
Askar tidak tega ketika melihat Narmo duduk melamun sendirian setelah di pecat mereka berdua sebagai seorang salesman penjual piring.
Memang benar apa kata Bapak tarmad katakan, sepahit-pahitnya pekerjaan adalah seorang Selesman, di mana ketika barang laku terjual, mereka masih kena maki bos dengan bermacam alasan.
"Hanya karena terjual sedikit, itu masih belum cukup untuk mencapai target. Apa gunanya aku menggaji kalian semua kalau pada akhirnya ini membuatku rugi."
Dan itu hanya segelintir alasan untuk memotong upah gaji milik karyawannya.
Apa lagi saat tidak membawa pulang hasil apa pun, bukan kena maki lagi, seakan mereka disuruh untuk memakan piring, lantaran bos melihat tampang mereka berdua selayaknya penunggang kuda luping.
Sungguh manusia tidak pernah tahu kapan harus bersyukur dengan hasil yang di dapatkan.
"Dia orang tuh sok berkuasa amat, memangnya kita ini apa seenaknya sendiri main pecat aja."
"Mau bagaimana lagi, kita cuma karyawan, dan dia bos nya."
"Bos sih bos, tapi memang dia pikir jualan piring gampang apa... Orang-orang itu tidak mungkin makan setiap hari pakai piring baru, kecuali piringnya juga di makan." Narmo kembali mengoceh.
Askar tidak menyalahkan Narmo karena sakit hati lantaran di hina seperti joki kuda lumping. Narmo yang sudah kesal lahir batin karena bukan lagi kena maki oleh bosnya.
Upah satu bulan berkerja pun di potong separuh, karena banyak piring pecah untuk melakukan atraksi agar banyak menarik perhatian dan membeli piring jualan.
"Memang karena dia bosnya, tapi kita hanya kuda tunggangan untuk membawanya semakin sukses." Jawab Askar yang tentu kesal pula.
Sedangkan dari sebagian kesalahan Narmo akibat Askar yang mendapat ide untuk melakukan atraksinya itu, sehingga Askar merasa tidak enak hati dan memberi kompensasi kepada Narmo.
"Habis ini kita mau kerja apa kar, Gua gak mau jadi pengangguran, kalo cuma duduk sambil bengong, mending pulang kampung gua bisa berduaan sama Namira." Saut Narmo lemas.
Sekali lagi, Namira adalah ayam kesayangan Narmo yang dia tinggal di kampung.
__ADS_1
"Aku bertemu teman lama, ya gak lama-lama amat, katanya dia punya pekerjaan."
"Serius lu.... Jadi manager kah ? Atau direktur kah ?."
"Mungkin tidak sebegitu hebat, tapi cuma buat satu orang."
"Lah.... Terus gua gimana ?." Narmo terlihat murung.
"Tenanglah Mo, gua nanti tanya siapa tahu ada lowongan lain buat kau."
Askar melihat ponsel butut dari mantan veteran, dia sendiri mungkin sangat jarang membuka isi di dalam ponselnya. Seperti tidak ada alasan untuk melihat layar bergambar putih polos, tanpa notifikasi pesan masuk atau pun panggilan dari orang lain kecuali pesan operator langganan RBT.
Tapi kali ini sungguh sebuah kejutan yang menarik, mata Askar tertuju ke gambar kecil bentuk surat di pojok kiri atas layar ponsel putih polos.
Ada 3 pesan masuk, yang dua di antaranya hanya sebatas pesan peringatan dari pusat operator menawarkan kuis berhadiah dan pesan notifikasi bahwa masa aktif kartu anda akan memasuki di masa tenggang, segera isi pulsa untuk mendapatkan hadiah.
Hadiah itu sendiri, hanya sebuah pengalihan isu agar orang lain tertarik untuk tetap menggunakan layanan operator milik mereka.
Tidak peduli soal kasus PHK, walau esok hari entah apa yang akan mereka makan, hanya karena satu buah pesan sms dari seorang wanita.
Wanita itu kawan lama masa kecil, cinta pertama yang sebatas saling suka dan saling pandang, teman satu kampung, termasuk juga sahabat dari Narmo.
'Gimana kabar Lu kar, gua denger Lu di Jakarta sama si Narmo, mampirlah sini di tempat gua.'
Itu yang tertulis dengan emote kepala botak tersenyum.
Sungguh indah bukan buatan, sebuah pesan singkat dari nama kontak Zizah Rohimah membuat Askar bisa melupakan betapa kesalnya dia karena PHK.
"Ia, aku sama Narmo di Jakarta, nanti aku mampir kapan-kapan."
__ADS_1
Namro melihatku yang tertawa sendiri, ekspresi wajahnya terlihat bingung, menggambarkan kalau ada yang aneh dengan apa yang di lihatnya.
"Gila benar dah, gara-gara di pecat aja buat Elu cengengesan sendiri, masih waras lu, kar ?."
Tidak Askar perduli perkataan dari kawannya, Narmo, karena lelaki lugu itu tidak pernah tahu seperti apa ajaibnya sebuah pesan dari seorang wanita.
Walau itu sebatas beberapa kata di dalam SMS, dan Askar bersyukur bisa merasakan kehebatan Teknologi yang orang kampung jarang tahu. Bahkan seorang lurah di kampung mereka saja tidak tahu apa itu ponsel.
Orang berumur sudah 50 tahun menghitung jumlah anggaran desa hanya menggunakan sempoa, pak lurah desa pakulaut, Bapak Amirudin tidak percaya dengan namanya kalkulator.
"Itu alat membuat bodoh bangsa, kita terjajah teknologi, malas menghitung, terlalu bergantung, sungguh mengecewakan."
Cetus Lurah Datol dengan membawa sempoa di tangannya dan selembar kertas tentang seluruh data pembangunan kampung.
Tapi hebatnya, hingga perhitungan yang begitu sulit tentang data masuk, perbaikan infrastruktur, perencanaan pengaspalan jalan, pembanguan jalur pengairan sawah dan lainnya di ubahnya bagaikan membalikan tangan, ajaib bukan asal tebak.
Tapi untuk Askar sekarang memikirkan persoalan lurah yang periode jabatan hampir habis pun tidak menjadi masalah, karena pasti Pak Amiruddin lagi menjadi lurah, menang telak tanpa perlu menghitung hasil suara coblosan, karena satu-satunya yang masih ingin menjadi lurah di kampung kecil dengan bayaran seikhlasnya hanya beliau.
Tentu tidak ada yang tergiur, bahkan tidak perduli, sedikit hal yang di ketahui tentang Pak Amiruddin adalah menjadi lurah berpangkat memimpin desa, terlihat keren dengan jas dan dasi, kemeja kotak-kotak merek pasar Margasari termasuk cita-cita beliau sejak SD.
Sedangkan untuk orang seperti Askar, dia pun tidak begitu perduli dengan urusan pembangunan, asal desanya tenang dan damai, itu saja sudah cukup.
Kembali ke permasalahan soal PHK.
Karena tidak ada yang bisa di perbuat oleh Narmo dan Askar, gajian di bulan dan di PHK secara sepihak, uang itu hanya cukup untuk makan wartegan dengan lauk ala kadarnya. Pertengahan bulan nanti digantikan oleh mie bungkus sebagai penyambung hidup.
Dan juga, untuk seorang perantau yang tinggal di sebuah kontrakan kumuh seperti mereka tidak ada sisa uang lantaran habis membayar sewa.
Satu-satunya pilihan nanti adalah berhutang, tentu Askar lebih memilih berhutang dan membayar di hari nanti setelah mendapat pekerjaan baru.
__ADS_1
Melamunkan banyak hal, Askar teringat perkataan temannya Beny yang menyuruh untuk datang ke tempatnya berkerja di terminal Kali Deres.
Tidak perlu pikir panjang karena Jakarta tidak pernah memikirkan seseorang yang kerjanya cuma melamunkan hal tidak berguna, terutama tentang pemilihan lurah desa yang tidak ada sangkut pautnya soal kesengsaraan para perantau seperti mereka.