Jakarta Di Hari Ini

Jakarta Di Hari Ini
Celotehan Tetangga


__ADS_3

Seperti tidak ada bedanya tetangga di kampung atau pun tetangga di kota, karena mereka semua sama-sama berasal dari desa yang pergi merantau untuk sebuah tujuan hidup.


Ada banyak alasan untuk para tetangga kontrakan kiri atau pun kanan memilih hidup di dalam perantauan, dari persoalan cari kerja, cari jodoh, cari wangsit, cari keluarga atau pun cari masalah.


Dimana memang jika manusia akan hidup jika memiliki tujuan, mereka-mereka berusaha dengan segala jerih payahnya hingga nanti mencapai garis akhir antara berhasil atau gagal.


Salah satu contohnya adalah Marjuki tetangga samping kiri Askar di barisan kontrakan milik Haji Hasan. Lelaki paruh baya dengan potongan rambut serong kiri, klimis dan berkumis tipis.


Sedikit bercerita tentang Marjuki, dia adalah seorang pujangga kampungan yang selalu menghibur setiap orang dengan keahliannya bernyanyi.


Tapi jangan salah sangka, Marjuki sudah 5 kali ikut audisi lomba menyanyi di datanginya dan tidak pernah sekali pun lolos untuk ikut ke dapur rekaman.


Bahkan di kontrakan kumuh tempatnya tinggal itu tidak memiliki dapur, hingga sulit bagi Marjuki merasakan betapa hebat sensasi simulasi ketika dia harus berada di sana untuk rekaman.


Keakraban Askar dengan lelaki pujangga itu adalah karena Narmo dan Marjuki memiliki satu kesamaan hobi mendengarkan lagu dangdut, keroncong, koplo, campur sari dan juga Malaysian.


Setiap hari, tidak absen setiap memasuki waktu subuh, sudah di putar oleh Marjuki rekaman Azan subuh lewat speaker bass sedikit kemrosok, timbul tenggelam dan sesekali hilang suara, tapi itu yang akan membangunkan para tetangga untuk menunaikan ibadah sebagai umat Islam.


Meski bagi beberapa orang Marjuki dianggap sebagai pengganggu kenikmatan mimpi indah mereka setelah lelah bekerja lembur, tapi sisi baik sebagai sesama nabi Muhammad yang memang harus ingat-mengingatkan dalam hal kebaikan.


Setelah itu, selama dua jam diputar lagu melayu nostalgia dari para grup musik tanah negeri seberang untuk menghibur setiap orang sebelum memulai beraktivitas.


Dari lagu 'suci dalam debu' hingga 'isabella', dari lagu 'perdamaian' hingga 'Dunia dalam berita', di waktu buang hajat ke ****** hingga lunas waktu selesai mandi, tidak putus speaker itu berkumandang.

__ADS_1


"Masa muda itu sebentar bro, jangan harap itu bisa terulang, nikmati selagi hangat, sebelum dingin nanti ." Itu ungkapan bijak dari Marjuki kepada Narmo.


Perkataan Marjuki banyak melihat kenyataan di pahitnya hidup, dimana bang marjuki sendiri sudah berumur 35 tahun, berbicara dengan nada bergoyang aduhai layaknya Bang Haji memainkan gitar kesayangan saat menyampaikan petuah bijak.


Kisah hidup perantauan dari sang pujangga Marjuki sungguh romantis, alasannya sederhana, dia mencari belahan jiwa yang hilang.


Alkisah sosok wanita yang dia cintai, Juminah, sudah 10 tahun tidak kunjung pulang kampung, wanita tercinta hidup di perantauan, menyokong keluarga sebagai tulang punggung demi hidup tiga adik-adik dan ibunya karena sang ayah telah meninggal.


Kuat tekad bang marjuki untuk menyusul Juminah ke kota, tapi memang pahit nasib kehidupannya selepas pencarian selama 4 tahun. Ketika pertemuan Bang marjuki dengan wanita tercinta, Juminah yang sedang duduk santai di depan sebuah kontrakan kecil daerah Depok lama.


Tapi apa daya, hati Marjuki hancur ketika dilihatnya seorang anak kecil berlari mendekat dan terdengar pula suara lembut dari anak itu memanggilnya mama.


Sungguh ironis sekali, setiap malam nyanyian sendu dari Marjuki selaku korban PHP yang memiliki akhir tragis, bersenandung sendu lewat gitarnya, miris Askar dan Narmo melihat lelaki pujangga yang patah hati itu ketika bercerita.


Lepas dari cerita Marjuki..


Ada pula Hermanto tetangga sebelah kanan dari kontrakan Askar.


Seorang lelaki berpenampilan rapi, tubuh tinggi tegap dan memiliki suara tegas, riwayat pendidikan Hermanto sedikit mumpuni, yaitu STM jurusan teknik kendaraan ringan. Tentu itu tidak buruk untuk orang kampung, bahkan terbilang hebat karena mampu menyelesaikan wajib belajar sembilan tahun.


Namun, ada alasan kenapa Hermanto datang ke Jakarta ini, yaitu untuk melepaskan segala masalah hidup dari rentenir karena berhutang puluhan juta, akibat tertipu soal bisnis penjualan saham.


Semua kesulitan itu terjadi lantaran pemikiran Hermanto yang terlalu tinggi dan mudah di manfaatkan oleh orang lain. Dia membayangkan penghasilan besar tanpa kerja keras, hanya memberikan modal berpuluh juta dengan iming-iming berkali-kali lipat.

__ADS_1


Tidak ada keraguan untuk Hermanto menggadaikan tanah warisan orang tuanya, namun ketika dia mendengar tentang orang yang membawa uang modalnya itu menjadi buron oleh polisi.


"Tidak ada namanya sukses mendadak tanpa ada kerja keras, itu seperti meramal masa depan, kita sebagai orang beriman haram untuk percaya dengan ramalan." Ucap Hermanto sebagai nasihat kepada Askar dan Narmo.


Belajarlah Dia dari kesalahan dan sekarang Hermanto berkerja sebagai karyawan bengkel motor dengan penghasilan yang hampir tidak cukup untuknya hidup, semua itu demi menebus tanah yang di gadainya kepada rentenir.


Satu lagi...


Darmad, dia tidak seperti Marjuki atau Hermanto, karena memang bukan tetangga kontrakan Askar, hanya sebatas orang yang sering nongkrong bareng untuk ikut serta dalam pembicaraan mereka.


Kepergian Darmad ke Jakarta, hanya karena dia mendapat wangsit kalau kesuksesannya akan datang, jika dia berkerja di Jakarta. Tapi tidak ada bedanya dengan mereka semua sebagai seorang perantau melarat yang semakin melarat untuk hidup di Jakarta ini.


"Jangan percaya yang namanya wangsit, dukun atau pun paranormal, itu musyrik." Kata bang Darmad penuh penyesalan.


Sudah kena batunya Darmad, diantara bang Marjuki dan bang Hermanto, Darmad menjadi sosok paling miris. Tanpa selembar ijazah, tanpa keahlian, tanpa apa pun keahlian, dia merantau ke Jakarta hanya mendengar perkataan dari lelaki berjenggot putih yang di kenal sebagai orang pintar.


Sedangkan menurut Askar, jika dukun atau orang pintar bisa meramal orang agar bisa kaya, dia tidak akan kerja sebagai dukun tentunya. Kecuali dukun itu sukses mendapatkan untung dari orang yang dia tipu, itu baru sukses.


Tanpa sadar Askar menggeleng kepala, saat berjejer ketiga orang yang sudah salah kaprah menjalani hidupnya selama ini. Di temani lagu sendu dari Bang marjuki, Hermanto yang terus menghitung penghasilan untuk di bagi dan terus membagi hingga mencapai tidak terbatas.


Dan Darmad yang hanya bisa termenung meratapi nasib sebagai kuli angkut pasar, Askar sedikit berharap tidak menjadi seperti ketiga orang itu.


"Sungguh kehidupan sukar di tebak, saat ini berjaya besok tidak tahu apa, entah istri pergi karena bosan makan makanan melarat, bisnis hancur karena di tipu tukang asongan, atau pun menjadi gelandangan karena lupa daratan, nasib, nasib, sejauh apa kehidupan ini berlanjut, kita hanya bisa menjalaninya ."

__ADS_1


Perih mendengar perkataan itu dari Bang Marjuki, tapi semua adalah kenyataan.


__ADS_2