak bola. Tidak sepertimu, tolong jangan mempermainkan seorang jomblo, itu tidak baik mbak, aku sedang banyak masalah, kau harus tahu." Jawab Askar sedikit kesal,
namun dia juga bingung untuk menanggapi perkataan dari wanita cantik yang mengaku sebagai seorang teman.
Askar mungkin merasa memang beruntung jika ada wanita cantik yang mengaku sebagai seorang teman. Meski sebahagia apa pun perasaan Askar untuk pernyataan aneh dari wanita di depannya sekarang.
"Bukankah mbak ini artis iklan kopi, Fanesa." Kata Narmo saat menyamakan wajah gadis di depan mereka dengan gambar lembar cover bungkus kopi yang dia pungut dari sampah sekitar.
"Ah itu benar tapi jangan keras-keras nanti banyak yang tahu, yah Narmo." Jawab gadis itu dengan berbisik dan di akhiri kedipan mata genit.
"Mbak kenal aku." Ucap Narmo yang hampir semaput.
"Ya tentu, kita pernah main bola bareng kan."
Narmo terkejut, dia terlihat senang bukan main hanya tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya berulang kali.
Mamun beda dengan Askar, yang Entah kenapa melihat wajah gadis menjadi sedemikian genit saat mengedipkan mata kepada narmo, itu membuat perut Askar merasa tidak nyaman. Bisa juga karena terlalu banyak minum kopi, sedangkan jarang makan nasi, membuat asam lambung Askar beranjak naik.
__ADS_1
Satu hal pasti adalah Askar memang tidak cocok dengan gadis kota, itu membuat Askar risih karena penampilan pakaian serba terbuka sangat bertentangan dari adat istiadat.
Tapi sekarang Narmo melompat kegirangan, dia seperti kerasukan jin penunggu sungai di belakang kami, lelaki udik itu tersenyum bagaikan orang gila dari matanya seperti memancarkan rasa takjub, terdiam tanpa mengatakan apa pun selain wajah memalukan.
"Jadi kenapa kau tidak membalas chat ku ." Tanya wanita itu dengan akrab.
"Maaf mbak model kopi, aku tidak mengenal anda, terutama artis Fanesa, jika pun kami kenal seorang artis itu hanya biduan organ tunggal atau pelayan cantik dari warteg saja." Perjelas Askar menjaga harga diri.
"Kau itu memang dari dulu tidak berubah, selalu saja cuek dengan wanita, jadi kau benar-benar tidak kenal aku ?." Balas Fanesa yang memang membuat Askar.
Semakin aneh karena dia tahu kalau Askar memang tidak pernah dekat dengan wanita mana pun kecuali beberapa kenalannya, bahkan jika itu seorang SPG rokok, di mana seorang SPG mendekatinya dengan menggunakan pakaian serba minim dan menawarkan sebungkus rokok dengan harga dua kali lipat.
Maka dia akan berdoa ' Ya Allah kuatkanlah iman dan dompet hambamu ini .', seperti itulah kira-kira, hingga menunggu SPG itu pergi.
"Ah siapa pun kau mbak cantik, mau artis iklan kopi, pasta gigi, minyak rambut, minyak goreng, minyak rem sekali pun, aku tidak mengenalmu ." Askar mengatakannya dengan nada kesal.
Mendengar apa yang Askar katakan, Wanita cantik artis iklan kopi ini, langsung saja menjepit hidung nya dengan kedua jari dan menarik Askar hingga jatuh.
Sungguh hanya itu saja, membuat Askar seperti merasakan sensasi nostalgia indah semasa SMP nya dulu, dimana ada seorang gadis yang akan melakukan hal itu jika sudah kesal dengan sikap cueknya.
Walau pun begitu, sosok wanita dalam ingatan Askar adalah gadis kasar dengan pakaian sopan, pemarah dan suka berkelahi.
Sesosok wanita yang akan membuat seorang Askar tersenyum lebar di dalam masalah apa pun, hanya saja orang yang melakukan hal itu sudah pergi entah kemana.
Jika pun benar jika Fanesa ini adalah Zizah, semua kini jauh berbeda, bahkan Askar tidak mengenal tentang apa pun yang dia perlihatkan sekarang.
"Apa kau sudah ingat ." Kata Wanita yang masih berdiri dan memandang kesal dengan wajah cantiknya.
Satu tindakan yang menjadi bukti bahwa kota Jakarta memang bisa mengubah segala hal dalam jiwa manusia.
"Kau masih saja melakukan hal itu ." Kata Askar dengan memegangi hidung yang masih terasa sakit akibat perbuatan Azizah.
__ADS_1
"Itu karena kau selalu membuatku kesal." Jawabnya dengan wajah masih cemberut dan tangan di silangkan ke dada.
Tidak salah lagi, dia adalah Azizah, gadis kasar yang dulu menjadi teman masa kecil Askar dan Narmo.