Jakarta Di Hari Ini

Jakarta Di Hari Ini
Silaturahmi


__ADS_3

Langkah pertama Askar adalah mencari Masjid untuk melepas lelah dan solat Subuh, dimana jam dari ponselnya sudah menunjukan setengah lima pagi. Jalanan kota tampak sepi, hanya ada beberapa kopaja dan angkot yang masih berlalu lalang, atau pun baru saja keluar kandang untuk mulai beroperasi, mengambil start lebih awal demi mencapai target setoran.


Askar dan Narmo melirik ke kiri dan ke kanan, melihat banyak hal di sekitar mereka penuh kekaguman, karena jelas semua berbeda dari desa pakulaut. Dimana untuk sesaat Narmo diam memandangi layar televisi besar diatas gedung dengan gambar-gambar produk kecantikan.


"Apa yang kau lihat, ayo kita cari masjid."


"Tunggu sebentar, Gua bingung sejak tadi iklan mulu, acara sinetronnya belum muncul."


"Itu memang khusus iklan, jadi tidak mungkin sinetron tayang di situ."


"Oh gitu."


Menarik paksa sahabatnya, karena bisa berjam-jam Narmo melongo melihat artis di iklan itu. Kembali berjalan di pinggiran sungai, aroma tercium sangat menyengat dari tumpukan sampah yang macet.


Askar tahu perihal Narmo yang berjalan lemas dengan raut wajah rumit itu, karena dia harus meninggalkan Ibunya sendirian di desa, atau pun memikirkan Namira sudah makan atau belum. Walau berat hati, Narmo harus tetap menjalani kehidupan baru sebagai seorang perantau.


"Ro, setelah ini kita mau kerja apa ." Bertanya Askar.


"Gak tahu gua Coy ." Narmo menjawab dengan mengubah pengucapan kata Aku, nyong, kula, beta, kini menjadi gua.


Sungguh saat Askar mendengar ucapan Narmo, dia seperti ingin tertawa terbahak-bahak... "Kau tidak perlu ganti bahasa, tidak pantas tahu."


"Diam Elu." Ucapnya lagi dengan logat Tegal kental seperti mengatakan perkataan asing dengan sedikit jeda di tengah tenggorokan.


"Memang apa kau pikir dengan bicara elu, gua, elu, gua, kau sudah jadi orang kota gitu."


"Jangan salah Kar, ini namanya ber... ber... Ber reboisasi."

__ADS_1


"Emang kau mau bercocok tanam dimana, semua hanya ada aspal disini."


"Bukan itu, tapi agar kita bisa mengakrabkan diri dengan lingkungan."


"Itu namanya, silaturahmi."


"Oh iya gua lupa."


"Mana ada orang lupa sampai tidak bisa membedakan adaptasi dan reboisasi."


Setelah ratusan meter berjalan kaki di pinggiran sungai, pada akhirnya mereka menemukan masjid besar kubah emas dengan segala lampu terang kuning sendu menghiasi setiap sudut.


Bahkan jika disamakan dengan masjid di desa Pakulaut, lima kali lipat lebih besar dan lebih luas. Askar atau pun Narmo seperti melihat tempat luar biasa indah dari sekian gedung di sekitar jalan. Narmo hampir terjungkir ketika dilihatnya menara yang menjulang tinggi puluhan meter.


Sesaat sebelum masuk, seperti biasa mereka melepaskan sandal jepit kusam di garis suci, dan hebat bukan buatan, ketika langkah kaki masuk ke sebuah kolam yang panjang sebagai pembatasnya.


Seorang dengan peci putih, sorban yang melingkar hingga menutupi leher dan baju koko setelan panjang sampai lutut, datang dengan membawa tongkat pel menyemprot mereka berdua sejadinya.


"Loe pikir bisa seenaknya sendiri masuk dengan pakaian kotor, lecek, dekil dan kusam dasar orang kampung, ini tuh tempat suci loe tahu ."


Askar tidak bisa membantah ucapan dari pak ustadz itu, karena memang benar mereka adalah orang kampung yang baru datang ke Jakarta. Tapi ajaibnya Bapak Ustadz ini bisa menebak dengan tepat sekali. Askar sendiri sempat berpikir kalau dia bukan ustadz biasa, paling tidak sudah khatam Al Qur'an tiga kali sehari, dan memiliki ilmu kebatinan tingkat tinggi. Sungguh tidak bisa di anggap remeh aura kewibawaan beliau.


"Kalau elu-elu pada cuma mau main air, tuh sebelah ada kali, kalian bisa berenang di sana."


Mendengar perkataan dengan logat Betawi yang cepat dan tegas, sudah terlihat kalau bapak ustadz berpeci ini sangat tidak suka melihat kelakuan mereka yang kampungan dan tidak tahu adat.


Main masuk ke rumah Allah sang maha pencipta, tanpa melihat penampilan mereka sekarang. Askar merasa malu, Narmo pun malu-maluin, karena sempat berpikir jika dia bertemu pak presiden pastinya menggunakan pakaian terbaik. Baju baru lebaran yang disimpan layaknya benda pusaka, bandrol harga pun masih terikat tanpa mau dilepas. Tidak lupa juga dia semprot parfum mahal, non alkohol dan berkhasiat. Padahal yang mereka temui sama manusia, makan nasi pula.

__ADS_1


Tapi sekarang, mereka berada di rumah sang maha pencipta jagat raya dan seisinya. Jangankan menggunakan pakaian pantas, Askar hanya menggunakan kaos lusuh, celana kotor, semerbak aroma kambing di seluruh badan, dan belum mandi pula.


"Apa di desa kalian tidak mengajarkan kebersihan adalah sebagian dari iman. Tuh tulisannya ada. Bau kalian seperti kambing yang mau di sate." Sekali lagi, pak ustadz menyemprot sejadinya dan membuat Askar serta Narmo tertunduk patuh.


Askar tidak bergeming, tidak hanya kebatinannya pula yang hebat, karena tahu mereka dari desa dan habis membawa kambing. Indra penciuman pak ustadz pun sangat tajam. Bukan main.


"Kalau begitu kami permisi mau ganti baju dulu pak ." Askar sopan mengatakannya.


Mengambil tangan pak ustadz dan menciumnya sebagai bakti kepada orang yang lebih tua. Walau kemudian di cium tangan bekas jabatan dari tangan mereka kemudian dia usapnya ke baju lantaran bau tidak nyaman.


Askar masih berpikir positif, dia anggap, mungkin karena pak ustad baru selesai mengepel lantai masjid megah nan mewah seorang diri, dan tangannya sedikit kotor. dalam hati Askar terkagum.


'Sungguh mulia pengabdiannya.'


Namro yang selesai menggunakan baju terbaiknya, yaitu sebuah kemeja lengan panjang bertuliskan 'Pemuda Masjid Al Muhajirin' dan celana hitam kepunyaan almarhum bapaknya yang digunakan waktu ijab kobul dengan Mak Kijah.


Sedangkan Askar dengan baju kemeja yang ditambah jas almamater wisuda sekolah SMK negeri 01 Tonjong, celana hitam sama kepunyaan bapak, tapi bukan waktu ijab dengan ibunya, melainkan hadiah jalan santai karnaval agustusan.


Melangkah tegap dengan penuh wibawa karena akan bertemu dan berbincang langsung dengan sang pencipta lewat sholat subuh berjamaah bersama. Aroma berbeda dari masjid kecil dari desa mereka yang sedikit apek lantaran karpet alas sujud jarang di jemur, tidak pengharum ruangan, kipas angin apa lagi AC di sekelilingnya.


Di dalam sujud itu ada perasan tidak nyaman bagi Askar, dia tidak mencium aroma apek seperti karpet masjid desanya.


Seakan dibawa ke dunia lain yang begitu indah, tapi hati sedikit terganjal dan membuatnya sedikit terusik. Seusai solat dia sadar. Entah sejelek apa masjid di desanya itu. Entah sebobrok apa atap yang bocor kalau hujan. Entah seapek apa karpet yang dia gunakan saat sujud.


Sebuah perasaan aman, perasaan damai dan perasaan dimana dirinya bahagia ketika bersujud tidak tergantikan. Masjid kecil itulah yang menjadi tempat Askar menimba ilmu keagaman dari awal mengenal alif, ba, ta, sya, hingga khatam al Quran. Dan mengusik hatinya adalah rasa rindu.


Sungguh aneh untuk mereka, karena baru beberapa jam dia tidak mencium apek karpet masjid Al Muhajirin. Itu sudah membuatnya rindu kampung halaman. Terutama adalah tidak mendengar suara syahdu saat amin nan panjang dari Pak ustad Tonali.

__ADS_1


Mungkin perasaan yang sama juga di rasakan oleh sahabatnya Narmo, air mata itu adalah tanda kerinduan sebuah tempat yang memberi hal bahagia, yaitu desa pakulaut, tempat tercinta di desa terpencil jauh di tanah antah berantah.


__ADS_2