
Setelah kisah heroik bapak Tarmad khatam hingga tiga jilid dalam semalaman penuh.
Kini Askar mulai berbincang dengan ke tiga teman barunya, teman seperjalanan dari kampung, mereka bertiga adalah Mandra, Jumin dan Marjuki. Tiga ekor kambing yang akan dijadikan gulai, sate atau pun semur di warung makan.
Sebenarnya pula mereka bertiga adalah sisa dari pemberhentian ke dua di warung tongseng, 12 ekor kambing yang dibawa Tarmad, tinggalah tiga sahabat barunya ini.
Mandra seorang kambing bandot yang sering menceritakan kisah cintanya bersama kambing betina lain, itu cukup mengagumkan, tentu dalam standar dunia perkambingan. Bagaimana tidak, kata Mandra sudah 15 kambing betina takluk olehnya, dari mulai kambing jawa, kambing domba, kambing etawa, kambing impor Australia hingga Siberia pun dilibas.
Askar mengangguk salut untuk kehebatan Mandra, kesombongannya itu di tandai suara terus mengembek. Tapi jika mandra adalah manusia, mungkin dia sudah di sidang karena menghamili wanita lain tanpa ada tanggung jawab, sungguh kasihan jika memikirkan itu.
Usut punya usut, saat ini Mandra sedang CinLok dengan kambing betina Jumin, Jumin memiliki kisah tragis di perjalanan hidup sebagai seekor kambing. Dia adalah janda 9 kali yang suaminya berakhir di pangangan sate warung pinggir jalan. Semasa hidup, Jumin sudah melahirkan 6 anak, tentunya anak kambing. 4 diantaranya pejantan dan 2 betina.
Askar merasa iba saat mendengar cerita Jumin yang harus meninggalkan anak-anaknya di kampung sana, terbayang seberapa mengharukan perpisahan mereka. Bahkan sempat Jumin berpikir untuk menjodohkan anaknya yang paling bungsu kepada Askar, tentu saja dia menolak.
Berkaitan dengan cinlok Mandra kepada Jumin, Jumin seperti memberi sinyal lampu hijau kepada Mandra, di tandai dengan suara embekan panjang dan kibasan memutar ekornya itu. Mungkin juga Jumin sudah siap untuk kawin, tapi sadarkah dia kalau memang cinta mereka benar-benar terjadi, dengan begitu, Jumin akan menjadi janda yang ke 10 kalinya.
Miris Askar memikirkan dunia perkambingan....
Satu lagi sahabat kambing Askar yang begitu pendiam, panggil saja Marjuki tidak begitu perduli dengan cerita ngelantur dari Mandra, atau kisah pilu percintaan Jumin.
Dia lebih memilih diam dan menggelengkan kepala saja. Tapi setelah Askar mengajaknya berbincang, Marjuki lebih tertarik dengan masalah perekonomian negara, karena pemerintah lebih memilih daging kambing impor dari luar negeri. Karena masalah itu, membuat turunnya harga daging kambing lokal yang kata orang-orang tidak seenak daging impor.
"Apa kau tahu, aku ini bosan mendengar perkataan pemerintah yang selagunya itu."
__ADS_1
Di dengarkan oleh orang lain mungkin itu hanya suara embekan kambing biasa. Tapi untuk Askar dan dengan sedikit imajinasi, dia bisa mengerti maksud perkataan Marjuki.
"Belagu amat, kata mereka daging kambing lokal itu alot, banyak lemak, tinggi kolesterol, tidak bergizi, segala macam alasan mereka keluarkan. Padahal itu akal-akalan saja."
Askar mengangguk paham saat mendengarkan perkataan Marjuki. Karena jika dia menyela perkataannya, Marjuki akan marah. Dia adalah tipe kambing tempramental yang gampang emosian.
"Mereka cuma cari alasan agar bisa mengimpor daging kambing itu, karena harga beli daging luar murah dan bisa di jual mahal di negara ini, embeek ."
Begitulah pendapat dari Marjuki selaku kambing kampung yang mengutarakan isi pikiran mewakili para kambing. Siapalah Askar yang cuma mendengarkan, karena dia lebih takut di tanduk oleh marjuki jika tidak mengaminkannya.
Askar membuka kembali ponsel lama yang dibelikan oleh kakaknya sebagai hadiah dulu sewaktu dia masuk SMK. Mungkin memang tampak terlihat begitu ketinggalan jaman. Tapi begitulah kenyataannya.
Layar yang masih hitam putih seperti TV tabung jadul dan suara klasik seperti bunyi bel sepeda masa kolonial Belanda. Suara itu terdengar sebagai tanda pesan masuk.
Kata kakak Askar, Rusdi Waran, dia diceritakan oleh penjaga konter HP, jika ponsel ini adalah barang istimewa yang di pakai ajudan jenderal Soedirman saat berkomunikasi melakukan penyerangan di perang gerilya.
Pemilik sebelumnya itu adalah orang-orang hebat dari jaman penjajahan Jepang. Tentu untuk Rusdi yang tidak mengerti soal sejarah, hanya bisa kagum dengan mata berkilauan dan kepala mengangguk-angguk otomatis.
Sedangkan menurut pendapat Askar, ponsel ini adalah bekas kepunyaan veteran tua yang dia jual karena uang pensiunnya sebagai pejuang kemerdekaan bangsa indonesia tidak kunjung cair, atau pun sudah tidak cukup lantaran terus di potong oleh pemerintah.
Kenapa Askar bisa tahu, itu karena sempat dia melihat pesan yang tertinggal di dalam ponsel dan bertuliskan....
Mb4h SudAh tDk pUny4 U4Ng, Nich 4ja mBh 5u Ju4L Hp , Cos U4ng PenSiuN Ngk CaiR, ToNG,
__ADS_1
~"(M3RDEK4)"~
LophE2 MuUuU4Ch
Miris melihat betapa memilukan perhatian pemerintah terhadap para pejuang veteran yang mengorbankan jiwa raga untuk kemerdekaan indonesia, hingga bangsa bisa merasakan indahnya pembangunan.
Sedangkan untuk saat ini, mereka para leluhur yang masih tersisa, seperti tidak diperdulikan lagi oleh mata pemerintah.
Miris, sungguh miris, bahkan pesan keramat itu masih tersimpan di folder penting untuk Askar abadikan dan jika sempat dia ingin menunjukannya kepada Bapak Presiden nanti di Jakarta.
Jam sudah menunjukan pukul 3 pagi, berarti sudah lebih dari 11 jam lamanya berada di dalam truk Bapak Tarmad sebagai tempat tumpangan membawa mereka ke Jakarta untuk merantau.
"Coy, bangun, sudah masuk Jakarta ini ."
Gebrakan tangan Bapak Tarmad dan suara teriakannya membuat Askar terkejut, termasuk pula membangunkan Narmo yang sejak berangkat tertidur pulas dengan memeluk foto ayam betinanya Namira.
Askar membuka penutup atap truk, melihat keluar dan matanya serius memperhatikan setiap gedung besar, tinggi dan berkelap-kelip. Itu seperti saat dia melihat di TV .
Truk masih melaju dengan kencang, angin subuh yang begitu segar menerpa rambut Askar, merasa seperti di angkasa dan melaju mengikuti jalur komet lurus, cepat dan hebat. Askar terpana dengan kilauan lampu gedung yang masih menyala terang di jam subuh saat ini, layar besar memunculkan gambar iklan wanita cantik, putih, mulus hanya dengan aduk, mengangkat sebatang sabun sembari tersenyum, itu jelas seperti ada di TV 15 inci miliknya. Askar benar-benar terkagum karena di sinilah mereka berada di kota Jakarta.
Sedangkan Narmo ternganga, matanya pula tidak berkedip sekali pun, ini adalah sebuah kota dimana tidak ada lampu redup, tidak seperti di kampung mereka yang dimana jam 11 malam, kalau sudah waktu jam tidur semua lampu dari teras, hingga lampu kandang ayam dimatikan. alasannya sederhana... "Boros, boros itu temannya setan ."
Sederhana bukan, tapi itu membuat Askar mengerti, kalau Jakarta adalah tempat para teman setan yang suka memboroskan listrik.
__ADS_1