Jakarta Di Hari Ini

Jakarta Di Hari Ini
Perihal Hilang Sepatu Sebelah


__ADS_3

Sudah sebulan lebih Askar dan Narmo mengikuti Paguyuban setiap minggu, bahkan jika dia sendiri berhalangan datang, selalu Askar sempatkan untuk menuliskan surat keterangan tidak hadir yang aku titipkan kepada Narmo.


Termasuk hari ini, Askar terpaksa kerja lembur karena Beny temannya sedang mudik ke kampung halaman. Tapi bukan hanya melakukan pekerjaan, lebih seperti menjadi bahan omelan dari kepala terminal yang sejak pagi mondar mandir, karena kehilangan sebelah sepatunya.


Namun bukan hanya Askar sendiri yang menjadi korban dari masalah hilangnya sebelah sepatu kepala terminal itu, seluruh pasukan keamanan, kenek, supir, calo bahkan pedagang asongan pun terkena imbasnya.


Bagaimana tidak, jika terjadi sebuah masalah yang menyangkut keadaan kepala terminal, hal kecil serupa topi tukang parkir miring pun akan menjadi masalah panjang.


Kepala terminal akan memberi ceramah tentang kedisiplinan pakaian dan tata tertib kesopanan dan SOP pekerjaan yang sesuai aturan yang berlaku.


Menanggapi masalah sepatu kepala terminal yang hilang sudah tiga hari tidak terselesaikan, seluruh pasukan terminal Kalideres mengadakan rapat rahasia tanpa di ketahui oleh kepala terminal di sebuah warung kopi pinggir jalan.


Sebagai anggota senior keamanan Kotim Masri, mengadakan rapat ini karena sudah tidak kuat menahan ocehan kepala terminal yang terus menceramahinya soal tata tertib keamanan, karena selalu saja membiarkan pedagang masuk ke lokasi terminal.


Padahal biasanya hal itu adalah wajar tanpa ada masalah sedikit pun, tapi setelah kejadian hilangnya sebelah sepatu kepala terminal, hal soal tata tertib menjadi pedang yang siap menebas gaji Katim ini.


"Kalau kita tidak cepat bertindak, bisa gawat ini ." Kata petugas kebersihan Warto sambil meminum teh tawar cap poci yang baru saja di tuang tanpa menghiraukan panasnya itu.


"Ia Elu benar To, jika seperti ini terus bisa-bisa bulan depan gua makan cuma pakai garam doang ." Balas Kotim dengan memegang dahinya sambil menggeleng.


"Jadi bagaimana caranya." Saat Askar bertanya demikian.


Keheningan mulai datang, seperti adegan dalam film di mana waktu berhenti tanpa ada suara sedikit pun, mata saling melirik ke kiri dan kanan tanpa suara.


Walau itu hanya beberapa detik hingga salah satu orang memberi jawaban dari apa yang Askar tanyakan sebelumnya.


"Bagaimana kalau kita tanya kepada dukun saja ." Usul tukang asongan yang ikut rapat karena kejadian hilangnya sebelah sepatu kepala terminal.


Buntut dari masalah ini berakibat kepada hilangnya lapak jualan pada tukang asongan di dalam terminal.


"Dukun jaman sekarang jangan di percaya, mereka semua itu udah pakainya jin dalam Facebook, jadi kebanyakan apdet status, sudah hilang kekuatan mereka itu ". Jawab pedagang koran di samping pedagang asongan.

__ADS_1


Askar sendiri berpikir serius, kalau percaya kepada hal mistik seperti itu akan berakibat kepada hancurnya iman manusia.


"Jadi menurut Elu gimana cara yang baik Jean ." Bertanya Katim kepada pedagang koran yang di panggilnya Jean.


Usut punya usut namanya memang Jean, panjangnya Jenal abidin, sudah kacau nama panggilan jaman sekarang. Sebenarnya Narmo pun pernah meminta Askar memanggilnya dengan nama panggilan yang dia inginkan.


Hanya saja Askar merasa jijik jika harus memanggilnya dengan nama 'Tomas Imanuel Nourus Jonson Albert .'


Kacau sekali selera teman Askar satu itu, bahkan jika dia singkat sekali pun itu akan menjadi lebih menjijikkan untuk di katakan.


"Mari kita tanyakan kepada koran ." Kata Jean menunjuk ke sebuah kolom iklan jasa.


Di pojok bawah paling bawah, kotak sebesar 10 x 5 centimeter, sebuah jasa pencari benda hilang, yaitu jasa detektif, sungguh pekerjaan seperti itu menurut siapa pun terlihat sangat hebat.


Menggunakan otaknya untuk membantu masalah tentang kehilangan barang sungguh hal mulia. Tanpa banyak alasan atau komentar ditunjuklah Askar sebagai tim pelaksana tugas hebat ini.


Layaknya misi rahasia dari pemerintah yang menyangkut keamanan negara, Askar mengajak Narmo selaku asistennya.


Askar membawa berkas di dalam amplop coklat yang di segel, sungguh hal ini membuatnya kagum. Dimana berasa sudah menjadi pemeran pembantu di dalam film james bond.


Terlihat pula sebuah papan toko bertuliskan 'JASA DETEKTIF, ' di tambah lagi di bawahnya 'mengatasi masalah kehilangan benda, selidik menyelidiki orang, orang hilang, mengantar arsip rahasia, hilang percaya diri atau pun kehilangan cinta '... '


Tambahan, sedia pulsa, vocher, Token listrik, kopi, susu dan setel pelek motor.'


Sungguh komplit sekali.


Terlebih lagi saat Askar dan Narmo masuk ke dalam gedung dua lantai itu, berbagai macam pernak pernik seperti pistol, kaca pembesar, alat rokok unik seperti kepunyaan sherlok holems ada di dalamnya, bahkan melihat Narmo tampak matanya berkaca-kaca seperti ingin menangis karena terlalu kagum.


Hingga tidak berselang lama, seseorang datang menghampiri kami berdua, gaya berpakaian jas coklat, topi dua arah sekali gus tidak lupa alat rokoknya, sudah tampak seperti detektif sungguhan.


"Anak muda ada perlu apa di tempat ini ." Kata Bapak detektif yang menghampiri mereka.

__ADS_1


"Begini pak detektif ..." Berhenti Askar bicara saat jari detektif itu memberi tanda untuk diam.


"Kalau ini masalah pekerjaan, sebaiknya di rahasiakan dulu, jangan sampai agen rahasia mata-mata tahu mengenai hal ini ." Katanya dengan serius dan Askar pun terkesima melihatnya.


Askar balas dengan mengangguk paham.


Detektif itu membawa mereka ke sebuah ruangan bertuliskan 'Ruang Rahasia', Askar tidak banyak bicara hanya memberikan kode mengangguk dan menggeleng saja.


"Pak kenapa di tuliskan ruang rahasia, kalau begitu ini bukan rahasia lagi dong ." Bertanya Narmo sesaat setelah mereka memasuki ruangan.


"Begini nak kita ingin mengecoh musuh, musuh pasti akan berpikir kalau ruangan ini adalah lelucon karena di tuliskan dengan jelas, jadi mereka tidak akan memasuki ruangan ini ." Jawabnya dengan serius dan tenang sembari menghisap alat rokok itu walau tidak ada asap yang keluar.


"Kenapa tidak ada asapnya ." Bertanya kembali Narmo bingung.


.


"Sebenarnya saya tidak merokok, ini supaya terlihat seperti detektif propesional aja ." Jawabnya dengan serius tapi tetap terlihat keren menurut Askar.


Sedangkan di dalam ruangan itu tidak ada yang spesial, hanya empat kursi dengan satu meja beserta lampu gantung saja, mereka berdua di persilakan duduk.


Saat itulah Askar menyerahkan amplop coklat tersegel kepada pak Detektif, melihat dengan mata tegas dan memegangi dagunya, ibarat mendapatkan sebuah misi dari sebuah agen FBI untuk menemukan pelaku pembunuhan.


"Ini masalah yang serius ." Ujar pak Detektif.


"Sepertinya begitu pak ." Jawab Askar setuju.


Askar pun yang ingin terlihat sedikit cerdas, berlagak seperti ikut memikirkan tugas yang di berikan oleh kotim selaku ketua dalam misi hilangnya sebelah sepatu kepala terminal.


"Baiklah saya terima tugas ini." Kata pak detektif saat menyalami Askar.


"Terima kasih pak detektif, untuk pembayaran ?."

__ADS_1


"Sepuluh persen di muka, dan sisanya setelah tugas ini berhasil ." Jawabnya dengan menyilangkan tangan di dada.


Sekali lagi dia hisap alat rokok itu kemudian dihembuskan pula, berlagak seperti ada asap yang keluar dari mulutnya.


__ADS_2