
Siang hari ini memang berjalan seperti biasanya, selalu terintimidasi oleh asap kenalpot kendaraan yang terus mengeluarkan karbon monoksida dengan penuh kesombongan, atau pun suara klakson mobil yang terjepit di antara truk muatan tinja di sela kemacetan jalanan kota Jakarta.
Di tambah lagi suasana panas dan aroma keringat kuli pembangunan jalan, sungguh menjadi kesengsaraan yang luar biasa bagi para manusia. Semua itu tidak pernah berhenti atau pun tidak pernah berkurang.
Hanya saja untuk satu kejadian yang membuat siang hari ini menjadi menegangkan, sebuah mobil polisi tidak di sangka parkir di depan tempat paguyuban.
Sekumpulan warga sekitar yang sedang menganggur, karena tidak memiliki pekerjaan dan hanya duduk sambil main gaple, kini berdatangan dan ikut menyaksikan tengang kejadian di siang ini.
Meski pun kejadian tentang hal-hal kriminalitas sudah biasa di lihat di Jakarta, tidak perlu menunggu seminggu sekali untuk melihat polisi datang dengan mengumandangkan sirine, setiap hari para polisi itu di sibukkan oleh berbagai macam tindakan manusia yang membuat kacau.
Entah tentang pencurian bank, perampokan rumah, pembunuhan karena hutang, tabrakan mobil sedan dengan mobil tinja, maling motor, maling sepeda, maling sandal atau pun maling pacar, setiap saat selalu saja ada alasan yang membuat polisi harus bolak-balik ke sana- kemari untuk mengurusi perilaku manusia yang sudah kacau balau.
Tapi untuk Askar sekarang, ini adalah hal aneh karena di kampungnya hanya sekali, dia melihat polisi datang, itu pun karena seorang pemuda yang di ketahui mencuri ayam tetangganya dan memperlakukan tidak senonoh alhasil sang pemilik mengetahui perbuatannya dan terjadilah adu mulut.
Karena si pelaku masih tidak mengakui perbuatan itu, akhirnya polisi pun turun tangan sehingga membuat tersangka angkat bicara , alasannya sederhana yaitu cinta pandangan pertama, sungguh kejadian yang membuat polisi pun hanya menggaruk di kepala botaknya, untung saja, semua berakhiri dengan damai dan Askar pun tahu siapa dalangnya
Tapi di tempat ini berbeda, selama tidak berujung keributan antar kampung polisi Jakarta jarang melakukan tindakan, jika itu masalah sepele tentang pencurian ayam atau pun sendal jemaah masjid.
Askar dan Namro yang baru saja datang ke tempat paguyuban merasa penasaran dengan kejadian ini, menerobos kerumunan para manusia pengangguruan yang ingin tahu urusan orang lain.
Mereka terhimpit sesak dengan perasaan was-was bercampur bau keringat orang yang belum mandi dari semalam lantaran air pam tidak keluar.
Kini Askar bisa melihat setiap anggota penting seperti Warju dan Abah Jamroji berhadapan langsung dengan seorang polisi beratribut lengkap dengan wajah tenang.
Askar pun merasa gugup saat melihat ketegangan di dalam ruang pertemuan itu, memberikan sebuah amplop dan di baca oleh Warju dengan mata keriput yang termakan oleh umur.
__ADS_1
Tapi alangkah terkejutnya Askar dan seluruh anggota di dalam, tiba-tiba saja Warju berdiri dengan wajah seperti berkata 'Ini tidak mungkin '.
Itu yang Askar lihat dari sorot mata dari orang yang sudah merasakan lumpur hitam dari Jakarta sepanjang hidupnya.
"Ini adalah bukti yang kami temukan, tersembunyi di bawah laci meja dalam ruangan."
"Tidak mungkin aku dan semua anggotaku melakukan hal kejahatan." Bantah Warju dengan tegas.
Kepalan tangan kuat iru menahan emosi, semakin keras hingga matanya berkaca-kaca.
"Tapi anda tidak bisa mengelak lagi Pak, kami akan menangkap anda untuk tuduhan penyelundupan barang haram berupa obat terlarang." Semakin jelas Askar mendengar perkataan dari bapak poisi berkumis tebal seperti lumut yang hinggap di bibir.
"Tunggu sebentar, aku tidak bisa membiarkan hal ini, aku sebagai ayahnya dan tidak terima dengan tuduhan yang bapak polisi inginkan ." Abah Jamroji dengan kuat membanting tangan ke atas meja.
"Tapi barang bukti sudah ada di depan mata, dan dari laporan yang kami terima pun sudah jelas ." Balas bapak poisi yang sedikit gemetar saat melihat wajah marah bapak Jamroji.
"Siapa yang melaporkan hal ini, kenapa dia bisa tahu, sedangkan kami di sini tidak ada pernah sekali pun menjual obat-obatan itu ." Kemarahan bapak Jamroji seperti sudah mencapai ubun-ubun.
Mata yang melihat sekeliling, bagaikan ingin menjejalkan durian utuh ke mulut orang yang memfitnah keluarganya,
"Si pelapor ingin di rahasiakan identitasnya, jadi kami tidak bisa memberitahu siapa pelapor itu, tapi kami pun akan menyelidikinya, siapa yang salah atau pun benar akan terlihat nanti setelah penyelidikan, tapi saat ini Bapak Warjulah yang menjadi tersangka ." Jawaban Bapak Polisi yang mencoba untuk tenang walau tangannya masih gemetar ketakutan saat menatap mata dan codet dari bapak Jamroji.
Askar bisa merasakan ketakutan di dalam mata Warju, ketakutan itu bukan karena penjara atau pun hukuman yang jelas-jelas tidak di perbuat olehnya, Warju takut dengan emosi sendiri bisa menjadikan dirinya tidak percaya kepada semua teman dalam paguyuban.
Walau begitu Askar sendiri tahu seberapa kuat dia menahan diri.
__ADS_1
"Jika memang begitu, biarlah aku yang tertangkap, asalkan jangan libatkan semua anggota di tempat ini ."Perkataan itu keluar dari mulut yang gemetar.
Warju percaya semua teman yang berjalan bersama di tempat ini tidak akan pernah melakukan hal menyesatkan seperti tuduhan polisi.
Dia tidak menuduh siapa pun, mata yang hanya melihat ke bawah, kepalan tangan terurai lemas dengan semua emosi tertahan di dalam hati.
Lelaki tua yang memperjuangkan harga diri semua perantau itu hanya bisa tertunduk saat mata para anggota menatap kecewa ke arahnya, harga dirinya dia buang untuk menyelamatkan seluruh anggota yang sudah menjadi saudara seperjuangan di kota ini.
Berjalan dengan wajah tertunduk lemas, warju hanya bisa menunjukan sebuah ekspresi marah dan pasrah.
"Tapi Pak..." Askar mencoba berteriak menghentikan polisi membawa Warju.
Askar mencoba mengatakan sesuatu tapi tanganku gemetar, dia pun ketakutan, suaranya tidak bisa keluar untuk lanjut bicara. Bagaikan ada biji nangka yang tersangkut di tenggorokan dan itu membuatnya tercekik.
Kini Askar hanya bisa terdiam, dia berdiri di depan barisan para manusia yang memandang kecewa dengan mata menuduh.
Warju berjalan mendekat, berdiri tepat di depan Askar, tangan coklat berurat itu menepuk pundaknya, sebuah senyuman dari lelaki tua itu penuh dengan keteguhan hati yang kuat, tapi senyum Warju membuat jiwa Askar kelu, sakit bukan main.
Warju berbisik dan berkata.
"Terima kasih Nak, sudah percaya kepadaku ." Itu yang dibisikkan oleh warju.
Askar hanya bisa melihat polisi membawa Warju pergi, dia sempat berfikir betapa hinanya diri sendiri dan tidak bisa membela sebuah keluarga.
Warju adalah orang yang telah menolong mereka, tapi bagi Warju, dia hanya ingin di percaya, walau pun itu hanya satu orang saja.
__ADS_1