Jakarta Di Hari Ini

Jakarta Di Hari Ini
Perjalanan hidup


__ADS_3

Sedikit memperkenalkan diri tentang sesosok lelaki kampungan bernama Askar.


Orang seperti Askar sering di jumpai di pinggiran jalan kota Jakarta, ibaratkan saja sekilas saling bertatap mata dengannya, maka hanya butuh 3 menit, tidak kurang dan tidak lebih, maka siapa pun akan lupa begitu saja.


Mungkin ada sedikit kelebihan, namun itu hanya sebatas keahlian Askar yang cukup mudah mengakrabkan diri dengan setiap orang. Karena memang kepiawaiannya dalam bicara adalah keahlian penting yang dia asah ketika bekerja sebagai seller piring anti pecah.


Hanya saja, kemampuan ini bisa di bilang percuma, jika dia gunakan di kota Jakarta, karena Jakarta bukan tempat untuk orang saling mengakrabkan diri, karena jika Askar salah pilih teman, maka akan terjerumus lah dia ke dalam lubang hitam kejahatan.


Tapi di saat Askar bertemu dengan Bapak Warju selaku supir kopaja jurusan kalideres - grogol, dia lebih sering diberikan banyak pembelajaran hidup oleh sang perantau senior tersebut.


Menceritakan betapa Pak Warju itu memperjuangkan kehidupannya di kota Jakarta, ini tidaklah main-main, ibarat film dokumenter, tentu sudah masuk kedalam box office layar lebar.


Perjalanan Warju di awali dengan kesungguhannya demi mengubah takdir kesengsaraan dari keluarga miskin.


"Kau tahu tong, aku merasa bahwa Jakarta itu, hebat luar biasa, gedung-gedung tinggi, berkilauan, banyak mobil, orang berjas dan dasi, dan kau tahu yang lebih hebat..." Ucap Warju dengan penuh kebanggaan.


"Apa itu pak."


"Aku bertemu presiden sedang pawai."


"Woooaaahh..." Askar terkagum, bahkan dia pun tidak pernah melihat presiden lewat sampai hari ini.


"Tapi semua tidak seperti yang aku bayangkan, ternyata dibalik gemerlapnya kota Jakarta, ada banyak pula orang jahat di dalamnya, aku sendiri jadi korban dan hampir tewas. Untung saja Gusti Allah masih memberi kesempatan untuk bapak ini selamat." Ujarnya dengan wajah penuh kerumitan.

__ADS_1


Warju sudah banyak melakukan pekerjaan, dari mulai Asongan, tukang semir sepatu, kuli panggul, kuli bangunan, pramusaji di warung Mak Wajem, hingga dia harus berkubang lumpur di kali pinggir jalan yang terkenal kehitamannya dan baunya bisa menjadi obat mujarab sebagai pertolongan pertama saat ada yang kesurupan pun, pernah Warju lakukan.


"Memang tidak ada hal yang mudah untuk hidup di kota Jakarta, tapi selama kita percaya bahwa Gusti Allah itu maha adil, suatu hari nanti pasti ada jalan keluar dari semua kesulitan." Ditepuknya pundak Askar dengan senyum lugu di wajah keriputnya.


Hingga sekarang, orang-orang mengenal sosok Warju sebagai pendiri sebuah komunitas perantauan jawa yang biasa di sebutnya PAPERJA, pak Warju pula yang mengajak Askar untuk bergabung.


"Jakarta itu tidak lebih seperti alam liar, siapa yang kuat dia yang menang, tapi itu bisa di ubah oleh kita, karena aku beranggapan, tidak perduli seberapa kuat Jakarta, asalkan kita bersatu dan saling membantu maka kerasnya kehidupan di Jakarta mungkin sedikit lebih ringan."Menurut Bapak Warju dengan memandang serius dan mengepalkan tangannya.


Warju adalah seorang perantau yang sangat sulit di temukan di Jakarta ini, bahkan tidak bisa di temukan di dalam buku sejarah pahlawan kemerdekaan.


Warju itu tipe yang selalu ingin memperbaiki sesuatu, dari permasalahan keluarganya, permasalahan masyarakat, permasalahan perantauan dan termasuk masalah rasa kemanusiaan yang sudah kritis oleh ketidakadilan.


Dia memiliki cita-cita hebat, bukan sebagai presiden karena menurutnya presiden itu hanya sibuk di balik meja dan ruangan ber AC. Namun tidak pernah tahu seberapa sakitnya masarakat yang menunggu presiden menepati janjinya bahkan hingga berganti periode yang baru dan mengemukakan janji baru mereka untuk menjabat presiden lagi.


Tapi Askar tetap melakukan kewajiban yang masih sebagai seorang juru parkir di terminal, sering kali melihat betapa ramah sosok Warju dengan para sopir lain di sekitarnya, bahkan menurut Askar sendiri warju tidak menganggap setiap supir Kopaja lain adalah saingan.


Mereka adalah teman yang sama-sama mencari rezeki di jalanan sebagai seorang supir bus Kopaja, walau pun begitu Warju tetaplah Warju. Sosok yang di tunjuk sebagai salah satu pemimpin paguyuban, membuat dirinya tegas dalam melakukan tugas, tidak perduli siapa yang salah, di mata warju salah tetaplah salah dan benar adalah benar.


Sedikit cerita tentang ketegasan Warju adalah ketika dia melihat seorang anggota paguyuban memprovokasi temannya, hanya karena saling ejek masalah pangkat. Padahal mereka berdua itu tidak lebih dari seorang kuli bangunan yang salah satunya baru di angkat dari pengaduk semen menjadi pemasang bata.


Permasalahan sepele seperti itu pun terkadang membuat ricuh paguyuban, hingga sering di adakan rapat darurat untuk memutuskan jalan keluar permasalahan dari mereka berdua dan yang menjadi penengah atau moderator adalah warju sendiri.


Maka dari itu Askar dan Narmo bermaksud untuk datang ke paguyuban PAPERJA. seperti sebuah tempat pengurusan partai, bendera berlambang topi sawah, arit dan cangkul berkibar di gerbang depan sebuah rumah kontrakan.

__ADS_1


Melihat ke dalam ada beberapa alas tikar sudah tertata rapi dengan para anggota yang berdiri memandangi kami berdua saat masuk.


Askar dan Narmo seperti di sambut dengan karpet merah, sebuah lambang kehormatan untuk tamu penting memasuki mimbar paguyuban Perantau Jawa ini, tapi tidak di pungkiri mereka berua seperti anak kampung pada umumnya yang malu dan juga bingung.


Hanya berjalan dengan wajah kaku terkagum-kagum, melihat betapa ramai anggota yang bertepuk tangan menyambut Askar dan Narmo beserta karangan bunga yang di kalungkan ke leher mereka.


Sedikit Askar membaca suasana yang mungkin terlihat begitu ramai dan bahagia, tapi dari sudut pandangnya sendiri, ada beberapa orang yang menunjukan ekspresi aneh.


Salah satunya saat bertepuk tangan tanpa melihat ke arah kami dan tersenyum kecut, di dalam hati Askar membaca raut wajah orang itu yang bermakna.


"Siapa lagi orang udik ini, mukanya itu mirip kali dengan beruk yang belum makan dua hari."


Ada pula orang yang sedang tertawa dengan membuang muka dan bertepuk tangan pelan, itu bisa diartikan sebagai..


"Sudahlah Elu pulang sana ke kampung, Jakarta sudah banyak orang seperti elu berdua yang tampangnya mirip beruk di tambah lagi Elu datang ke mari, sempit dah Jakarta ini ."


Entah kenapa di dalam pikirkan Askar orang yang mengekspresikan wajahnya selalu bermaksud mencela orang seperti mereka, tapi satu orang lagi yang bertepuk tangan keras, kencang dan tersenyum dengan menggigit bibir bagian bawah, itu bermakna.


"Mau sampai kapan Elu pada berdiri, cepat duduk kaki gua udah pegel, gak tahan ."


Untuk beberapa alasan Askar berada di tempat paguyuban ini, salah satunya adalah dia ingin memperluas pengetahuannya tentang Jakarta, karena semakin banyak informasi yang dia dapatkan, semakin besar pula kesempatannya untuk mengubah nasib kehidupan ini.


Jika pun informasi itu terdapat di tempat sampah yang bau tengik, tidak mengubah harga dari sebuah pengetahuan.

__ADS_1


__ADS_2