
Jakarta selain sebuah tempat yang penuh dengan hal kejam seperti tak ubahnya hukum rimba, siapa kuat dia yang menang. Tapi di sini bukan kekuatan yang menjadi tolak ukur, melainkan siapa yang punya uang dia yang berkuasa.
Banyak orang yang bersujud seperti menjadi alas kaki mereka yang punya uang, seberapa sering mereka menjilat sepatu para orang kaya sok dermawan, itulah kunci kesuksesan untuk meraup keuntungan dari uang receh dari kantong celana mereka.
Dan juga termasuk Jakarta adalah sebuah kota perubahan, ini bukan tentang pembangunan atau kampanye pemilu, tapi perubahan dari orang lugu yang tidak kenal dunia setan, dalam kurun waktu satu tahun mereka-mereka bisa saja menjelma jadi setan itu sendiri.
Ibarat lelaki kampung yang selalu taat kepada kedua orang tua, rajin beribadah, tidak sombong dan gemar menabung. Bisa saja berubah dari awal tidak kenal apa itu mabuk-mabukkan dan merk miras, akan menjadi pecandu kopi dengan obat sakit gigi empat biji yang tercampur didalamnya.
Ada pun juga, gadis lugu, pemalu dan tidak tahu menahu tentang make up, gincu atau pun parfum. Dalam satu tahun paham tentang segala macam produk kosmetik murahan yang berisi 99% bahan kimia melekat di wajah wanita polos. berubah gaya hidup seorang wanita yang menjadi seperti biduan dangdut bawah lampu merah dengan lirikan mata nan aduhai.
Semua itu terjadi karena gaya hidup, pergaulan dengan teman-temannya dan rasa penasaran yang membuat mereka tertarik.
Askar sempat berpapasan dengan seorang teman satu kelas saat SMK nya dulu. Dia adalah Beny sopiyan, perkotaan betul namanya itu.
Berbeda dari mereka-mereka yang anak kampung, dimana terkadang orang tua mereka memberi nama seadanya, bahkan seingat apa pun di dalam pikiran atau mencari wangsit ke sana kemari, bersemedi di bawah pohon jambu hingga di temukan nama untuk sang anak ketika melihat koran bekas gorengan.
Dan terciptalah nama Sujiro Cristiano robet Ramirez, gila benar itu nama, menurut sang ayah yang memberikan nama karena ingin anaknya berkeliling dunia.
Sujiro seperti nama orang jepang, Cristiano dari argentina, Robert dari amerika dan Ramirez dari spanyol.
Padahal ayahnya itu tidak tahu menahu soal luar negeri, karena seumur-umur tempat paling jauh yang pernah di kunjunginya hanya sebatas kabupaten sebelah saat kondangan ke saudara jauhnya yang menikah.
Tapi Beny sopiyan, Askar tidak tahu apa maksudnya, atau pun makna di balik nama anak kampung, udik, tampang lugu itu. Dimana teman satu ini memiliki garis nasib yang sama dari kebanyakan perantau jawa lain.
__ADS_1
Di desa Beny, purbayasa. Jauh lebih terpencil dari desa tempat Askar tinggal yang sama kecil di kaki perbukitan, terisolasi oleh jalan aspal, jalan tanah dan masih terlihat lumpur di tengahnya. Dari batu krikil hingga batu besar yang tinggal menunggu hujan deras untuk membawa berguling.
Kegigihan Beny untuk bersekolah membawa dia hingga ke SMK yang memberikan beasiswa untuk rakyat miskin di perkampungan dan juga sebagai tindakan pemerintah memberantas penyakit buta huruf dari mayarakat.
Lepas dari makna sebuah nama yang sudah di berikan nasi tumpeng, sosok Beny sekarang berubah 180 derajat, dulu waktu di sekolah dia akan batuk saat menghirup asap rokok bahkan itu dari jarak 10 meter. Tapi sekarang di bibirnya seperti di cat hitam karena sering di hisap berbatang-batang rokok setiap menit.
Rambut yang memiliki style anak taat peraturan dengan potongan rambut cepak 321, sekarang sudah tidak karuan separuh rambutnya panjang dan separuhnya botak terukir gaya batik.
"Jakarta itu akan meninggalkan kita kalau tidak bisa mengikuti mode globalisasi."
Begitu jawabnya saat Askar bertanya tentang penampilannya yang seperti orang gila baru dengan celana sobek dan pakaian berlapis.
Tentu Askar sadar jika inilah akibat dari kehidupan di kota Jakarta yang membawa temannya Beny Sopiyan ke arus curam menuju jurang yang bernama pergaulan bebas.
Siapa tahu Tuhan berkata apa, mereka berdua sejenak mengobrolkan hal biasa bagi seorang perantau di dalam reuni pertemuan, yaitu menanyakan pekerjaan.
"Elu itu mantan siswa terbaik coy, sedangkan gua ini boro-boro bisa rangking, pas kkm aja udah senang gua." Begitu jawabnya, dengan logat bumiayu yang di campur bahasa jakarta sok kota.
Askar tersenyum-senyum karena membuatnya terdengar lucu.
Hanya saja, tidak lagi lucu ketika Askar sadar bahwa Beny sedang menyinggungnya. Belajar 6 tahun di sekolah dasar, 3 tahun di SMP dan 3 tahun pula berakhir sebagai lulusan siswa SMK. Meski terbaik atau bukan, Askar merasa terhina oleh kenyataan.
"Jadi apa hubungan rangking dengan pekerjaan, nyatanya di dalam dunia ini, menjadi pengangguran itu pahit jika di jalani. Tidak penting urusan nilai, sebaik apa pun pelajaran matematika, tidak mungkin digunakan untuk seorang Selesman piring, karena yang mereka butuhkan adalah kemampuan mengarang cerita." Jawab Askar dengan perkataan bahasa indonesia yang baik dan benar sesuai buku EYD.
__ADS_1
Tapi sejurus kemudian, lelaki yang satu itu memberikan solusi dari masalah di dalam perantauan Askar. Dia malah tertawa seperti mengejek, tapi memang pantas adanya jika melihat keadaan Askar saat ini.
Baju yang Askar gunakan berbau apek, parfum murahan yang dia semprot kalah dengan asap kenalpot dan juga minyak rambut sudah meleleh ke kepalanya, pahit rasanya jika menerima kenyataan dari hidup perantau.
"Ok, kalo Elu memang pengin kerja yang agak mendingan, besok Elu ketemu gua di terminal kali deres."
"Apa perlu aku bawa surat lamaran, CV, pas foto 3 x 4, dan sertifikat paklaring."
"Buat apa ?, Semua itu gak ada gunanya, biar Gua yang bicara sama bos, Elu terima beres aja."
"Wahhh hebat benarlah kau ini."
Untuk pertama kalinya Askar menggunakan kekuatan orang dalam saat mencari kerja, tapi melihat penampilan Beny, tentu mustahil jika dia adalah HRD atau semacamnya.
"Dah... Gua ada kerjaan sekarang, Elu siap-siap aja buat besok."
Seruput kopi hitam dari gelas selayaknya orang kehausan, memberikan uang receh dari dalam kantong celananya dan langsung pergi dan itu juga masih kurang.
Berjalan kembali ke kontrakan, Narmo masih duduk bersemedi dengan wajah melamun menatap satu poster yang menjadi peninggalan pemilik sebelumnya.
Avril Lavigne, ya meski Askar orang kampung, tapi dia juga sedikit tahu soal lagu-lagu kondang di dalam mau pun luar negeri.
Tapi yang membuat Narmo semakin terlihat aneh, dia tiba-tiba saja menyenandungkan lagu 'Hakikat sebuah cinta', itu jelas bukan lagu dari Avril Lavigne.
__ADS_1