Jakarta Di Hari Ini

Jakarta Di Hari Ini
Atraksi


__ADS_3

Harap-harap cemas mereka menunggu hasil wawancara, tapi entah keajaiban apa yang terjadi, Askar dan Narmo di terima bekerja sebagai operator marketing lapangan. Atau bisa juga diartikan sebagai Salesman piring PT Sun glass Volin.


Askar sadar jika mencari pekerjaan adalah hal sulit, lebih sulit dari memetik kelapa padahal tidak bisa memanjat. Bertaruh nyawa sekali pun tidak apa, asalkan itu halal dan tidak menyusahkan orang lain.


Tapi memang pekerjaan sebagai selesman seperti mereka sekarang, membutuhkan jurus handal perayu pelanggan.


"Ibu ini piring hebat, bulatnya sempurna, putih, mulus, tipis dan kuat, lihatlah bisa dibuat untuk menggambar jiplakan jam."


Masih belum tergiur, Askar gunakan jurus yang lain, yaitu membuktikan kelebihan produk piring lebel singa ini.


"Ini sangat kuat Bu, mampu menahan berat nasi sampai 2 kilo jika ditambah dengan lauk pauk yang lain, itu bisa sampai 3 kilo, bayangkan itu, hebat bukan buatan."


Tapi tetap saja masih belum tergiur dengan cara Askar mendeskripsikan piring atas segala kelebihan dan manfaatnya. Sedangkan ibu itu hanya mengangguk-angguk tidak lazim dan menjawab. "Kemarin saja, kita ditawarin piring yang katanya anti pecah, pas coba kita gigit ternyata renyah sekali."


Terpikir jika dulu ibu ini adalah kuda lumping atau mempelajari ilmu debus, sehingga Askar tidak bisa mensiasati lebih lanjut.... "Ah kalau begitu, akan aku tulis untuk reverensi produk berikutnya agar tahan gigitan juga, jadi saya permisi ."


Selesai.


Perjalanan Askar dan Narmo sebagai selesman piring cap singa masih berlanjut, membawa tas berat seperti sekarung beras, diangkatnya susah payah hingga berkeringat, belum lagi berkelana kesana kemari demi menawarkan barang yang dia jual.


Mereka berdua sudah menjelajah seperempat kota Jakarta, menelusuri gang-gang kecil, berpindah keberbagai kompleks, dari satu rumah ke rumah lain, mengetuk satu pintu ke pintu tetangga sebelahnya, coba ke warung sembako hingga warung nasi Padang.


Bersikap penuh wibawa untuk menjelaskan beberapa kalimat, tapi semua hasilnya nihil.


Dan yang paling tragis adaah baru saja mengetuk pintu, seseorang dari dalam rumah keluar membawa golok dan berteriak keras penuh emosi dengan lolongan panjang menakutkan.


Kini keduanya berjalan lemas menyusuri tepian sungai Daan Mogot yang hitam dan tampak tidak menyenangkan.


"Mo, kalau seperti ini, kita berdua akan di PHK." Ucap Askar dengan lemas.


"Sudah pasti." Narmo pun tidak menyangkalnya, dia seperti sudah pasrah untuk hal terburuk.


"Apa yang dikatakan pak Tarmad sepertinya memang benar, selesman itu pekerjaan sulit, jika kita tidak bisa bermain kata-kata, maka orang-orang tidak mau membeli."


"Jadi menurutmu kita harus berbohong, mengatakan kalau piring yang kita jual bekas digunakan oleh Artis terkenal, atau mungkin piring kita adalah kendaraan alien. Begitu ?." Itu yang terlintas di benak Narmo.

__ADS_1


"Ya aku tidak berbakat untuk berbohong, apa lagi mengada-ada demi keuntungan pribadi dan merugikan orang lain."


"Apa Loe mau menyerah ?."


"Tidak juga, tapi kita harus mencari ide yang mungkin bisa membuat pelanggan tertarik."


Sejenak Askar terdiam, dia menatap ke atas, tampak langit abu-abu yang sudah terselimuti asap kenalpot dan cerobong pabrik menuju atmosfer. Tiba-tiba saja terlintas sebuah pemikiran untuk keluar dari masalah.


Askar tidak tinggal diam untuk menerima nasib yang sedang dirinya alami sekarang, pasrah dalam keputusasaan adalah tindakan tercela karena sudah meragukan kekuasaan Tuhan.


Tanpa perlu ragu Askar pun menggunakan ide yang terlintas dalam pikirannya itu, mereka coba melakukan pemasaran produk secara live show di pinggiran jalan.


Seperti dulu ketika ada tukang obat mempertunjukkan keahlian debus dan cukuplah berhasil menarik perhatian orang-orang.


Bersiap dengan penuh keyakinan, Askar mulai berteriak-teriak... "Baiklah, bapak-bapak, ibu-ibu, saudara-saudara, kakak-kakak, adik-adik, om-om dan tante-tante semua yang ada di sini. Mari yang jauh mendekat, yang dekat merapat dan yang rapat semakin erat."


Sebuah intro awal cukup baik dari Askar untuk menarik perhatian. Orang-orang pun mulai berdatangan, mendekat dengan karena rasa penasaran, karena ingin tahu jika ada sesuatu menjadi pusat perhatian diantara ramainya pejalan kaki berlalu-lalang.


"Seperti kalian lihat sekarang, teman ku ini akan mempertunjukkan kebolehannya dalam beratraksi dengan piring."


Askar melihat rasa penasaran semua orang yang tertuju kepada Narmo, dia tidak membuang kesempatan untuk melakukan promosi.


Orang-orang mulai tertarik, tapi tidak untuk membeli piring yang dia jual, melainkan tertarik bagaimana Narmo akan beratraksi.


"Bagaimana saudara Narmo, apa anda siap untuk menguji kelayakan piring cap singa ?."


"Cukup menantang, tapi aku yakin bisa melakukannya."


"Oh, anda begitu yakin, apa yang sudah anda persiapkan untuk menyelesaikan tantangan ini."


"Aku sudah berlatih sembilan tahun di sekolah dari program pemerintah untuk wajib belajar, solat berjamaah lima waktu, tidak lupa bersedekah, tidak lupa pula berdoa dan yang terpenting aku tidak lupa pula pesan ibu bapak agar aku kelak menjadi orang yang berguna bagi Nusa dan bangsa."


"Sungguh luar biasa. Baiklah, silakan saudara Narmo untuk memulai pertunjukan nya."


Di iringi oleh lagu kasidah perdamaian berirama marching band, Narmo melakukan peragakan dengan pertunjukan tari piring, juggling piring, spinning piring, lempar piring, dan tangkap piring, Narmo benar-benar luar biasa untuk urusan seperti ini.

__ADS_1


Tapi itu tidak membuat penonton menjadi terkagum, mereka tampak malas, dan pergi begitu saja. Askar tampak khawatir, wajah mulai bingung dan panik, dia memikirkan penjualan yang belum mencapai target.


Sudah terbayang wajah pak bos dengan amplop putih bertuliskan PHK untuk diberikan secara langsung kepada dia dan sahabatnya itu.


"Narmo cari cara yang lain."


"Apa yang harus gua lakukan."


"Makan piring, makan piring."


"Loe mau buat gua kena diare." Cukup mengejutkan karena itu hanya membuat Narmo sakit perut.


"Kalo gitu sulap."


"Gua kaga bisa sulap, taplak."


"Pecahkan piring dengan kepala."


"Baiklah." Narmo setuju.


Satu persatu piring dihantamkan ke atas kepala, yang menjadi hal luar biasa, bahakan untuk Askar sendiri adalah piring jualan mereka itu keras bukan main, tahan banting dan tahan lama.


Tapi kepala Narmo mudah memecahkan piring yang sudah dipersiapkan.


"Lihatlah, bapak-bapak, ibu-ibu, saudara-saudara, kakak-kakak, adik-adik, om-om dan tante-tante, saudara Narmo mampu menunjukkan seberapa kuat kepalanya ini."


Orang bertepuk tangan, terkagum-kagum, meski pun jelas, itu karena Narmo membuat mereka terhibur.


"Saudara Narmo bagaimana rahasia anda kenapa memiliki kepala yang begitu kuat, padahal piring cap singa ini sangat keras."


"Jangan salah Saudara Askar, aku selalu dikatakan oleh orang-orang sebagai anak yang keras kepala, jadi ini mungkin bawaan dari lahir."


"Bakat terpendam begitu Saudara Narmo."


"Kurang lebih."

__ADS_1


Tapi sayangnya, apa yang Askar dan Narmo lakukan tidak lebih sebagai hiburan bagi mereka-mereka untuk mengisi waktu senggang karena merasa lelah menjalani hidup yang tidak baik-baik saja.


Askar dan Narmo pun tidak baik-baik saja sama seperti mereka, karena piring yang pecah saat pertunjukan jauh lebih banyak dari pada yang terjual.


__ADS_2