Jakarta Di Hari Ini

Jakarta Di Hari Ini
Tekanan batin


__ADS_3

Malam telah datang, Askar dan Narmo berjalan di pinggiran kali Daan Mogot dengan wajah lemas.


Menjadi seorang selesman itu mendapatkan tekanan batin yang sangat hebat, bagaimana tidak, jika tidak ada sebiji pun piring yang terjual, maka pendapatan mereka hanya sekedar lelah dan kemudian menunggu datangnya surat PHK.


Tidak peduli kalau mereka baru berkerja 3 hari saja, tanpa ampun, tanpa pula diberi kemuliaan, dimana dalam logika bisnis, seorang manusia yang tidak menghasilkan keuntungan, hanya menjadi kerugian. Karena mereka bukan badan amal atau panti asuhan yang secara suka rela membiayai hidup orang lain.


Sungguh kehidupan Askar dan Narmo sudah seperti gelandangan dan raut wajah yang di tunjukan oleh mereka tidak seperti hari pertama datang ke kota Jakarta. Penuh semangat, penuh antusias tinggi, rasa percaya diri dan mampu menaklukkan dunia.


Tapi sekarang Narmo atau pun Askar


bagaikan super hero yang diberitakan kalah dan di telanjangi oleh musuh tanpa tersisa selembar ****** ***** kebanggan mereka lagi.


Askar dan Narmo duduk di sebelah pedagang kopi keliling yang menjadi langganan mereka setiap malam.


Udara malam yang dingin di musim hujan bulan januari, asap kenalpot kendaraan tiada henti mengeluarkan karbon monoksida meracuni manusia dengan sombong, di tambah lagi suara klakson kendaraan dalam kemacetan begitu tamak berebut jalan. Semua itu menghancurkan ketenangan pikiran dari kepenatan hidup di kota besar ini.


Askar tidak habis pikir, betapa bodoh manusia selalu beranggapan bahwa hidup semudah seperti yang mereka kira, di kota ini, manusia akan selalu menjalani hidupnya dengan usaha mereka sendiri.


Tidak ada kebahagiaan datang hanya karena kita berdoa dan terus berdoa, mengulangi doa mereka yang sudah di panjatkan dari solat subuh hingga maghrib tanpa berfikir untuk menciptakan kebagiaan mereka sendiri.


Askar atau pun Narmo bukanlah tokoh protagonis sebuah sinetron malam di mana orang miskin bisa mendapatkan keajaiban di dalam bungkus kopi dan mendadak menjadi milyuner.


Jika memang ada, para tukang kopi di pinggir jalan sudah menjadi milyuner karena kopinya itu ataupun setiap orang tidak perlu bekerja keras, tinggal duduk manis sembari meminum kopi dan berharap di dalam bungkusnya terdapat lambang emas bergambar mobil.


Ironis sekali.

__ADS_1


Tapi dunia masih memegang teguh logika sederhana, yaitu sebab dan akibat, dan juga Hidup ini adalah kenyataan, kepahitan akan tetap pahit jika kita tidak menambahkan gula di dalam cangkirnya.


"Sungguh menyebalkan." Gumam Askar sendiri.


Merenungi nasib di pinggiran sungai gelap berbau busuk, lebih busuk dari toilet umum dan juga gumamnya itu adalah untuk dirinya sendiri yang selalu berpikir kalau pekerjaan sebagai selesman memang menyebalkan.


Tidak pernah berpikir kalau kebahagiaan itu sederhana, bahkan jika di gambarkan menjadi seorang aktor bintang di film hidayah, mungkin Narmo adalah orang yang selalu medapatkan cobaan, dari mulai ibu meninggal, keluarga berantakan, tidak ada yang saling perduli, tidak di anggap keluarga, penyakitan, jatuh miskin, banyak berhutang, di kejar penagih, hidup mengontrak, tidak bisa bayar, di usir, hidup menggelandang, sakit semakin parah kemudian mati, tamat.


Mungkin sutradara akan memberikan tawaran menjadi bintang film kepada Narmo jika memang akan di buatnya film seperti itu, karena wajah lelaki udik ini seperti menggambarkan kriteria tokoh utama.


Askar mengangkat cangkir plasik berisi sebuah kebenaran berwarna hitam ke arah bibir dan meminumnya perlahan, sebuah rasa yang benar-benar nyata, bukan kepalsuan atau pun penipuan, kemudian menghembuskan uap hangat setelah satu tegukan, memandang langit tanpa bisa melihat apa pun di atasnya, hanya gelap dan gelap, sungguh...


"Pahit." Gumamnya.


"Sepahit kehidupan ini, benar begitu kawan." Lanjut Narmo.


Memperhatikan sekeliling, melihat beberapa pasangan lewat dengan tatapan menyedihkan ke arah Askar dan Narmo, mungkin di dalam pikiran mereka mengatakan.


"Kasihan amat, malam minggu begini beduaan di taman ama laki, tuh ada pedagang gorengan, janda anak tiga, ajak pacaran aja biar elu-elu pada gak suram."


Sungguh panjang makna tatapan mata lelaki yang lewat dengan tangan saling berpegangan, setidaknya itu memang kenyatan kalau mereka tidak punya pacar.


"Elu pacaran paling lama satu munggu kemudan putus, selesai ." Askar balas tatapan mata itu, dengan tatapan lain seperti saling beradu telepati.


Bahkan jika Askar mendekati pedagang gorengan janda anak tiga itu pun bukanlah untuk mengajak berpacaran, namun sekedar membeli beberapa cemilan untuk menemani kesendirian kopi hitam yang sudah membeku menahan dinginnya kesepian.

__ADS_1


Melihat kembali ke sekeliling, semua tampak mengejek, mereka melangkah, dada di tegapkan menyombongkan pakaian spesial yang di beli waktu lebaran dan baru di pakai sekarang, bahkan lebel merek dan harga yang tercantum itu masih melambai.


Langit gelap di atas kepala, betapa gelap angkasa yang mungkin karena atmosfir sudah terselimuti tebal asap kenalpot perkotaan. Askar tidak bisa melihat hal yang bisa membuatnya sedikit bahagia, walau itu sedikit, hal itu mungkin mengobati hatinya yang selama ini di penuhi hal tidak berguna tentang persoalan kehidupan.


Mereka berdua sudah memutuskan untuk pergi ke kota ini demi masa depan cerah, tidak ada tombol reset atau lambaikan tangan ke arah kamera agar semua berakhir.


"Mo, kita ini tidak lahir dari orang kaya, bukan anak juragan, bukan juga anak pejabat."


"Ya... Memang begitu. Elu gak perlu ngomong juga gua tahu."


"Tapi ingat Mo, kita dari lahir sudah hidup dalam kerasnya perjuangan orang miskin."


"Apa perlu sombong gara-gara kita miskin."


"Bukan gitu konsepnya, tapi... Ya, hanya karena kita kena PHK, bukan berarti perjuangan kita berakhir, kita harus semangat, jangan menyerah."


Kehidupan baru yang Askar jalani sekarang, dia mendapatkan berpuluh pelajaran, terutama tentang sebuah kebanggaan menjadi orang kampung.


Sepahit kehidupan di kampung hanya sebatas terpikir hutang di warung sembako dan separah sakit hanyalah sakit borok dan masuk angin, besoknya sudah siap untuk berkubang lumpur sawah lagi bahkan menaklukkan dunia.


Tidak ada yang lebih baik dari hidup di kampung.


Tapi menjadi manusia yang hidup di Jakarta berselimut barang sisa pembuangan dari tempat sampah, sakit yang begitu komplit, kusta, borok, masuk angin, ayan, struk, paru-paru basah, gagal ginjal, maag, tipes dan lain sebagainya menggunung di dalam tubuh penuh dengan bahan kimia karena terlalu sering menghisap asap kenalpot busuk dari bus kopaja.


Pahit benar-benar pahit.

__ADS_1


Sekali lagi, selesai solat di masjid megah nan indah Askar meneteskan air mata karena menahan rindu kampung halaman dan tak lupa pula mengirim doa untuk ibunya agar sehat selalu.


__ADS_2