
Jika aku berada di kampung setiap hal berasa memiliki keunikan tersendiri, atau juga sebuah karakteristik yang tidak mungkin ada di dalam hidup orang kota.
Contohnya...
Seluas apa pun sebuah kampung tidak lebih lebar dari daun kelor, kenapa Askar bisa bilang begitu, misalkan saja dia tersesat di ujung kampung nan jauh terpelosok hingga melewati sungai, dan hutan (sebenarnya kisah nyata ).
Bertemulah dia tanpa sengaja dengan seorang pak Tani ketika berjalan pulang dari sawah, baju pak Tani terlihat kotor dan kumal penuh lumpur, sedangkan cangkul di pundaknya bergoyang-goyang mengikuti langkah kaki saat berjalan.
Mendengar suara isak tangis yang dianggapnya sebagai penunggu hutan, tapi nyatanya pak tani bertemu seorang bocah lelaki sedang menangis karena tidak tahu jalan pulang, padahal itu masih satu kampung.
Tidak perlulah bertanya soal alamat rumah atau pun KTP, karena mustahil anak kecil tujuh tahun memilikinya.
Cukup satu pertanyaan saja.
"Tong, bapak kamu siapa ?." Ucap pak Tani.
Itu sudah cukup menjadi petunjuk dari informasi untuk mengantarkan dia pulang ke rumah.
"Oh, bapakmu itu saudara jauh si mbah ini." Begitu tanggapan pak tahu saat tahu nama bapak anak kecil tersebut.
Padahal mereka berdua tidak saling kenal, entah siapa nama orang tua yang mengantar dia kembali ke rumah pun masih misterius. Tapi cuma nama seorang bapak mereka, itu menjadi hal ajaib dan nyata terjadi.
Sungguh sempit kehidupan manusia di dunia perkampungan, saling terikat tali persaudaraan yang berasal dari garis keturunan nenek moyang pun masih menjalin hubungan silaturahmi.
Jauh berbeda dari pada hidup di kota Jakarta, meski mereka bertanya ke sepuluh orang di pinggiran jalan sekali pun, terkadang harus berakhir tersesat pula.
Terlebih lagi jika ada orang yang bertanya arah saja kepada seorang pejalan kaki, yang terlihat begitu senang karena membawa sekantong beras raskin hasil pembagian di rumah RT, cukup satu pertanyaan saja.
__ADS_1
"Pak, apa benar ini jalan ke arah kelurahan ." Cukup simple bukan, tapi jawaban yang di terima begitu komplit.
"Ia benar Nak, tinggal lurus saja setelah itu ada perempatan belok ke kiri, sedikit saja, tapi kalau tidak salah di sana ada pembangunan halte, jadi sebaiknya sebelum perempatan ada gang masuk sedikit, kemudian belok ke kanan tinggal lurus. Tapi misalnya bingung setelah sampai gang, tanya saja sama orang sekitar pasti akan di beri tahu, tapi ingat jangan ngebut, banyak anak kecil nanti celaka." Ujarnya lengkap.
Mereka akan mendapatkan semua jawaban itu secara cuma-cuma. Bahkan jika sedikit beruntung mereka akan di ajak ke warung kopi terdekat dan menceritakan kisah lainnya, hingga satu kertas polio penuh dengan petunjuk arah dan hanya perlu mengangguk mendengarkannya, sungguh rumit sekali hidup di perkotaan.
Tapi memang benar sebuah kampung, memiliki kekeluargaan yang begitu erat, kita asal bertanya saja seperti terhubung satu sama lain, asal mengaku saudara.
Entah saudara jauh dari nenek moyang nya pasti menjadi ikatan garis keturunan yang hebat, di bangga-banggakan padahal tidak ada yang hebat dari saudara jauhnya itu.
Sekedar saudara satu Nabi Adam sudah menjadi satu ikatan silaturahmi untuk orang di perkampungan.
Tidak ada yang lebih unik dari sebuah kampung, tentang berita sekali pun para ibu-ibu yang sering membeli sayur di sebuah warung samping pos kamling. Selalu up to date dalam menyampaikan berita terbaru.
Masalah tentang orang yang jatuh ke sawah tadi pagi gara-gara salah menyulut rokok, sungguh bisa dalam waktu 1 jam setelah kejadian langsung, itu akan menyebar hingga separuh kampung tahu.
Memang merepotkan jika ada tetangga di sekitar yang terkena kejadian, entah itu akibat dari salah menggunakan sendal kiri semua, rasa malunya tidak akan hilang selama 3 minggu.
"Wah sudah besar kau Tong, berasa baru kemaren kau itu keluar dari perut emak kau, sekarang sudah mau lulus sekolah saja." Kata seorang tante-tante yang mampir saat lebaran Syawal.
Padahal 10 tahun lebih merantau ke jakarta dan baru pulang kemarin, tapi sebuah keadaan juga sering bertolak belakang dengan waktu.
"Sungguh kampungan benar desa ini, dari dulu tetap saja hutan, napa tak ada supermarket di sini."
Walau sudah 10 tahun terlewati tapi tetap saja tidak ada yang berubah, Mushola Al Muhajirin tetap seperti dulu, dengan karpet hijau berdebu yang hanya di jemur setahun sekali sebelum solat idul Fitri.
Pak lurah Dotol yang masih saja sama dengan sempoa kunonya, tetap mudah beliau menghitung cepat bahkan mampu mengalahkan kalkulator milik warung kopi sebelah, itu terjadi saat menghitung pemborong kopi untuk acara rapat rekap penghasilan daerah.
__ADS_1
Termasuk ayah Askar, Sopian yang masih saja sibuk membaca buku cerita dongeng buatannya sendiri antara Ikan pitak dengan ikan gabus.
Sungguh semuanya tidak akan terpengaruh oleh putaran waktu, entah sepuluh atau dua puluh tahun ke depan semua itu akan terus berjalan seperti dulu, tidak ada yang berubah.
Sedangkan sebelumnya...
Askar sudah bertemu dengan Warju, melihat sosok legendaris itu menatap dengan raut wajahnya seperti orang yang sedang menghitung biji kuwaci satu persatu untuk di jual ke pasar burung.
Bapak Warju tampak sedikit berpikir serius, beliau sedang mengingat rupa wajah seseorang yang sedikit mirip dengan tampang seperti Askar.
Mungkin juga di dalam pikiran Bapak Warju menyamakan sosok wajah dekil orang kampungan yang dia lihat seperti seekor beruk pemetik kelapa. Itu adalah Askar saat berlarian untuk memarkirkan setiap Kopaja.
"Tong kowe perantauan dari mana ?." Tanya Warju.
"Tegal pak, " Jawab Askar dan melihat alis Bapak warju terangkat ibarat mendapatkan pencerahan di dalam hidupnya.
"Tegalnya mana ?."
"Desa pakulaut ." Semakin naik alis mata bapak Warju hingga ubun-ubun nya ditarik ke belakang.
"Kowe anaknya Bapak sopyan ."
"Bapak kenal Ayahku ?."
"Masya allah, saya itu masih saudara jauh bapakmu." Ungkapnya tertawa terbahak-bahak.
Memang benar adanya setelah Askar meneliti, mengingat serta berbincang dengan bapak Warju. Dia pun mulai ingat kalau Ayahnya pernah bercerita tentang saudara jauh yang merantau ke kota Jakarta bertahun silam.
__ADS_1
Mungkin ini pertama kali bagi Askar dia merasa dunia begitu sempit hingga bisa di pertemukan dengan seseorang yang sering menjadi bahan cerita sang Ayah untuk mengantarkannya tidur.
Askar selalu mengingat bagaimana sang ikan pitak harus berjuang mati-matian di dalam kolam ikan gabus, dan kini sosok ikan pitak mampu bertahan sampai sekarang.